"الله جميل يحبّ الجمال"

Allah Itu Indah, Mencintai Keindahan

Rabu, 14 Juli 2010

HUBUNGAN TIMBALE BALIK ANTARA PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN PEMBANGUNAN NASIONAL

HUBUNGAN TIMBALE BALIK ANTARA PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN PEMBANGUNAN NASIONAL

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah hubungan Timbal balik antara pendidikan nasional dengan pembangunan nasional, termasuk salah satu pembahasan yang mungkin telah mendapat perhatian dari bangsa Indonesia. Dengan demikian bangsa Indonesia bias mengerti dalam hubungan Timbal balik antara pendidikan nasional dengan pembangunan nasional pembahasan ini dapat kita lihat dengan jelas. Makalah ini ingin mengupas sebuah pembahasan komparatif antara hubungan Timbal balik antara pendidikan nasional dengan pembangunan nasional. pada penjelasan yang akan di bahas bertujuan. agar membuat bangsa Indonesia benar-benar memahami tentang hubungan Timbal balik antara pendidikan nasional dengan pembangunan nasional.

B. Rumusan Masalah

Banyak bangsa indonesia mengenyam pendidikan nasional dengan pembangunan nasional. Makalah ini membahas tentang bagai mana hubungan Timbal balik antara pendidikan nasional dengan pembangunan nasional, Apakah benar apa yang di sebut pendidikan nasional dengan pembangunan nasional mempunyai hubungan timbul balik diera globalisasi ini, makalah ini menyajikan tentang hubungan Timbal balik antara pendidikan nasional dengan pembangunan nasional.

C. Ruang Lingkup Pembahasan

  1. bagaimana hubungan Timbal balik antara pendidikan nasional?
  2. bagaimana hubungan Timbal balik antara pembangunan nasional?

BAB II

PEMBASAN

A. Pembangunan nasional

Pembangunan nasional merupakan kegiatan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mensejahterakan rakyatnya. Untuk itu, diperlukan adanya etika pembangunan nasional, agar dalam pelaksanaannya tidak menyimpang dan tidak melanggar norma-norma hukum yang berlaku. Etika berupa aturan-aturan dalam suatu negara hukum yang demokratis seperti Indonesia ini, dituangkan dalam peraturan perundangan. Sebagaimana disebutkan dalam UUD 1945, Indonesia adalah negara hukum yang demokratis.

Dengan ditiadakannya GBHN sebagai pedoman penyusunan rencana pembangunan nasional, maka ditetapkanlah Undang-Undang No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Jangka Panjang dengan kurun waktu perencanaan lima tahunan. Rencana Pembangunan 20 tahun tersebut merupakan kelanjutan rencana pembangunan sebelumnya. Juga tidak lepas berkaitan dengan ditetapkannya Undang-Undang No. 32/2004 tentang Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pemerintahan dalam NKRI. Dengan demikian terdapat kesinambungan pembangunan. Rangkaian upaya pembangunan tersebut memuat kegiatan pembangunan yang berlangsung tanpa henti.

Sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang No. 17/2007 tentang Rencana Pem bangunan Jangka Panjang 2005-2025 (RPJP), bahwa rencana pembangunan tersebut merupakan kelanjutan dari proses pembangunan sebelumnya untuk mencapai tujuan pembangunan sebagai diamanatkan dalam konstitusi.

Dalam masa 20 tahun mendatang sangat penting dan mendesak bagi bangsa Indonesia untuk melakukan penataan kembali berbagai langkah, antara lain di bidang pengelolaan sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam, lingkungan hidup dan kelembagaannya, sehingga bangsa ini dapat mengejar ketinggalannya

B. Pendidikan nasional

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jalur Pendidikan

Jalur pendidikan terdiri atas:

1. pendidikan formal,

2. nonformal, dan

3. informal.

Jalur Pendidikan Formal

Jenjang pendidikan formal terdiri atas:

1. pendidikan dasar,

2. pendidikan menengah,

3. pendidikan tinggi.

Jenis pendidikan mencakup:

1. pendidikan umum,

2. kejuruan,

3. akademik,

4. profesi,

5. vokasi,

6. keagamaan, dan

7. khusus.

Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.

Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.

Pendidikan dasar berbentuk:

1. Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat; serta

2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.

Pendidikan menengah terdiri atas:

1. pendidikan menengah umum, dan

2. pendidikan menengah kejuruan.

Pendidikan menengah berbentuk:

1. Sekolah Menengah Atas (SMA),

2. Madrasah Aliyah (MA),

3. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan

4. Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

Perguruan tinggi dapat berbentuk:

1. akademi,

2. politeknik,

3. sekolah tinggi,

4. institut, atau

5. universitas.

Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat

Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.

Pendidikan Nonformal

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

Pendidikan nonformal meliputi:

1. pendidikan kecakapan hidup,

2. pendidikan anak usia dini,

3. pendidikan kepemudaan,

4. pendidikan pemberdayaan perempuan,

5. pendidikan keaksaraan,

6. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja,

7. pendidikan kesetaraan, serta

8. pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

Satuan pendidikan nonformal terdiri atas:

1. lembaga kursus,

2. lembaga pelatihan,

3. kelompok belajar,

4. pusat kegiatan belajar masyarakat, dan

5. majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.
Pendidikan Informal

Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk:

1. Taman Kanak-kanak (TK),

2. Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk:

1. Kelompok Bermain (KB),

2. Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Pendidikan Kedinasan

Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.

Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.

Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.

Pendidikan Keagamaan

Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan keagamaan berbentuk:

1. pendidikan diniyah,

2. pesantren,

3. pasraman,

4. pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.

Pendidikan Jarak Jauh

Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.

Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler.

Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

BAB II

PENUTUP

A. Kesimpulannya

Dari makalah yang kami susun maka dapat disimpulkan beberapa hal, antara lain:

  1. Pembangunan nasional merupakan kegiatan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mensejahterakan rakyatnya.
  2. Dengan dihapusnya GBHN sebagai pedoman penyusunan rencana pembangunan nasional, maka ditetapkanlah Undang-Undang No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Jangka Panjang

B. Saran

Dari beberapa uraian di atas yang telah kami susun sangatlah sesuai dengan apa yang telah di bahas dan ditetapkan oleh pemerintah indonesia, dan dari semua itu merupakan hasil pemikiran yang telah kami kembangkan, akan tetapi dengan tersusunnya makalah ini kami selaku manusia biasa sangatlah memohon dan meminta kepada pembaca khususnya Dosen Pembimbing materi kuliah ini. untuk merevisi atau mengkeritisi yang membangun demi sempurnanya makalah yang telah kami susun, dan tidak lupa kami ucapkan banyak terimakasih.

PROSES TERCIPTANYA ALAM

PROSES TERCIPTANYA ALAM

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah penciptaan manusia termasuk salah satu pembahasan kuno yang mungkin telah mendapat perhatian dari sejak manusia itu diciptakan. Dengan menilik kitab-kitab samawi beberapa agama seperti agama Yahudi, Kristen, dan Islam, kekunoan pembahasan dapat kita lihat dengan jelas. Makalah ini ingin mengupas sebuah pembahasan komparatif antara ayat-ayat kitab samawi yang menyinggung penciptaan manusia dan teori evolusi. Dengan kata lain, perbandingan antara keyakinan para ahli tafsir dan pengetahuan yang diyakini oleh para ilmuan ilmu alam tentang tata cara penciptaan manusia. Akan tetapi, kejelasan tentang masalah ini bergantung pada penjelasan yang benar tentang teori pemikiran ini, dan juga pada pemaparan latar belakang sejarah dan sikap-sikap yang pernah diambil dalam menanggapinya. Tujuan asli tulisan ini adalah kita ingin menemukan sumber kehidupan manusia. Apakah seluruh jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan muncul dengan bentuk seperti ini dan dengan karakteristik dan keistimewaan yang independen dari sejak awal mereka diciptakan, dan lalu mereka juga berkembang biak dengan dengan cara yang sama? Ataukah seluruh binatang dan tumbuh-tumbuhan itu berasal dari spesies (naw‘) yang sangat sederhana dan hina, lalu mereka mengalami perubahan bentuk lantaran faktor lingkungan dan natural yang beraneka ragam, dan setelah itu mereka memperoleh bentuk yang lebih sempurna dengan gerakan yang bersifat gradual sehingga memiliki bentuk seperti sekarang ini?


