"الله جميل يحبّ الجمال"

Allah Itu Indah, Mencintai Keindahan

Minggu, 25 Juli 2010

Filsafat Esesnsialsme

Filsafat Esesnsialsme

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Filsafat Esensial merupakan filsafat pendidikan konservatif yang dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap praktek pendidikan progresif di sekolah-sekolah, para esensialis berpendapat bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda dimana pendidikan harus nilai-nilai luhur yang tertata jelas.

Esensialisme bukan merupakan bangunan filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan terhadap pendidikan progresivisme. Pada umumnya pemikiran aliran pendidikan esensialisme dilandasi dengan filsafat tradisional idealisme klasik dan realisme. Dua aliran tersebut adalah pendukung esensialisme, namun tidak melebur menjadi satu dan tidak melepaskan karakteristiknya masing-masing.

Esensialisme secara umum menekankan pada pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan hakikat atas setiap skema rasional untuk hakikat manusia atau realitash[1].

B. Rumusan Masalah

Dengan penulisan makalah ini di harapkan:

1. Agar kita tahu dengan pasti apa itu definisi filsafat esesnsialsme?

2. Apa yang melatar belakangi muncul dan berkembangnya pemikiran filsafat pendidikan esensialeme?

3. Konsep apa saja yang menjadi dasar pemikiran dari pendidikan esensialisme?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui sebaik-baiknya tentang filsafat pendidikan esensilisme.

2. Untuk mengetahui dan memahami latar belakang munculnya Filsafat pendidikan esensialisme.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Aliran Esensialisme

Esenssialisme adalah suatu filsafat dalam aliran pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah[2]. Bagi aliran ini "Education as Cultural Conservation", pendidikan sebagai pemeliharaan kebudayaan karena dalil ini maka aliran esensialisme dianggap para ahli sebagai "Conservatif road to culture, "yakni aliran ini ingin kembali kepada kebudayaan lama warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya bagi kehidupan manusia.[3] Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai, tata yang jelas. Pendapat ini dikemukakan oleh Jalaluddin dkk yang dikutip dari pendapat Zuharnini[4] Esensialisme percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak zaman awal peradaban umat manusia, kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga sekarang, telah teruji oleh zaman, kondisi dan sejarah kebudayaan demikian ialah esensial yang mampu pula pengembangan hari ini dan masa depan umat manusia.[5]

Dengan artian esensialisme ingjn kembali ke masa dimana nila-nilai kebudayaan itu masih tetap terjaga, yang nilai itu tersimpul dalam ajaran para filosof, ahli pengetahuan yang agung, yang ajaran dan nilai-nilai ilmu mereka kekal.

B. Latar Belakang Munculnya Esensialisme

Gerakan ini muncul pada awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Brigger, Frederick Breed, dan Isac L Kandel, pada tahun 1983 mereka membentuk suatu lembaga yang di sebut "The esensialist commite for the advanced of American Education" Bagley sebagai pelopor esensialisme adalah seorang guru besar pada "teacher college," Columbia University, ia yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda.

Esensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan ciri-ciri yang berbeda dengan pregresivisme. Dasar pijakan aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu[6]

Nilai-nilai memenuhinya adalah yang berasal dari kebudayaan dan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakang[7].

Kesalahan dari kebudayaan sekarang menurut essensialisme yaitu terletak pada kecenderungan bahkan gejala-gejala penyimpangannya dari jalan lurus yang telah ditanamkan kebudayaan warisan itu. Fenomena-fenomena sosial-kultural yang tidak diingini kita sekarang, hanya dapat di atasi dengan kembali secara sadar melalui pendidikan, yaitu kembali ke jalan yang telah ditetapkan itu, dengan demikian kita boleh optimis terhadap masa depan kita dan masa depan kebudayaan umat manusia[8].

