"الله جميل يحبّ الجمال"

Allah Itu Indah, Mencintai Keindahan

Rabu, 14 Juli 2010

PERBUATAN MANUSIA MENURUT ALIRAN MU'TAZILAH, ASY'ARIYAH DAN MATURIDIYAH

PERBUATAN MANUSIA MENURUT ALIRAN MU'TAZILAH, ASY'ARIYAH DAN MATURIDIYAH

BAB I

PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

Masalah perbuatan manusia termasuk pembahasan yang begitu kono jadi perbuatan manusia bukanla dciptakan Tuhan pada diri manusia, tetap manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatannya, menurut aliran mu'tazila.sedangkan aliran asy'ariyah mengemukakan dalam faham asy'ari manusia ditempatkan pada posisi yang lemah. Jadi aliran ini lebih dekat pada faham jabariyah sedangkan aliran maturidiyah masih ada perbedaan antara matudiriyah samarkand dan matudiriyah bakhara mengenai perbuatan manusia. Kolompok pertama lebih dekat dengan faham mu'tazilah sedangkan kelompok kedua lebih dekat pada faham asy'ariyah.


B. Rumusan Masalah

Banyak perbedaan yang menyebutkan tentang perbuatan manusia menurut aliran mu'tazilah,asy'ariyah dan maturidiyah. Makalah ini membahas tentang bagai mana perbuatan manusia menurut aliran Mu'tazilah,Asy'ariyah dan Maturidiyah. Apakah benar apa yang di sebutkan dalam Al-Qur'an terbukti dalam suroh As-Sajdah dan suroh Ash-Shffat. yang mendekati kebenaran perbedaan tersebut, makalah ini menyajikan dari berbagai aliran-aliran. mungkin antara ketiganya ada hubungan. dari apa yang telah diterangkan dalam buku ilmu kalam

.

C. Ruang Lingkup Pembahasan

1. Bagaimana perbuatan manusia menurut aliran mu'tazilah

2. Bagaimana perbuatan manusia menurut aliran asy'ariyah

3. Bagaimana perbuatan manusia menurut aliran maturidiyah




BAB II

PEMBASAN

A. Aliran Mu'tazilah

Aliran Mu'tazilah memandang manusia mempunyai daya yang besar dan bebas. Oleh karna itu, Mu'tazilah menganut faham qodariyah atau free will. menurut Al-Juba'i dan Abd Aljabbra. Manusialah yang menciptakan perbuata-perbuatannya. Manusia sendirilah yang membuat baik dan buruk. KepaTuhan dan ketaatan seseorang kepada Tuhan adalah atas kehendak dan kemauannya sendiri. Daya (al-istita'ah)untuk mewujudkan kehendak terdapat dalam diri manusia sebelum adanya perbuatan.

Perbuatan manusia bukanlah diciptakan Tuhan pada diri manusia, tetapi manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatannya. Lantas bagaimana dengan daya? Apakah diciptakan Tuhan untuk manusia, atau berasal dari manusia sendiri? Mu'tazilah dengan tegas mengatakan bahwa daya juga berasal dari manusia. Daya yang terdapat pada diri manusia aalah tempat terciptanya perbuatan.jadi, Tuhan tidak dilibatkan dalam perbuatan manusia. Aliran Mu'tazilah mengecam keras faham yang mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan. bagaimana mungkin, dalam satu perbuatan akan ada dua daya yang menentukan?

Dengan faham ini, aliran mu'tazilah mengaku Tuhan sebagai pencipta alam, sedangkan manusia berpihak sebagai pihak yang berkreasi untuk mengubah bentuknya.

Meski berpendapat bahwa Allah tidak menciptakan manusia dan tidak pula menentukannya, kalangan Mu'tazilah tidak mengingkari azali Allah yang mengetahui segala apa yang akan terjadi dan diperbuat manusia, pendapat inilah yangmembedakannya dari penganut qodariah murni.