B. Rumusan Masalah

Banyak teori yang menyebutkan teori tentang proses terjadinya alam semesta Makalah ini membahas tentang bagai mana proses terciptanya alam dari sisi Al-Qur'an dan teori para Ilmuan. Apakah benar apa yang di sebutkan dalam Al-Qur'an terbukri dalam pembentukan Alam Semesta. Atau pendapat para Ilmuankah yang mendekati kebenaran teori tersebut, makalah ini menyajikan dari berbagai teori dari para ilmuan dan juga teori yang ada dalam al-qur'an ya g mungkin antara keduanya ada hubungan. dari apa yang telah ditetapkan dalam al-Qur'an dan beberapa ilmuan-ilmuan.


C. Ruang Lingkup Pembahasan

1. Bagaimana proses terciptanya alam nenurut Al-Qur'an

2. Bagaimana proses terciptanya alam nenurut Ilmuan-ilmuan

3. Bagaimana hubungannya antara teori para ilmuan dengan Al-Qur'an

BAB II

PEMBASAN

A. Proses Terciptanya Alam Semesta Menurut Al-Quran

Sekarang, mungkin ada di antara kita yang ingin tahu bagaimana Al-Quran menjelaskan tentang terbentuknya alam semesta ini. Dalam Quran surat Al-Anbiya' (surat ke-21) ayat 30 disebutkan:

Artinya:

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (Qs. Al-Ambiyaa': 30)

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? "Lalu dalam Quran surat Fussilat (surat ke-41) ayat 11 Allah berfirman:

"Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".

Kata asap dalam ayat tersebut di atas menurut para ahli tafsir adalah merupakan kumpulan dari gas-gas dan partikel-partikel halus baik dalam bentuk padat maupun cair pada temperatur yang tinggi maupun rendah dalam suatu campuran yang lebih atau kurang stabil. Lalu dalam surat At-Talaq (surat ke-65) ayat 12 Allah berfirman:

Artinya:

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu” (Qs. At-Talaaq: 12)

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmunya benar-benar meliputi segala sesuatu".[1]

Para Ahli Menafsirkan bahwa kata tujuh menunjukkan sesuatu yang jamak (lebih dari satu), dimana secara tekstual hal ini mengindikasikan bahwa di alam semesta ini terdapat lebih dari satu bumi seperti bumi yang kita tempati sekarang ini.

Beberapa hal yang mungkin mengejutkan bagi para pembaca Al-Quran di abad ini adalah fakta tentang ayat-ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan tentang tiga kelompok benda yang diciptakan(Nya) yang ada di alam semesta yaitu benda-benda yang berada di langit, benda-benda yang berada di bumi dan benda-benda yang berada di antara keduanya. Kita dapat menemukan tentang hal ini pada beberapa surat yaitu surat To-Ha (surat ke-20) ayat 6 yang artinya:

Artinya:

"Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah." (Qs. Tha-ha: 6)

Lalu dalam surat Al-Furqan (surat ke-25) ayat 59 yang artinya: "Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa..."Juga dalam surat Al-Sajda (surat ke-32) ayat 4 yang artinya: "Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa..."Dan surat Qaf (surat ke-50) ayat 58 yang artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan"

Dari surat-surat tersebut di atas terlihat bahwa secara umum proses terciptanya jagat raya ini berlangsung dalam 6 periode atau masa dimana tahapan dalam proses tersebut saling berkaitan. Disebutkan pula bahwa terciptanya jagat raya terjadi melalui proses pemisahan massa yang tadinya bersatu. Selain itu disebutkan pula tentang lebih dari satu langit dan bumi dan keberadaan ciptaan di antara langit dan bumi.

Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sebelum para ahli mengemukakan tentang teori big bang (yang dimulai sejak tahun 1920-an), ayat-ayat Al-Quran telah secara jelas menceritakan bagaimana alam semesta ini terbentuk.