Essensialisme mengadakan protes terhadap progressvisme, namun dalam proses tersebut tidak menolak atau menentang secara keseluruhan pandangan proregssvisme seperti halnya yang dilakukan perenialisme. Ada beberapa aspek dari progresivisme yang secara prinsipil tidak dapat diterimanya. Mereka berpendapat bahwa betul ada hal-hal yang esensial dari pengalaman anak yang memiliki nilai esensial tersebut apabila manusia berpendidikan. Akar filsafat mereka mungkin idealisme, mungkin realisme, namun kebanyakan mereka tidak menolak epistemologi Dewey[9].

Esensialisme didukung oleh idelisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada, dan juga didukung oleh Realisme yang berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung ada apa dan bagaimana keadaannya apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pola pada subjek tersebut.

Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui/ menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan peragaan senang tak senang mengenai nilai tersebut. Menurut Realisme pengetahuan tersebut terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tertentu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut Idealisme, pengetahuan timbul kerena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai-nilai yang telah teruji ketangguhannya dan kekuatannya sepanjang masa[10].

C. Konsep Pendidikan Esensialisme

1. Gerakan Back to Basic

Kaum esensialis mengemukakan bahwa sekolah harus melatih/mendidik siswa untuk berkomunikasi dengan jelas dan logis, keterampilan-keterampilan inti kurikulum haruslah berupa membaca, menulis, berbicara dan berhitung, serta sekolah memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan penguasaan terhadap keterampilan-keterampilan tersebut.

Menurut filsafat esensialisme, pendidikan sekolah harus bersifat praktis dan memberi pengajaran yang logis yang mempersiapkan untuk hidup mereka, sekolah tidak boleh mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosial.

2. Tujuan Pendidikan

Tujuannya adalah untuk meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakomulasi dan telah bertahan dalam kurun waktu yang lama, serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu yang lama, selain itu tujuan pendidikan esensialisme adalah mempersiapkan manusia untuk hidup, tidak berarti sekolah lepas tangan tetapi sekolah memberi kontribusi bagaimana merancang sasaran mata pelajaran sedemikian rupa, yang pada akhirnya memadai untuk mempersiapkan manusia hidup.

3. Kurikulum

Kurikulum esensialisme seperti halnya perenialisme, yaitu kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran (subjek matter centered). Pengusaan materi kurikulum tersebut merupakan dasar yang esensialisme general education (filsafat, matematika, IPA, sejarah, bahasa, seni dan sastra) yang diperlukan dalam hidup belajar dengan tepat berkaitan dengan disiplin tersebut akan mampu mengembangkan pikiran (kemampuan nalar) siswa dan sekaligus membuatnya sadar akan dunia fisik sekitarnya.

D. Peranan Guru dan Sekolah.

Peranan sekolah adalah memelihara dan menyampaikan warisan budaya dan sejarah pada generasi pelajar dewasa ini, melalui hikmat dan pengalaman yang terakumulasi dari disiplin tradisional. Selanjutnya mengenai peranan guru banyak persamaan dengan perenialisme. Guru dianggap sebagai seorang yang menguasai lapangan subjek khusus dan merupakan model contoh yang sangat baik untuk digugu dan tiru. Guru merupakan orang yang mengusai pengetahuan, dan kelas berada di bawah pengaruh dan penguasaan guru.

E. Prinsip-prinsip Pendidikan

Prinsip-prinsip pendidikan esensialisme yaitu:

· Pendidikan harus dilakukan melalui usaha keras, tidak begitu saja timbul dari dalam diri siswa.

· Inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada siswa. Peranan guru adalah menjembatani antara dunia orang dewasa dengan dunia anak-anak, guru disiapkan secara khusus untuk melaksanakan tugas tersebut.

· Inti proses pendidikan adalah asimilasi dari mata pelajaran yang telah ditentukan.

· Sekolah harus mempertahankan metode-metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental.

· Tujuan akhir pendidikan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umum merupakan tuntutan demokrasi yang nyata[11].

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendidikan esensialisme merupakan sebuah aliran pendidikan yang tidak pendidikan yang tidak setuju terhadap praktek-praktek pendidikan progressivisme, yang mengklaim bahwa pergerakan progressive telah merusak standar-standar intelektual dan moral diantara kaum muda.