Untuk membela fahamnya, aliran Mu'tazilah mengungkapkan ayat berikut:

ألذى أحسن كل شێ خلقه (السجدة : ۷)

Artinya:

"Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya". (QS. As-Sajdah: 7).

Yang dimaksud dengan ahsana pada ayat di atas, adalah semua pebuatn Tuhan adalah baik.denga demikian, perbuatan manusia bukanlah per buatan Tuhan, karena perbuatan manusia terdapat perbuatan jahat. Dalil ini di kemukakan untuk mempertegas bahwa manusia akan mendapat balasan atas perbuatannya. Sekirany perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan, balasan dari Tuhan tidak ada artinya.

Disamping argumentasi naqliah di atas, aliran Mu'tazilah mengemukakan argumentasi berikut ini.

  1. Kalau Allah menciptakan perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri tidak mempunyai perbuatan, batAllah taklif syar'i. hal ini karena syariat adalah ungkapan perintah dan larangan yang merupakan thalap pemenuhan thalap tidak terlepas dari kemampuan, kebebasan, dan pilihan.

b. Kalau manusia tidak bebas untuk melakukan perbuatannya. Runtuhlah teori pahal dan hukuman yang muncul dari konsep faham al-wa'dwaal-wa'id(janji dan ancaman). Hal ini karma perbuatan itu menjadi tidak dapat di sandarkan kepadanya secara mutlak sehingga bersekoensi pujian atau celaan.

c. Kalau manusia tidak mempunyai kebebasan dan pilihan, pengutusan para nabi tidak ada gunanya sama skali. Bukankah tujuan pengutusan itu adalah dakwa dan dakwa harus di barengi kebebasn pilihan?

Konsikoensi lain dari faham di atas, Mu'tazilah berpendapat bahwa manusiaterlibat dalam penentuan ajal karena ajal itu ada dua macam, pertama, adalah al-ajal ath-thabi'i. ajal inilah yang di pandang mu'tazilah sebagai kekuaaan mutlak Tuhan untuk menentukannya. Adapun jenis yang kedua adalah ajal yang dibikin manusia untuk sendiri misalnya membunuh seseorang, atau bunuh diri di tiang gantungan, atau menum racun. Ajal yang ini dapat dipercepat dan diperlambat.

B. Aliran Asy'ariyah

Dalam faham Asy'ari manusia di tempatkan pada posisi yang lemah. Ia di ibaratkan anak kecil yang tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Oleh karana itu, aliran ini lebih dekat dengan paham jabariah dari pada dengan faham Mu'tazilah untuk menjeleskan dasr pijakannya, asy'ari,.pendiri aliran asy'ariyah, memakai teori al-kasb (acquisition, perolehan). Teori Al-Kasb Asy'ari dapat di jelaskan sebagai berikut. Segala sesuatu terjadi dengan perantaraan daya yang di ciptakan, sehingga menjadi perolehan bagi muktasib yang memproleh kasab untuk melakukan perbuatan. Sebagai konsekoensi dari teori kasb ini, manusia kehilangan keaktifan, sehingga manusia bersifat pasif dalm perbuatan-perbuatannya.

Argumen yang diajarkan oleh Al-Asa;ari untuk membela keyakinannya adalah firman Allah:

والله خلقكم وما تعملون (الصافات : 6۹)

Artinya::

"Tuhan menciptakan kamu apa yang kamu perbua". (Q.S. Ash-Shaffat [37]:96)

Wama ta'malun pada ayat diatas di artikan al-asy'ari dengan apa yang kamu perbuat dan bukan apa yang kamu perbuat.denga demikian, ayat inimengandung arti Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatanmu dengan kata lain, dalam faham asy'ari, yang mewujudkan kasb atau perbuatann manusia sebenarnya adalah Tuhan sendiri.

Pada prinsipnya aliran asy'ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya. Allah menciptakan perbuatan untuk manusia dan menciptakan pula pada diri manusia, daya untuk melahirkan perbuatan tersebut. Jadi, perbuatan di sini adalah ciptaan Allah dan merupakan kasb (perolehan) bagi manusia. Dengan demikian kasb mempunyai pengertian penyertaan perbuatan dengan daya manusia yang baru. Ini berimplikasi bahwa perbuatan manusia di barengi oleh daya kehendaknya, dan bukan atas daya kehendaknya.