B. Proses Terciptanya Alam Semesta Secara Ilmuan-ilmuan

Dalam salah satu teori mengenai terciptanya alam semesta (teori big bang), disebutkan bahwa alam semesta tercipta dari sebuah ledakan kosmis sekitar 10-20 miliar tahun yang lalu yang mengakibatkan adanya ekspansi (pengembangan) alam semesta. Sebelum terjadinya ledakan kosmis tersebut, seluruh ruang materi dan energi terkumpul dalam sebuah titik. Mungkin banyak di antara kita yang telah membaca tentang teori tersebut

C. Komprasi Antara Pandanga Al-Qur'an Dan Ilmuan

Al-Qur'an Dan Big Bang

Al-qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan Allah kepada nabi terakhir (Muhammad SAW). Al-qur’an bukan lah kitab yang berisi SCIENCE (Ilmu Pengetahuan) Tapi kitab yang berisi SIGN (Tanda-tanda/Ayat-ayat) ke arah ilmu Pengetahuan. Lebih dari 6000 ayat-ayat dalam Al-qur’an, 1000 diantaranya berisi ayat-ayat tentang Ilmu Pengetahuan yang meliputi : Astronomi,Fisika, Geografi, Geologi, Oceanologi, Biologi, Tumbuh-Tumbuhan, Hewan, dan lain sebagainya. Di tulisan ini penulis hanya menuliskan tentang Astronomi (Ilmu tentang Tata Surya) dibidang Penciptaan Alam Semesta, Insya Allah Tulisan tentang Astronomi lain (Bentuk bumi, Rotasi Bumi, cahaya matahari dan bulan) dan Ilmu Pengetahuan lainyya akan ditulis pada bagian selanjutnya.
Jika kita bertanya pada ilmuwan Bagaimana alam semesta terbentuk, bagaimana alam semesta terbentuk? maka mereka akan menjawab dengan teori Big Bang (Teori Ledakan Besar), yang menyatakan bahwa seluruh jagad raya mulanya adalah satu “Nebula Primary”, kemudian terjadi pemisahan yang menciptakan galaksi dan selanjutnya membentuk tata surya yang terdiri dari Planet, Matahari, dan juga Bumi yang kita tinggali ini.

Ayat ini menceritakan tentang gejala Ledakan Besar atau Teori Big Bang. Bayangkan apa yang kita baru ketahui sekarang, Alquran telah mengatakannya 1400 tahun yang lalu. Alqur’an juga mengatakan dalam Surat Fussilat ke 41 ayat 11 :

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap (dukhon), lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".(Fussilat ; 11)

Kata arab yang digunakan disini adalah "dukhan" yang berarti asap. Jika Anda tanya Ilmuwan, Alam semesta terbentuk pada mulanya benda angkasa adalah "Gas"; Tapi kata Arab "Dukhon" adalah "asap", setelah diteliti "asap" adalah lebih tepat dibanding kan dengan gas.

Dan menurut Stephen Hawkin, Ilmuan yang sangat terkenal, dia berkata “the discovery of bridges of matter in the space, is the biggest discovery of this century which gives us indisputable evidence of the creation of the universe and the Big Bang Theory (Penemuan di bidang Astronomy di luar angkasa adalah penemuan terbesar abad ini, yang memberikan bukti tak terbantahkan dari Penciptaan Alam semesta adalah Teori Big Bang)”

Posting your comment.

Top of Form

Bottom of Form

BAB II

PENUTUP

A. Kesimpulannya

Dari surat-surat tersebut di atas terlihat bahwa secara umum proses terciptanya jagat raya ini berlangsung dalam 6 periode atau masa dimana tahapan dalam proses tersebut saling berkaitan. Disebutkan pula bahwa terciptanya jagat raya terjadi melalui proses pemisahan massa yang tadinya bersatu. Selain itu disebutkan pula tentang lebih dari satu langit dan bumi dan keberadaan ciptaan di antara langit dan bumi.

Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sebelum para ahli mengemukakan tentang teori big bang (yang dimulai sejak tahun 1920-an), ayat-ayat Al-Qur'an telah secara jelas menceritakan bagaimana alam semesta ini terbentuk.