Metode yang digunakan adalah metode tradisional yang menekankan pada inisiatif guru, guru haruslah orang terdidik dan dapat menguasai pengetahuan dan kelas semua itu harus berada di bawah penguasaan guru.

Esensialis menginginkan agar sekolah berfungsi sebagai penyampaian warisan budaya dan sejarah yang mengandung nilai-nilai luhur para filosof sebagai ahli pengetahuan dimana nilai-nilai kebudayaan itu masih tetap terjaga dan kekal.

B. Saran

Sekedar saran dari penulis, agar para audience sekalian tidak memiliki sifat fanatic yang berlebihan, hendaknya dalam memilih berbagai konsep yang di tawarkan dalam dunia filsafat kita harus bisa mencerna dan membuat semacam konsep baru yang kemudian tidak hanya berpaku terhadap satu konsep filsafat, karena berbagai konsep yang di tawarkan oleh para filsuf semuanya adalah hasil pemikiran yang sudah di buktikan kebenarannya melalui berbagai eksperimen dan uji coba.

DAFTAR PUSTAKA

- Sadullah, Uyah. Pengantar Filsafat Pendidikan, CV. Alfabeta, Bandung.2003

- Noor Syam, Muhammad, Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsafat Pancasila, Usaha Nasional, Surabaya, 1988.

- Jalaluddin dan Abdullah idi, filsafat pendidikan manusia, filsafat, dan Pendidikan, Ar-ruzz media Group, Jogyakarta, 2007

- www.Google.co.id



[2] Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2008), hal.158.

[3] Muhammad Noor Syam, Filsafat kependidikan dan dasar filsafat kependidikan Pancasila, Surabaya: Usaha Nasional, 1988), hal.260

[4] Jalaluddin dan Abdullah idi, Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat dan Pendidikan, (Jogjakarta: Usaha Nasional, 1988), hal.260.

[5]Muhammad Noor Syam, Filsafat kependidikan dan dasar filsafat kependidikan Pancasila, Surabaya: Usaha Nasional, 1988), hal.260

[6]Jalaluddin dan Abdullah idi, Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat dan Pendidikan, op, cet, hal.99.

[7] Ibid, ha.100

[8]Muhammad Noor Syam, Filsafat kependidikan dan dasar filsafat kependidikan Pancasila, Op. cet, hal.260

[9]Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan, Op..Cit, hal.159.

[10] Lihat: www.goeggle.aliran-aliran pendidikan.co.id

[11]Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan, Op..Cit, hal.160.

HUBUNGAN KEBUDAYAAN DENGAN PENDIDIKAN

HUBUNGAN KEBUDAYAAN DENGAN PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan secara praktis tak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai budaya. Dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan sendiri, secara proses mantransfernya yang paling efektif dengan cara pendidikan. Keduanya sangat erat sekali hubungannya karena saling melengkapi dan mendukung antara satru sama lainnya.

Tujuan pendidikan pun adalah melestarikan dan selalu meningkatkan kebudayaan itu sendiri, dengan adanya pendidikanlah kita bisa mentransfer kebudayaan itu sendiri dari generasi ke generasi selanjutnya.

Dan juga kita sebagai masyarakat mencita-citakan terwujudnya masyarakat dan kebudayaan yang lebih baik ke depannya, maka sudah dengan sendirinya pendidikan kitapun harus lebih baik lagi.

B. Rumusan Masalah

1. Kebudayaan

2. Pendidikan

3. Hubungan Kebudayaan dengan Pendidikan

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kebudayaan

Kebudayaan sebagai hasil budi manusia, dalam hal berbagai bentuk dan menifestasinya, dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku, melainkan selalu berkembang dan berubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman tradisional untuk memasuki zaman modern.

Manusia sebagai mahluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk mengadakan perubahan-perubahan. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju, ketika alamlah yang mengendalikan manusia dengan sifatnya yang tidak iddle curiousity (rasa keinginantahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa, cipta dan karsanya telah dadpat mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna, maka alamlah yang dikendalikan oleh manusia.

Kebudayaan merupakan karya manusia yang mencakup diantaranya filsafat, kesenian, kesusastraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.

B. Pendidikan

Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan adalah sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.

