"الله جميل يحبّ الجمال"

Allah Itu Indah, Mencintai Keindahan

Senin, 19 Juli 2010

KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM

KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebelum abad ke VII M pendidikan dan kebudayaan islam mengalami masa kejayaan yang mana kejayaan tersebut adalah sebagai akibat dari berpadunya unsur-unsur pembawaan ajaran islam dengan unsur-unsur yang berasal dari luar sehingga berkembanglah berbagai ilmu pengetahuan.

Akan tetapi pada abad ke VIII M pendidikan dan kebudayaan islam tersebut mengalami kemunduran. Hal ini terjadi karena bangsa-bangsa Eropa berusaha untuk merembeskan kekayaan budaya islam ke barat, dan bersamaan waktunya dengan datangnya bangsa timur untuk menghancurkan dan memusnahkannya. Peristiwa mundurnya kaum muslimin dari Spanyol dan keruntuhan Baghdad dengan segala akibatnya adalah merupakan masa semakin memudarnya mercusuar kebudayaan islam.

Maka dari itu, kami merasa perlu untuk mengkaji kembali apa yang menyebabkan kemunduran pendidikan dan kebudayaan tersebut.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja faktor-faktor yang melatarbelakangi adanya kemunduran pendidikan islam?

2. Bagaimana dampak dari faktor-faktor kemunduran pendidikan islam?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Makalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan pendidikan dan kebudayaan islam itu menjadi mundur baik itu dari faktor eksternal ataupun faktor internal, dan bagaimana dampak dari faktor-faktor tersebut kepada masyarakat terutama kepada pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Masa Kemunduran Pendidikan Islam

Sepanjang sejarah sejak awal dalam pemikiran terlibat dua pola yang saling berlomba mengembangkan diri dan mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan pola pendidikan ummat islam. Kedua pola tersebut adalah : Pola pemikiran tradisional dan Pola pemikiran rasional. Pada pola pemikiran tradisional ini selalu mendasarkan diri pada wahyu, yang kemudian berkembang menjadi pola pemikiran sufistis dan mengembangkan pola pendidikan sufi yang sangat memperhatikan aspek-aspek batiniyah dan akhlak atau budi pekerti manusia. Sedangkan pada pola pemikiran rasional, mementingkan akal pikiran yang menimbulkan pola pendidikan empiris rasional yang sangat memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasan material.

Pada masa jayanya pendidikan islam, kedua pola pendidikan tersebut menghiasi dunia islam, sebagai dua pola yang berpadu dan saling melengkapi. Akan tetapi ketika pola pemikiran rasional diambil alih oleh Eropa dan dunaia islam pun meninggalkan pola berfikir tersebut. Sehingga tinggal pemikiran sufistis yang sifatnya memang sangat memperhatikan kehidupan batin yang akhirnya mengabaikan dunia material. Dari aspek inilah dikatakan bahwa pendidikan dan kebudayaan islam mengalami kemunduran.

Setelah kita mengetahui asas kebangkitan peradaban islam kini kita perlu mengkaji sebab-sebab kemunduran dan kejatuhannya. Dengan begitu kita dapat mengambil pelajaran dan bahkan menguji letak kelemahan, kemungkinan dan tantangan (SWOT). Kemunduran suatu peradaban tidak bisa dikaitkan dengan satu atau dua faktor saja. Karena peradaban adalah sebuah organisme yang sistematik, maka jatuh bangunnya suatu peradaban juga bersifat sistematik. Artinya kelemahan pada salah satu organ atau elemennya akan membawa dampak pada organ lainnya. Setidaknya antara satu faktor dengan faktor lainnya, yang secara umum dibagi menjadi faktor eksternal dan internal berkaitan erat sekali.

Untuk menjelaskan faktor penyebab kemunduran ummat islam secara eksternal kita rujuk paparan al-Hasan, faktor-faktor tersebut adalah :[1]

1. Faktor ekologi dan alami, yaitu kondisi tanah dimana negara-negara islam berada adalah gersang, atau semi gersang. Kondisi ini juga rentan dari sisi pertahanan dari serangan luar. Demikian pula di tahun 1347-1349 terjadi wabah penyakit yang mematikan di Mesir, Syiria dan Iraq. Karena faktor ini penduduk tidak terkonsentrasi pada suatu kawasan tertentu dan kepada pendidikan.