B. Saran

Dari beberapa uraian di atas yang telah kami susun sangatlah sesuai dengan apa yang telah di sebutkan dalam Al-Qur'an dan para ahli ilmuan, dan dari semua itu merupakan hasil pemikiran yang telah kami kembangkan, akan tetapi dengan tersusunnya makalah ini kami selaku manusia biasa sangatlah memohon dan meminta kepada pembaca khususnya Dosen Pembimbing materi kuliah ini untuk merevisi atau mengkeritisi yang membangun demi sempurnanya makalah yang telah kami susun, dan tidak lupa kami ucapkan banyak terimakasih.



L Tarjemah Al-Qur'an: Depag.

PERBUATAN MANUSIA MENURUT ALIRAN MU'TAZILAH, ASY'ARIYAH DAN MATURIDIYAH

PERBUATAN MANUSIA MENURUT ALIRAN MU'TAZILAH, ASY'ARIYAH DAN MATURIDIYAH

BAB I

PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

Masalah perbuatan manusia termasuk pembahasan yang begitu kono jadi perbuatan manusia bukanla dciptakan Tuhan pada diri manusia, tetap manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatannya, menurut aliran mu'tazila.sedangkan aliran asy'ariyah mengemukakan dalam faham asy'ari manusia ditempatkan pada posisi yang lemah. Jadi aliran ini lebih dekat pada faham jabariyah sedangkan aliran maturidiyah masih ada perbedaan antara matudiriyah samarkand dan matudiriyah bakhara mengenai perbuatan manusia. Kolompok pertama lebih dekat dengan faham mu'tazilah sedangkan kelompok kedua lebih dekat pada faham asy'ariyah.


B. Rumusan Masalah

Banyak perbedaan yang menyebutkan tentang perbuatan manusia menurut aliran mu'tazilah,asy'ariyah dan maturidiyah. Makalah ini membahas tentang bagai mana perbuatan manusia menurut aliran Mu'tazilah,Asy'ariyah dan Maturidiyah. Apakah benar apa yang di sebutkan dalam Al-Qur'an terbukti dalam suroh As-Sajdah dan suroh Ash-Shffat. yang mendekati kebenaran perbedaan tersebut, makalah ini menyajikan dari berbagai aliran-aliran. mungkin antara ketiganya ada hubungan. dari apa yang telah diterangkan dalam buku ilmu kalam

.

C. Ruang Lingkup Pembahasan

1. Bagaimana perbuatan manusia menurut aliran mu'tazilah

2. Bagaimana perbuatan manusia menurut aliran asy'ariyah

3. Bagaimana perbuatan manusia menurut aliran maturidiyah




BAB II

PEMBASAN

A. Aliran Mu'tazilah

Aliran Mu'tazilah memandang manusia mempunyai daya yang besar dan bebas. Oleh karna itu, Mu'tazilah menganut faham qodariyah atau free will. menurut Al-Juba'i dan Abd Aljabbra. Manusialah yang menciptakan perbuata-perbuatannya. Manusia sendirilah yang membuat baik dan buruk. KepaTuhan dan ketaatan seseorang kepada Tuhan adalah atas kehendak dan kemauannya sendiri. Daya (al-istita'ah)untuk mewujudkan kehendak terdapat dalam diri manusia sebelum adanya perbuatan.

Perbuatan manusia bukanlah diciptakan Tuhan pada diri manusia, tetapi manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatannya. Lantas bagaimana dengan daya? Apakah diciptakan Tuhan untuk manusia, atau berasal dari manusia sendiri? Mu'tazilah dengan tegas mengatakan bahwa daya juga berasal dari manusia. Daya yang terdapat pada diri manusia aalah tempat terciptanya perbuatan.jadi, Tuhan tidak dilibatkan dalam perbuatan manusia. Aliran Mu'tazilah mengecam keras faham yang mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan. bagaimana mungkin, dalam satu perbuatan akan ada dua daya yang menentukan?

Dengan faham ini, aliran mu'tazilah mengaku Tuhan sebagai pencipta alam, sedangkan manusia berpihak sebagai pihak yang berkreasi untuk mengubah bentuknya.