Adapun menurut Carter V.Good dalam Dictinary of Education bahwa pendidikan itu mengandung pengertian:

1. Proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya

2. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (misalnya sekolah) sehingga ia dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan pribadinya.

Sedangkan menurut konsep yang dikemukakan oleh Freeman Butt dalam bukunya yang terkenal Cultural History of Western Education bahwa:

Pendidikan adalah kegiatan menerima dan memberikan pengetahuan sehingga kebudayaan dapat diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya.

Menurut Hasan Langgulung dalam bahasanya mengenai pendidikan adalah aktifitas yang dikerjakan oleh pendidikan dan filsafat-filsafat untuk menjelaskan proses pendidikan, menyelaraskan, mengkritik dan merubahnya berdasar masalah-masalah kontradiksi budaya.

C. Hubungan Kebudayaan dengan Pendidikan

Menurut DR. Sahiq Sama'an dalam al-Syaibany (1979) pendidikan adalah pendidikan yakni kegiatan yang dilakukan oleh pendidik-pendidik dan filosofis untuk menerangkan, menyelaraskan, mengecam dan merubah proses pendidikan dengan persoalan-persoalan kebudayaan dan unsur-unsur yang bertentangan didalamnya.

Dilihat dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan usaha untuk menimbang dan menghubungkan potensi individu. Adapun dari sudut pandang kemasyarakatan, pendidikan merupakan usaha pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda, agar nilai-nilai budaya tersebut tetap terpelihara, tulis Hasan Langgulung.

Maka sudah jelas bahwa pendidikan dan kebudayaan sangat erat sekali huibugan karena keduanya berkesinambungan, keduanya saling mendukung satu sama lainnya.

Dalam konteks ini dapat dilihat hubungan antara pendidikan dengan tradisi budaya serta kepribadian suatu masyarakat betapapun sederhananya masyarakat tersebut. Hal ini dapat dilihat bahwa tradisi sebagai muatan budaya senantiasa terlestarikan dalam setiap masyarakat, dari generasi ke generasi. Hubungan ini tentunya hanya akan mungkin terjadi bila para pendukung nilai tersebut dapat menuliskannya kepada generasi mudanya sebagai generasi penerus.

Transfer nilai-nilai budaya dimiliki paling efektif adalah melalui proses pendidikan. Dalam masyarakat modern proses pendidikan tersebut didasarkan pada program pendidikan secara formal. Oleh sebab itu dalam penyelenggarannya dibentuk kelembagaan pendidikan formal.

Seperti dikemukakan Hasan Langgulung bahwa pendidikan mencakup dua kepentingan utama, yaitu pengembangan potensi individu dan pewarisan nilai-nilai budaya. Maka sudah jelas sekali bahwa kedua hal tersebut pendidikan dan kebudayaan berkaitan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat atau bangsa itu masing-masing, kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan karena saling membutuhkan antara satu sama lainnya.

Dikatakan dengan pendapat Hasan Langgulung bahwa pendidikan dalam hubungan dengan individu dan masyarakat, akan tetapi dapat dilihat bagaimana garis hubung antara pendidikan dan sumber daya manusia. Dari sudut pandangan individu pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan potensi individu, sebaliknya dari sudut pandang kemasyarakatan pendidikan adalah sebagai pewarisan nilai-nilai budaya.

Dalam pandangan ini, pendidikan mengemban dua tugas utama, yaitu peningkatan potensi individu dan pelestarian nilai-nilai budaya. Manusia sebagai mahluk berbudaya, pada hakikatnya adalah pencipta budaya itu sendiri. Budaya itu kemudian meningkatkan sejalan dengan peningkatan potensi manusia pencipta budaya itu.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan dengan pendidikan sangat erat sekali keduanya saling berkesinambungan dan tidak dapat dipisahkan karena saling dan membutuhkan antara satu sama lainnya.

Dalam konteks, dapat dilihat hubungan antara pendidikan dan kebudayaan. Kebudayaan akan terlestarikan dalam setiap ini tentunya hanya akan mungkin terjadi bila para generasi mudanya sebagai generasi penerus.