C. Aliran Maturidiyah

Ada perbedaan antara Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah bukhara mengenai perbuatan manusia. Kelompok pertama lebih dekat dengan faham mu'tazilah, sedangkan kelompok kedua lebih dekat dengan faham Asy'ariyah. Kehendak dan daya berbuat pada diri manusia, menurut Maturidiyah Semarkand, adalah kehendak dan daya manusia dalam kata arti sebenarnya, dan bukan dari kiasan. Perbedaannya dengan Mu'tazilah adalah bahwa daya untuk berbuat tidak di ciptakan sebelumnya, tetapi bersama-sama dengan perbuatannya. Daya yang demikian porsinya lebih kecil dari pada daya yang terdapat dalam faham Mu'tazilah.oleh karena itu, manusia dalam faham Al-Maturidi, tidaklah sebebas manusia dalam Mu'tazilah.

Maturidiyah Bakhara dalam banyak hal sependapat dengan maturiyah samarkand. Hanya saja golongan ini memberikan tambahan dalam masalah daya. Manusia tidak mempunyai daya untuk melakukan perbuatan, hanya Tuhan lah yang dapat menciptakan, dan manusia hanya dapat melakukan perbuatan yang telah diciptakan Tuhan baginya.

  1. Asal-Usul Maturidiya

Aliran maturidiyah lahir di samarkand, pertengahan kedua dari abad IX M. pendurinya adalah Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Almaturidi. Riwayatnya tidak banyak diketahui. Ia sebagai pengikut Abu Hanifa sehingga paham teologinya memiliki banyak persamaan dengan paham-paham yang dipegang Abu Hanifa. Sistem pemikiran aliran maturidiyah, termasuk golongan teologi ahli sunah.

Untuk mengetahui sistem pemikiran Al-maturidi, kita bisa meninggalkan pikiran-pikiran Asy’aryah dan aliran mu’tasilah, sebab ia tidak lepas dari suasana zamannya. Maturidiyah dan asy’aryah sering terjadi persamaan pendapat karena persamaan lawan yang dihadapinya yaitu mu’tazilah. Namun, perbedaan dan persamaannya masih ada.

Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya banyak menggunakan rasio. Hal ini mungkin banyak dipengaruhi oleh Abu Hanifa karena Al-maturidi sebagai pengikat Abu Hanifa. Dan timbulnya aliran ini sebagai reaksi terhadap mu’tazilah.

  1. Pokok-Pokok Ajaran Maturidiyah, adalah:

1. Kewajin mengetahui Tuhan. Akal semata-mata sanggup mengetahui Tuhan. Namun itu tidak sanggup dengan sendirinya hukum-hukum takliti (perintah-perintah Allah SWT)

2. Kebaikan dan kerburukan dapat diketahui dengan akal

3. Hikmah dan tujuan perbuatan Tuhan

Perbuatan Tuhan mengandung kebijaksanaan (hikmah). Baik dalam cipta-ciptaannya maupun perintah dan larang-larangannya, perbuatan manusia bukanlah merupakan paksaan dari Allah, karena itu tidak bisa dikatakan wajib, karena kewajiban itu mengandung suatu perlawanan dengan iradahnya

  1. Golongan-Golongan Didalam Maturidiyah

Ada dua golongan didalam maturidiyah yaitu ;
1. Golongan Samarkand

a. Yang menjadi golongan ini dalah pengikut Al-maturidi sendiri, golongan ini cenderung ke arah paham mu’tazilah, sebagaimana pendapatnya soal sifat-sifat Tuhan, maturidi dan asy’ary terdapat kesamaan pandangan, menurut maturidi, Tuhan mempunyai sifat-sifat, Tuhan mengetahui bukan dengan zatnya, melainkan dengan pengetahuannya. Begitu juga Tuhan berkuasa dengan zatnya. Mengetahui perbuatan-perbuatan manusia maturidi sependapat dengan golongan mu’tazilah, bahwa manusialah sebenarnya menwujudkan perbuatan-perbutannya. Apabila ditinjau dari sini, maturidi berpaham qadariyah.
Maturidi menolak paham-paham mu’tazilah, antara lain dalam soal Tidak sepaham mengenai pendapat mu’tazilah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk.