Meski berpendapat bahwa Allah tidak menciptakan manusia dan tidak pula menentukannya, kalangan Mu'tazilah tidak mengingkari azali Allah yang mengetahui segala apa yang akan terjadi dan diperbuat manusia, pendapat inilah yangmembedakannya dari penganut qodariah murni.

Untuk membela fahamnya, aliran Mu'tazilah mengungkapkan ayat berikut:

ألذى أحسن كل شێ خلقه (السجدة : ۷)

Artinya:

"Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya". (QS. As-Sajdah: 7).

Yang dimaksud dengan ahsana pada ayat di atas, adalah semua pebuatn Tuhan adalah baik.denga demikian, perbuatan manusia bukanlah per buatan Tuhan, karena perbuatan manusia terdapat perbuatan jahat. Dalil ini di kemukakan untuk mempertegas bahwa manusia akan mendapat balasan atas perbuatannya. Sekirany perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan, balasan dari Tuhan tidak ada artinya.

Disamping argumentasi naqliah di atas, aliran Mu'tazilah mengemukakan argumentasi berikut ini.

  1. Kalau Allah menciptakan perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri tidak mempunyai perbuatan, batAllah taklif syar'i. hal ini karena syariat adalah ungkapan perintah dan larangan yang merupakan thalap pemenuhan thalap tidak terlepas dari kemampuan, kebebasan, dan pilihan.

b. Kalau manusia tidak bebas untuk melakukan perbuatannya. Runtuhlah teori pahal dan hukuman yang muncul dari konsep faham al-wa'dwaal-wa'id(janji dan ancaman). Hal ini karma perbuatan itu menjadi tidak dapat di sandarkan kepadanya secara mutlak sehingga bersekoensi pujian atau celaan.

c. Kalau manusia tidak mempunyai kebebasan dan pilihan, pengutusan para nabi tidak ada gunanya sama skali. Bukankah tujuan pengutusan itu adalah dakwa dan dakwa harus di barengi kebebasn pilihan?

Konsikoensi lain dari faham di atas, Mu'tazilah berpendapat bahwa manusiaterlibat dalam penentuan ajal karena ajal itu ada dua macam, pertama, adalah al-ajal ath-thabi'i. ajal inilah yang di pandang mu'tazilah sebagai kekuaaan mutlak Tuhan untuk menentukannya. Adapun jenis yang kedua adalah ajal yang dibikin manusia untuk sendiri misalnya membunuh seseorang, atau bunuh diri di tiang gantungan, atau menum racun. Ajal yang ini dapat dipercepat dan diperlambat.

B. Aliran Asy'ariyah

Dalam faham Asy'ari manusia di tempatkan pada posisi yang lemah. Ia di ibaratkan anak kecil yang tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Oleh karana itu, aliran ini lebih dekat dengan paham jabariah dari pada dengan faham Mu'tazilah untuk menjeleskan dasr pijakannya, asy'ari,.pendiri aliran asy'ariyah, memakai teori al-kasb (acquisition, perolehan). Teori Al-Kasb Asy'ari dapat di jelaskan sebagai berikut. Segala sesuatu terjadi dengan perantaraan daya yang di ciptakan, sehingga menjadi perolehan bagi muktasib yang memproleh kasab untuk melakukan perbuatan. Sebagai konsekoensi dari teori kasb ini, manusia kehilangan keaktifan, sehingga manusia bersifat pasif dalm perbuatan-perbuatannya.

Argumen yang diajarkan oleh Al-Asa;ari untuk membela keyakinannya adalah firman Allah:

والله خلقكم وما تعملون (الصافات : 6۹)

Artinya::

"Tuhan menciptakan kamu apa yang kamu perbua". (Q.S. Ash-Shaffat [37]:96)

Wama ta'malun pada ayat diatas di artikan al-asy'ari dengan apa yang kamu perbuat dan bukan apa yang kamu perbuat.denga demikian, ayat inimengandung arti Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatanmu dengan kata lain, dalam faham asy'ari, yang mewujudkan kasb atau perbuatann manusia sebenarnya adalah Tuhan sendiri.