Transfer nilai-nilai budaya atau cara yang paling efektif dalam mentrasnfer nilai-nilai budaya adalah dengan cara proses pendidikan, karena keduanya sangat erat hubungannya.

DAFTAR PUSTAKA

- Prof. Dr. H. Jabludddin dan Drs.Abdullah idi. M.Ed. Filsafat Pendidikan Pelembang, GMP.1997.

- Ali, H. Filsafat Pendidikan. Kota Kembang, Yogjakarta.1990

- Langgulung, H. Asas-Asas Pendidikan Islam, H. Husna. Jakarta,19987

- Gazalba, S. Pengantar Kebudayaan sebagai ilmu. Kanisius, Yogyakarta.19991

KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOKOMOTORIK

KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOKOMOTORIK

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengukuran dalam sekolah berkaitan hanya dengan pecandraan (deskripsi) kuatitatif mengenai tingkah laku siswa. Pengukuran tidak melibatkan pertimbangan mengenai baiknya atau nilai tingkah laku yang diukur itu. Seperti halnya tes, pengukuran pun tidak menentukan siapa yang lulus dan siapa yang tidak lulus. Pengukuran hanya membuahkan data kuantitatif mengenai hal yang diukur. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan intruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari benyamin bloom yang membaginya menjadi 3 ranah pengukuran yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikokomotorik.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :

a. Pengukuran ranah kognitif

Pengukuran ranah kognitif ini meliputi aspek :

1. Pengetahuan

2. Pemahaman

3. Penerapan

4. Analisis

5. Sintesis

6. Penilaian

b. Pengukuran ranah afektif

c. Pengukuran ranah psikomotorik


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengukuran Ranah Kognitif

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sisntesis dan evaluasi. Hal ini sesuai dengan taksonomi bloom (1956) yang diurutkan secara Hierarki Peramedal. Sistem klasifikasi bloom dapat digambarkan sebagai berikut :

Synthesis




Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai tiap aspek sebagaimana diberikan dalam taksonomi bloom :

a. Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan adalah aspek mendasar dalam taksonomi bloom. Sering kali disebut sebagai aspek ingatan (recall). Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengenal atau mengetahui adanya konsep. Fakta dan istilah-istilah tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Karena itu rumusan TIK menggunakan kata-kata operasional sebagai berikut ; menyebutkan, menunjukkan, mengenal, mengingat kembali. Menyebutkan definisi, memilih dan menyatakan. Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur kemampuan ini adalah : Tipe (melengkapi/menjodohkan), tipe isian. Tipe benar-salah, pilihan ganda. Akan tetapi orang banyak menggunakan benar-salah, karena lebih mudah menyusunnya.

Ada beberapa cara untuk dapat mengingat dan menyimpan materi dalam ingatan seperti teknik memo, jembatan kedelai, mengurutkan kejadian, membuat singkatan yang bermakna. Pengetahuan ini merupakan ranah kognitif tingkat rendah yang paling rendah. Namun, tipe hasil belajar ini menjadi prasarat bagi tipe hasil belajar berikutnya. Dan hal ini berlaku bagi semua bidang studi.

b. Pemahaman

Tipe hasil belajar ini lebih tinggi dari pengetahuan siswa dituntut memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya. Bentuk soal yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda atau uraian.

Pemahaman dibedakan dalam 3 kategori :

- Pertama, pemahaman penafsiran (interpretation)

Mulai dari terjemahan dalam arti sebenarnya, misalnya dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia mengartikan bhineka Tunggal Ika, mengartikan merah putih dan sebagainya.

- Kedua, Pemahaman Penafsiran (Interpretation)

Yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya, atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dan yang bukan pokok.