2. Perang salib yang terjadi dari 1096-1270, dan serangan Mongol dari tahun 1220-1300an. ”Perang Salib” menurut Bernand Lewis,” pada dasarnya merupakan pengalaman pertama imperialisme barat yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tujuan materi dengan menggunakan agama sebagai medium psikologisnya.

3. Hilangnya perdagangan islam internasional dan munculnya kekuatan barat. Pada tahun 1492 Granada jatuh dan secara kebetulan Columbus mulai petualangannya. Dalam mencari rute ke India ia menempuh jalur yang melewati negara-negara islam. Pada saat yang sama Portugis juga mencari jalan ke Timur dan juga melewati negara-negara islam. Disaat itu kekuatan ummat islam baik di laut maupun di Barat dalam sudah memudar. Akhirnya pos-pos perdagangan itu dengan mudah dikuasai mereka.

Meskipun barat muncul sebagai kekuatan baru, ummat muslim bukanlah peradaban yang seperti peradaban kuno yang tidak dapat bangkit lagi. Peradaban islam terus dan bahkan berkembang secara perlahan-lahan dan bahkan dianggap sebagai ancaman barat. Akan tetapi kolonialis melihat bahwa kekuatan islam yang selama itu berhasil mempersatukan berbagai kultur, etnik, ras, dan bangsa dapat dilemahkan yaitu dengan cara adu domba dan teknik divide et impera sehingga konflik intern menjadi tak terhindarkan dan akibatnya negara-negara islam terfragmentasi menjadi negeri-negeri kecil.

Menurut Ibnu Khaldun faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal dari pada eksternal. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral.[2]

M. M. Sharif dalam bukunya Muslim Thougt, mengungkapkan gejala kemunduran pendidikan dan kebudayaan islam tersebut sebagai berikut : “...... kita saksikan bahwa pikiran islam telah melaksanakan satu kemajuan yang hebat dalam jangka waktu yant teletak diantar abad ke VII dan abad ke XIII M. Selanjutkan diungkapkan juga bahwa sebab-sebab pikiran islam menurun dan melemah antara lain sebagai berikut :[3]

1. Telah berkelebihan filsafat islam (yang bercorak sufistis) Al-Ghazali di Timur dan berkelebihannya pula Ibnu Rusyd dalam memasukkan filsafat islamnya (yang bercorak rasionalistis) ke dunia islam barat. Sehingga Al-Ghazali dengan filsafat islamnya menuju kerohania hingga menghilang ke dalam maga tasawuf mendapat sukses di timur, dan Ibnu Rusd dengan filsafatnya yang bertentangan dengan Al-Ghazali dengan munuju ke jurang materialisme mendapat sukses di Barat.

2. Ummat islam, terutama pada pemerintahannya (khalifah, sultan, amir-amir) melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang mana pada mulanya mereka memberi kesempatan untuk berkembang dan memperhatikan ilmu pengetahuan dengan memberikan penghargaan yang tinggi kepada para ahli ilmu pengetahuan. Namun pada masa ini mereka lebih mementingkan pemerintahan, begitu juga dengan para ahli ilmunya yang telibat dalam urusan-urusan pemerintahan.

3. Terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar, sehingga menimbulkan kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan di dunia islam.

Itulah diantara atau beberapa faktor-faktor kemunduran pendidikan islam baik dari segi eksternal maupun internal yang dapat kami amati.

B. Dampak dari Faktor-Faktor Kemunduran Pendidikan Islam

Dari beberapa faktor yang telah dipaparkan diatas yang pasti ada dampak yang terjadi baik terhadap ummat islam itu sendiri dan terutama pada pendidikan yang mana dengan semakin ditinggalkanya pendidikan intelektual, maka semakin statis perkembangan kebudayaan islam, karena daya intelektual generasi penerus sudah tidak mampu lagi untuk mengadakan kreasi-kreasi baru, bahkan telah menyebabkan ketidakmampuan untuk mengatasi persoalan-persoalan baru yang dihadapi.

Dalam bidang fiqh, yang terjadi adalah berkembangnya taqlid buta dikalangan ummat. Apa yang sudah ada dalam kitab-kitab fiqh lama dianggapnya sebagai sesuatu yang sudah baku, mantap, benar, dan harus diikuti serta dilaksanakan sebagaimana adanya. Dengan sikap hidup yang fatalistis tersebut, kehidupan mereka sangat statis.