b. Al-Salah wa Al-Aslah

c. Paham posisi menengah kaum Mu’tazilah Namun Maturidi juga sepaham dengan Mu’tazilah dalam soal al-waid wa al-waid. Bahwa janji dan ancaman Tuhan, kelak pasti terjadi. Demikian pula masalah Antropomorphisme. Dimana Maturidi berpendapat bahwa tangan wajah Tuhan, dan sebagainya seperti pengambaran Al-Qur’an. Mesti diberi arti kiasan (majazi). Dalam hal ini. Maturidi bertolak belakang dengan pendapat Asy’ary yang menjelaskan bahwa ayat-ayat yang menggambarkan Tuhan mempunyia bentuk jasmani tak dapat diberi interpretasi (ditakwilkan)

2. Golongan Bukhara

Golongan Bukhara ini dipimpin oleh Abu Al-yusr Muhammad Al-Bazdawi. Dia merupakan pengikut maturidi yang penting dan penerus yang baik dalam pemikirannya. Nenek Al-Bazdawi menjadi salah satu murid maturidi. Dari orang tuanya, Al-Bazdawi dapat menerima ajaran maturidi.

Dengan demikian yang di maksud golongan Bukhara adalah pengikut-pengikut Al-Bazdawi di dalam aliran Al-maturidiyah, yang mempunyai pendapat lebih dekat kepada pendapat-pendapat Al-asy’ary.

Namun walaupun sebagai aliran Maturidiyah. Al-Bazdawi tidak selamanya sepaham dengan maturidi. Ajaran-ajaran teologinya banyak dianut oleh sebagin umat Islam yang bermazab Hanafi. Dan pemikiran-pemikiran maturidiya sampai sekarang masih hidup dan berkembang dikalangan umat Islam.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulannya

Dari beberapa penjelasan diatas memjelaskan pemikiran dan sudut pandang dalam menyikapi Tuhan dengan manusia adalah Tuhan sebagai pencipta alam, sedangkan manusia berpihak sebagai pihak yang berkreasi untuk mengubah bentuknya.

Aliran Asy'ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya. Allah menciptakan perbuatan untuk manusia dan menciptakan pula pada diri manusia, daya untuk melahirkan perbuatan tersebut.

Menurut aliran Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya banyak menggunakan rasio. Hal ini mungkin banyak dipengaruhi oleh Abu Hanifa karena Al-maturidi sebagai pengikat Abu Hanifa. Dan timbulnya aliran ini sebagai reaksi terhadap mu’tazilah.

B. Saran

Dari beberapa uraian di atas yang telah kami susun sangatlah sesuai dengan apa yang telah di sebutkan dalam buku (ilmu kalam) dan dari semua itu merupakan hasil pemikiran yang telah kami kembangkan.

Dengan adanya makalah ini maka dapat kami sarankan bahwa kita selaku umat islam haruslah benar-benar berprilaku yang baik dan bertindak dengan baik supaya tidak menyimpang dari ranah-ranah yang telah ditentukan oleh Allah SWT dan dicontohkan terhadap Nabi Muhammad SAW. Dan dengan tersusunnya makalah inipula lah kita jadikan sebagai bahan acuan dan pertimbangan. Walaupun semua pendapat manusia itu belum tentu selamanya benar dan juga salah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

mohon ... klo udah baca posting kami, jangan lupaaaaaaaaaaaa kasi komentar yaaa .... n saran konstruktif ....................


thanks yaa atas komentar kaliaaannnnnnnnnnnnnnn !!!!!