- Ketiga, pemahaman extrapolasi (Extrapolation)

Penerapan extrapolasi diharapkan seseorang mampu melihat dibalik yang tertulis, dapat membuat ramalan tentang konsekuensi atau dapat memperluas dalam arti waktu, dimensi, kasus ataupun masalahnya.

c. Penerapan (Application)

Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau situasi khusus. Abstraksi tersebut berupa ide, teori, atau petunjuk teknis. Menerapkan abstraksi ke dalam situasi baru disebut aplikasi. Mengulang-ulang menerapkannya pada situasi lama akan beralih menjadi pengetahuan hafalan atau keterampilan. Pengukuran kemampuan ini umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving) melalui pendekatan ini siswa dihadapkan dengan suatu masalah, entah rill atau hipotesis, yang perlu dipecahkan dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah usaha memilih suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas hierarkinya atau susunannnya. Dengan analisis diharapkan mempunyai pemahaman yang komperehensif, dan dapat memilahkan integritas menjadi bagian-bagian yang terpadu, memahami proses, cara kerja, dan sistematikanya. Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda dan uraian.

e. Sistesis (syntesis)

Penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam bentuk menyeluruh disebut sintesis. Pada jenjang ini seseorang dituntut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru dengan jalan menggabungkan berbagai faktor yang ada. Pengukurannya menggunakan kemampuan mengkomunikasikan gagasan, perasaan, dan pengalaman dalam bentuk tulisan, menyusun rencana atau mekanisme dari suatu tugas atau problem yang diketengahkan.

f. Penilaian (evaluation)

Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengevaluasi asisituasi, keadaan, pernyataan, atau konsep berdasarkan kriteria tertentu. Yang penting dalam evaluasi ialah menciptakan kriteria tertentu, agar pengevaluasi tidak subjektif diperlukan standar, ukuran atau kriteria. Misalnya : menugaskan siswa mengembangkan kriteria untuk mengevaluasi program pengajaran dalam efektivitas dan efesiensinya.


B. Pengukuran Ranah Afektif

Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai, dalam ranah ini meliputi 5 jenis kemampuan.

1. Menerima (reciving/attending) yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi dan gejala.

2. Menjawab (responding)

Kemampuan ini bertalian dengan partisipasi siswa. Mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar.

3. Menilai (valuing)

Jenjang ini bertalian dengan nilai yang dikenakan siswa terhadap suatu objek, fenomena, atau tingkah laku tertentu. Mulai dari sekedar penerimaan nilai (memperbaiki keterampilan kelompok). Sampai menerima tanggung jawab untuk fungsi kelompok yang lebih efektif.

4. Organisasi

Yakni pengembangan dari nilai ke dalam suatu sistem (organisasi) termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan, dan prioritas nilai yang dimiliki. Contoh konsep tentang nilai, organisasi sistem nilai dan lain-lain.

5. Karakteristik nilai atau internalisasi nilai

Yakni keterpaduan semua sistem nilai yang dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Kedalamnya termasuk keseluruhan nilai dan karakteristiknya.

C. Ranah Psikomotoris

Ranah pskomotoris meliputi enam jenis kemampuan yakni gerakan refleks, gerakan fundamental yang dasar, kemampuan perceptual, kemampuan fisik, gerakan trampil, komunikasi, non diskursus. Akan tetapi masih dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok.

1. Keterampilan Motorik (muscularor motorskills)

Memperlihatkan gerak, menunjukkan hasil (pekerjaan tangan), menggerakkan, menampilkan, melompat dan sebagainya.

2. Manipulasi benda-benda (manipulation of materials or objects)

Menyusun, membentuk, memindahkan, menggeser, mereparasi. Dan sebagainya.

3. Koordinasi neuromuscular

Menghubungkan, mengamati, memotong dan sebagainya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

- Pengukuran hasil belajar sebagai objek penilaian dapat dibedakan dalam beberapa kategori yakni, kognitif, afekfit dan psikomoris.

- Alat penilaian atau pengukuran untuk setiap ranah tersebut mempunyai karakteristik tersendiri sebab setiap ranah berbeda dalam cakupan dan hakikatnya yang terkandung didalamnya.

DAFTAR PUSTAKA

- Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Belajar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1989.

- Daryanto, Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT. Rienaka Cipta, 2005.

mohon ... klo udah baca posting kami, jangan lupaaaaaaaaaaaa kasi komentar yaaa .... n saran konstruktif ....................


thanks yaa atas komentar kaliaaannnnnnnnnnnnnnn !!!!!