Pada prinsipnya aliran asy'ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya. Allah menciptakan perbuatan untuk manusia dan menciptakan pula pada diri manusia, daya untuk melahirkan perbuatan tersebut. Jadi, perbuatan di sini adalah ciptaan Allah dan merupakan kasb (perolehan) bagi manusia. Dengan demikian kasb mempunyai pengertian penyertaan perbuatan dengan daya manusia yang baru. Ini berimplikasi bahwa perbuatan manusia di barengi oleh daya kehendaknya, dan bukan atas daya kehendaknya.

C. Aliran Maturidiyah

Ada perbedaan antara Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah bukhara mengenai perbuatan manusia. Kelompok pertama lebih dekat dengan faham mu'tazilah, sedangkan kelompok kedua lebih dekat dengan faham Asy'ariyah. Kehendak dan daya berbuat pada diri manusia, menurut Maturidiyah Semarkand, adalah kehendak dan daya manusia dalam kata arti sebenarnya, dan bukan dari kiasan. Perbedaannya dengan Mu'tazilah adalah bahwa daya untuk berbuat tidak di ciptakan sebelumnya, tetapi bersama-sama dengan perbuatannya. Daya yang demikian porsinya lebih kecil dari pada daya yang terdapat dalam faham Mu'tazilah.oleh karena itu, manusia dalam faham Al-Maturidi, tidaklah sebebas manusia dalam Mu'tazilah.

Maturidiyah Bakhara dalam banyak hal sependapat dengan maturiyah samarkand. Hanya saja golongan ini memberikan tambahan dalam masalah daya. Manusia tidak mempunyai daya untuk melakukan perbuatan, hanya Tuhan lah yang dapat menciptakan, dan manusia hanya dapat melakukan perbuatan yang telah diciptakan Tuhan baginya.

  1. Asal-Usul Maturidiya

Aliran maturidiyah lahir di samarkand, pertengahan kedua dari abad IX M. pendurinya adalah Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Almaturidi. Riwayatnya tidak banyak diketahui. Ia sebagai pengikut Abu Hanifa sehingga paham teologinya memiliki banyak persamaan dengan paham-paham yang dipegang Abu Hanifa. Sistem pemikiran aliran maturidiyah, termasuk golongan teologi ahli sunah.

Untuk mengetahui sistem pemikiran Al-maturidi, kita bisa meninggalkan pikiran-pikiran Asy’aryah dan aliran mu’tasilah, sebab ia tidak lepas dari suasana zamannya. Maturidiyah dan asy’aryah sering terjadi persamaan pendapat karena persamaan lawan yang dihadapinya yaitu mu’tazilah. Namun, perbedaan dan persamaannya masih ada.

Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya banyak menggunakan rasio. Hal ini mungkin banyak dipengaruhi oleh Abu Hanifa karena Al-maturidi sebagai pengikat Abu Hanifa. Dan timbulnya aliran ini sebagai reaksi terhadap mu’tazilah.

  1. Pokok-Pokok Ajaran Maturidiyah, adalah:

1. Kewajin mengetahui Tuhan. Akal semata-mata sanggup mengetahui Tuhan. Namun itu tidak sanggup dengan sendirinya hukum-hukum takliti (perintah-perintah Allah SWT)

2. Kebaikan dan kerburukan dapat diketahui dengan akal

3. Hikmah dan tujuan perbuatan Tuhan

Perbuatan Tuhan mengandung kebijaksanaan (hikmah). Baik dalam cipta-ciptaannya maupun perintah dan larang-larangannya, perbuatan manusia bukanlah merupakan paksaan dari Allah, karena itu tidak bisa dikatakan wajib, karena kewajiban itu mengandung suatu perlawanan dengan iradahnya