Ketika ummat islam mengalami kehancuran dan kemunduran dalam pendidikan terutama dalam bidang intelektual, maka pada waktu itu kehidupan sufi berkembang dengan pesat. Karena keadaan frustasi yang merata dikalangan ummat sehingga menyebabkan orang kembali kepada Tuhan (bersatu dengan Tuhan ) sebagaimana diajarkan oleh para ahli sufi.

Kemunduran dan kemerosotan mutu pendidikan dan pengajaran juga nampak jelas pada sangat sedikitnya materi kurikulum dan mata pelajaran serta menyempitnya bidang-bidang ilmu pengetahuan umum di madrasah-madrasah. Sehingga kurikulum pada umumnya madrasah-madrasah terbatas hanya pada ilmu-ilmu keagamaan murni seperti : Tafsir, Al-Qur’an, hadits, fiqh (termasuk ushul fiqh) dan ilmu kalam atau teologi bahkan dalam ilmu kalam pun masih ada madrasah-madrasah yang mencurigai. Dengan materi yang sangat sederhana ternyata total buku yang harus dipelajari pun sangat sedikit. Begitupun dengan sistem pengajaran pada masa itu yang sangat beroritentasi pada buku pelajaran sehingga sering terjadi pelajaran hanya memberikan komentar-komentar atau syarah terhadap buku-buku pelajaran yang dijadikan pegangan oleh guru tanpa ada pasokan pendapat sendiri dari guru tersebut.

Oleh karena itu perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini dapat dikatakan macet total. Keadaan yang demikian berlangsung selama masa kemunduran kebudayaan dan pendidikan islam, sampai abad ke 12 H/18 M.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari beberapa pemaparan diatas dapat kami simpulkan bahwa islam pernah mencatat pencapaian sains dan teknologi yang sangat mencengangkan. Masa keemasan itu ditandai oleh berkembangnya tradisi intelektual dan kuatnya spirit pencarian pengembangan sains. Akan tetapi pada saat ini dunia islam mengalami kemunduran dan kemerosotan yang disebabkan oleh beberapa faktor yang secara umum dibagi menjadi faktor eksternal dan internal. Sehingga dari beberapa faktor eksternal tersebut kami ambil salah satu faktor saja bahwa penyebab kemunduran pendidikan dikarenakan adanya pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar. Sedangkan dari faktor internal adalah dikarenakan ummat islam terutama pemerintahnya sudah tidak lagi memperhatikan ilmu pengetahuan dan para ahli lebih tertarik untuk terlibat dalam urusan-urusan politik.

Oleh karena itu keadaan ummat islam terutama pada pendidikan sangat statis. Hingga masyarakat pada waktu itu lebih memilih untuk mengembalikan segala sesuatunya kepada Tuhan. Atau yang disebut dengan aliran pemikiran tradisionalisme ketimbang mereka sehingga ketidakmampuan intelektual tersebut merealisasikan ”pernyataan” bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini dapat dikatakan macet total.

B. Saran

Berkreasilah dengan fikiranmu karena fikiranmu adalah Tuhan yang akan menentukan masa depanmu.

DAFTAR PUSTAKA

Ma’ruf Misbah, SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), Semarang : CV. Wicaksana, 1994.

Zuhairini, dkk. SPI (Sejarah Pendidikan Islam), Jakarta : Bumi Aksara, 2008.

www.scribd.com/doc/23143434/Kemunduran Pendidikan Islam/

www.pdfqueen.com/pdf/kc/Kemunduran-Pendidikan-Islam/



[3] Ma’ruf Misbah, SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), Semarang : CV. Wicaksana, 1994.

3 komentar:

  1. thanks sharenya gan..
    http://hatyaitrip2012.blogspot.com

    BalasHapus
  2. trimaksih makalahnya bgus n bisa tuk tambahan refeerensi..... mungkin bisa ditambah footnote masbrow....

    BalasHapus
  3. makasih ilmunya..

    BalasHapus

mohon ... klo udah baca posting kami, jangan lupaaaaaaaaaaaa kasi komentar yaaa .... n saran konstruktif ....................


thanks yaa atas komentar kaliaaannnnnnnnnnnnnnn !!!!!