"الله جميل يحبّ الجمال"

Allah Itu Indah, Mencintai Keindahan

Jumat, 23 Juli 2010

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928. bahasa negara sebagaimana disebutkan dalam UUD RI 1945 pasal 36, yang secara struktural merupakan varian dari bahasa melayu.

Secara historis, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa melayu, yang strukturnya maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu, seperti bahasa melayu klasik dan bahasa melayu kuno. Secara sosiologis, boleh kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap "lahir" atau diterima eksistensi pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara yuridis baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa kita itu secara resmi diakui adanya

B. Masalah atau Topik

1. Bagaimana sejarah bahasa Indonesia ?

2. Bagaimana perkembangan bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia?

3. Bagaimana hubungan bahasa melayu dengan bahasa Indonesia

C. Tujuan

Agar kita sebagai mahasiswa bisa memilih memahami tentang sejarah bahasa Indonesia, bagaimana perkembangan melayu menjadi bahasa Indonesia dan bagaimana hubungan antara bahasa mekayu dengan bahasa Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu. Bahasa melayu dipakai oleh sebagian besar penduduk di pulau Sumatra, Bangka, Riau, Samananjung Malaka, dan sebagian Pesisir kalimatan bahasa Melayu belah berabad-abad dipergunakan terbukti dengan ditemukannya prasasti-prasasti itu antara lain:

1. Prasasti kedukan bukti, bertanda tahun 683 M

2. Prasasti logis, bertanda tahun 692 M ditemukan Bangka

3. Prasasti karang birahi,bertanda tahun 692 M ditemukan dijambi

Sebelum masa penjajahan Belanda di Indonesia dan sebelum dan sebelum menjadi bahasa Indonesia, bahasa melayu sudah menyebar ke seluruh Nusantara sebagian bahasa para pedagang atau terasa perhubungan antar suku (lingua fanna)

Bahasa melayu pada masa penjajahan mempunyai mempunyai peranan penting, baik dalam pendidikan maupun dalam politik. Pemerintah Belanda selain mendirikan seolah dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Melayu. Sejak tahun 1900 mulai terbit surat kabar berbahasa melayu, dan perkembangan bahasa melayu pun bertambah maju. Pada tahun 1981 pemerintah Belanda mendirikan taman bacaan rakyat, dengan tujuan mengumpulkan dan menerbitkan bacaan dalam bahasa melayu. Pada tahun 1917 badan in diubah nama badai pustaka. Dalam bidang politik pun bahasa melayu mempunyai peranan penting. Budi Ciltano yang berdiri pada tahun 1908 menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa pengantar.

Kongres pemuda Indonesia I tahun 1926 bertujuan menyatukan berbagai organisasi pemuda yang ada padawaktu itu. Pada kongres itu, Mohammad Yamin dalam pedatonya menyatakan kenyakinannya bahwa bahasa melayu lambat laun akan menjadi bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pada tahun 1926 itu juga, Yong Java, organisasi pemuda terbesar pada waktu itu, menyatakan menerima bahasa melayu sebagai bahasa perhubungan dalam musyawarah-musyawarahnya. Dalam kongtes pemuda Indonesia II, Yong Sumatera memeutuskan memakai bahasa melayu sebagai bahasa persatuan. Penduduk yang menggunakan bahasa atau tidak secara serempak, memerlukan alat perhubungan yang memungkinkan semua warga masyrakat satuan politik itu bergaul dan bekerja sama. Arus Nasionalisme dan terbentuknya negara kebangsaan yang baru, menimbulkan Aspirasi pemilikan bahasa Nasional sebagai lambang kesatuan bangsa yang dapat mengukuhkan rasa kesetiaan politis. Pemerintah yang hendak berjalan dengan baik memerlukan bahasa resmi kenegaraan yang daapt dipakai oleh pemerintah itu dalam komunikasinya dengan rakyat dan oleh sesama warga negara yang menjadi anggota jaringan kebahasaan yang lebh luas. Komunikasi akan lebih lancar jika ada kesamaan bahasa sampai tingkat tertentu.

Pada bulan Juni tahun 1938 diadakan kongres bahasa Indnesia I dan menyederhanakan ejaan Ch.A.Van Ophoysen, sebagaimana yang diungkapkan ki Hajar Dewantara :

"Jang dinamakan 'bahasa Indonesia' jaitoe bahasa melajoe jang soenggoehpoen pokoknya berasal dari 'melajoe riau' akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah atau dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat diseloeroeh Indonesia, pembaharoean bahasa malajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia".

Dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustur 1945, bahasa Indonesia menjadi bahasa negara, sekaligus menjadi bahasa persatuan, bahasa resmi dan bahasa pengantar disekolah-sekolah seperti tercantum dalam UUD'45 Bab XV pasal 36. Dalam surat keputusannya tanggal 19 Maret 1947, No. 264 / Bhg.A, Menteri Pendidikan Pengajaran dan kebudayaan pada waktu itu, Mr. Soewandi menetapkan, menyederhanakan ejaan bahasa Indonesia. Ejaan baru tersebut disebut Ejaan Suwandi atau Ejaan Republik.

Kongres bahasa Indonesia II Tahun 1954, di Medan bertujuan menyempurnakan tata bahasa dan ejaan bahasa Indonesia. Isi kongres bahasa Indonesia II tersebut adalah :

"……………bahwa asal Bahasa Indonesia ialah Bahasa Melaju, dasar bahasa Indonesian adalah Bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat Indonesia". Pada tangga 17 Agustus 1972 ditetapkan berlakunya Ejaan yang disempurnakan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 20 Mei 1972, No. 031/A.1/72 dan dinyatakan resmi dipergunakan mulai tanggal 17 Agustus 1972 dengan surat Keputusan Presiden No. 52 tahun 1972.

Akhirnya, pada tanggal 28 Oktober 1978 diadakan kongres bahasa Indonesia III di Jakarta yang bertujuan memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam hubungannya dengan bahasa daerah dan bahasa Asing. Pada waktu itu semua organisasi pemuda daerah memutuskan untuk bergabung dalam satu persatuan umum seluruh Indonesia dengan Ikrar bersama yang terkenal dengan sumpah pemuda, yaitu :

Kini, 53 tahun setelah sumpah pemuda diikrarkan atau 36 tahun setelah UUD 1945 menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, Pemakaian bahasa Indonesia makin meluas dan menyangkut berbagai bidang kehidupan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan di Bab sebelumnya kami dapat mengambil kesimpulan bahwa Bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu yang sudah diubah, ditambah atau dikurangi menurut keperluan zaman dan alam baru sehingga bahasa itu mudah dipakai oleh rakyat Indonesia. Sebagaimana yang telah tersirat dalam sumpah PEMUDA 28 Oktober 1928 dan dalam UUD 1945 Pasal 36.

Perkembangan bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia melalui beberapa tahap/peristiwa sebagai berikut :

1. Kongres Pemuda Indonesia 1 tahun 1926. pada kongres itu, Mohammad Yamin dalam pidatonya menyatakan bahwa bahasa melayu lambat laun akan menjadi bahasa persatuan bangsa Indonesia

2. Pada tahun 1926, Yong Java menyatakan menerima bahasa melayu sebagai bahasa perhubungan dalam musyawarah-musyawarahnya.

3. Kongrs Pemuda Indonesia II, Yong sumatera memutuskan memakai bahasa melayu sebagai bahasa persatuan.

4. Pada bulan juni tahun 1938 diadakan kongres bahasa Indonesia I di Solo, yang bertujuan membicarakan dasar-dasar bahasa Indonesia dan mnyederhanakan ejaan Ch. A. Van Ophoysen.

5. Pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 bahasa Indonesia menjadi bahasa negara sekaligus menjadi bahasa persatuan, bahsa resmi dan bahasa pengantar di sekolah yang telah tercantum dalam UUD 1945 pasal 36.

6. Tanggal 19 maret 1947, Mentari pendidikan pengajaran dan kebudayaan, Mr. Soewandi dengan surat keputusannya No. 264/bhg. A, menetapkan, mneyederhanakan ejaan bahasa Indonesia.

7. Tahun 1954 diadakan kongres bahasa Indonesia II di Medan yang menyempurnakan tata bahasa dan ejaan bahasa Indonesia.

8. PadaTanggal 17 Agustus 1972 ditetapkan berlakunya ejaan yang tanggal 20 Mei 1972, No. 031/A.1/72 dan dinyatakan resmi dipergunakan mulai tanggal 17 Agustus 1972 dengan surat keputusan presiden No. 52 tahun 1972.

9. akhirnya, pada tanggal 28 Oktober 1978 diadakan kongres bahasa Indonesia III di Jakarta yang bertujuan menetapkan kedudukan dan kongres bahsa Indonesia dalam hubungan dengan bahasa daerah dan bahasa asing.

DAFTAR PUSTAKA

Tanjung, 1988, Bunga Rampai Ebtanas Bahsa Indonesia,Jakarta : PT. Intan Pariwara.

Kridalaksana, Harimurti, 1992. Pembentukan Kata Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Gramedida Pusaka Utama.

Moeliono Anton M. 1985. Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. Jakarta : Djambatan.

Effendi. 1995. Panduan Berbahasa Indonesia Dengan Baik dan Benar. Jakarta : Pustaka Jaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

mohon ... klo udah baca posting kami, jangan lupaaaaaaaaaaaa kasi komentar yaaa .... n saran konstruktif ....................


thanks yaa atas komentar kaliaaannnnnnnnnnnnnnn !!!!!