  1. Golongan-Golongan Didalam Maturidiyah

Ada dua golongan didalam maturidiyah yaitu ;
1. Golongan Samarkand

a. Yang menjadi golongan ini dalah pengikut Al-maturidi sendiri, golongan ini cenderung ke arah paham mu’tazilah, sebagaimana pendapatnya soal sifat-sifat Tuhan, maturidi dan asy’ary terdapat kesamaan pandangan, menurut maturidi, Tuhan mempunyai sifat-sifat, Tuhan mengetahui bukan dengan zatnya, melainkan dengan pengetahuannya. Begitu juga Tuhan berkuasa dengan zatnya. Mengetahui perbuatan-perbuatan manusia maturidi sependapat dengan golongan mu’tazilah, bahwa manusialah sebenarnya menwujudkan perbuatan-perbutannya. Apabila ditinjau dari sini, maturidi berpaham qadariyah.
Maturidi menolak paham-paham mu’tazilah, antara lain dalam soal Tidak sepaham mengenai pendapat mu’tazilah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk.

b. Al-Salah wa Al-Aslah

c. Paham posisi menengah kaum Mu’tazilah Namun Maturidi juga sepaham dengan Mu’tazilah dalam soal al-waid wa al-waid. Bahwa janji dan ancaman Tuhan, kelak pasti terjadi. Demikian pula masalah Antropomorphisme. Dimana Maturidi berpendapat bahwa tangan wajah Tuhan, dan sebagainya seperti pengambaran Al-Qur’an. Mesti diberi arti kiasan (majazi). Dalam hal ini. Maturidi bertolak belakang dengan pendapat Asy’ary yang menjelaskan bahwa ayat-ayat yang menggambarkan Tuhan mempunyia bentuk jasmani tak dapat diberi interpretasi (ditakwilkan)

2. Golongan Bukhara

Golongan Bukhara ini dipimpin oleh Abu Al-yusr Muhammad Al-Bazdawi. Dia merupakan pengikut maturidi yang penting dan penerus yang baik dalam pemikirannya. Nenek Al-Bazdawi menjadi salah satu murid maturidi. Dari orang tuanya, Al-Bazdawi dapat menerima ajaran maturidi.

Dengan demikian yang di maksud golongan Bukhara adalah pengikut-pengikut Al-Bazdawi di dalam aliran Al-maturidiyah, yang mempunyai pendapat lebih dekat kepada pendapat-pendapat Al-asy’ary.

Namun walaupun sebagai aliran Maturidiyah. Al-Bazdawi tidak selamanya sepaham dengan maturidi. Ajaran-ajaran teologinya banyak dianut oleh sebagin umat Islam yang bermazab Hanafi. Dan pemikiran-pemikiran maturidiya sampai sekarang masih hidup dan berkembang dikalangan umat Islam.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulannya

Dari beberapa penjelasan diatas memjelaskan pemikiran dan sudut pandang dalam menyikapi Tuhan dengan manusia adalah Tuhan sebagai pencipta alam, sedangkan manusia berpihak sebagai pihak yang berkreasi untuk mengubah bentuknya.

Aliran Asy'ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya. Allah menciptakan perbuatan untuk manusia dan menciptakan pula pada diri manusia, daya untuk melahirkan perbuatan tersebut.

Menurut aliran Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya banyak menggunakan rasio. Hal ini mungkin banyak dipengaruhi oleh Abu Hanifa karena Al-maturidi sebagai pengikat Abu Hanifa. Dan timbulnya aliran ini sebagai reaksi terhadap mu’tazilah.

B. Saran

Dari beberapa uraian di atas yang telah kami susun sangatlah sesuai dengan apa yang telah di sebutkan dalam buku (ilmu kalam) dan dari semua itu merupakan hasil pemikiran yang telah kami kembangkan.

Dengan adanya makalah ini maka dapat kami sarankan bahwa kita selaku umat islam haruslah benar-benar berprilaku yang baik dan bertindak dengan baik supaya tidak menyimpang dari ranah-ranah yang telah ditentukan oleh Allah SWT dan dicontohkan terhadap Nabi Muhammad SAW. Dan dengan tersusunnya makalah inipula lah kita jadikan sebagai bahan acuan dan pertimbangan. Walaupun semua pendapat manusia itu belum tentu selamanya benar dan juga salah.

mohon ... klo udah baca posting kami, jangan lupaaaaaaaaaaaa kasi komentar yaaa .... n saran konstruktif ....................


thanks yaa atas komentar kaliaaannnnnnnnnnnnnnn !!!!!