"الله جميل يحبّ الجمال"

Allah Itu Indah, Mencintai Keindahan

Selasa, 02 Juni 2009

PROGRAM AKSELERASI DAN PENDIDIKAN LIFE SKILL

PROGRAM AKSELERASI

DAN

PENDIDIKAN LIFE SKILL

MAKALAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Isu-Isu Kontemporer Pendidikan Islam Yang Dibina Oleh Bapak Zainul Hasan

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

MEI 2009

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Program Akselerasi dan Pendidikan Life Skill. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar muhammad SAW serta pada pengikutnya sampai akhir zaman.

Pada kesempatan ini kami pergunakan untuk mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini khususnya kepada Bapak Zainul Hasan selalu dosen pembimbing dari mata kuliah Isu-Isu Kontemporer Pendidikan Islam.

Dan kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya. Karena itu saran dan kritik dari para pembaca sangat kami harapkan dan akan diterima dengan hati terbuka.

Akhirnya kepada-Nya jualah kami mohon taufik dan hidayah-Nya, semoga makala ini bermanfaat. Amien .…

Pamekasna, Mei 2009

Penulis

Kelompok 09


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Memasuki era globalisasi di abad XXI diperlukan suatu paradigma baru dalam sistem pendidikan dunia, dalam rangka mencerdaskan umat manusia dan memelihara persaudaraan. Pemikiran tersebut telah disadari oleh UNESCO yang merekomendasikan “empat pilar pembelajaran” untuk memasuki era globalisasi yaitu learning to know or learning to learn, learning to do, learning to be dan learning to give together.

Searah dengan empat pilar pembelajaran, muncul suatu pertanyaan tentang mana yang lebih penting antara belajar untuk hidup dan hidup untuk belajar. Oleh karena itu, empat pilar pembelajaran tersebut tidak bisa dilihat sebagai suatu yang berdiri sendiri, melainkan keempatnya merupakan suatu garis kontinum dalam proses pencapaiannya, tetapi di sisi lain dapat berbentuk hirarki karena kemampuan dibawahnya merupakan persyaratan bagi kemampuan yang lebih tinggi.

Untuk itu, sistem pendidikan yang mencanangkan suatu sistem pendidikan yang diantaranya yaitu, program akselerasi dan pendidikan life skill. Dan keduanya akan kami bahas dalam judul makalah ini.

B. Rumusan Masalah

  • Apa yang dimaksud dengan program akselerasi dan pendidikan life skill?
  • Bagaimana tujuan serta landasan dari program akselerasi dan pendidikan life skill?

C. Tujuan Penulisan

  • Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan program akselerasi dan pendidikan life skill
  • Untuk mengetahui bagaimana tujuan serta landasan dari program akselerasi dan pendidikan life skill

BAB II

PEMBAHASAN

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Repuplik Indonesia tahun 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. untuk mewujudkan cita-cita itu diperlukan perjuangan seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan merupakan pilar tegaknya bangsa; melalui pendidikanlah bangsa akan tegak mampu menjaga martabat. Dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 disebutkan “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk wata serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1]

Dalam hal ini, sistem pendidikan dapat dirancang sehingga dapat menjanjikan kemajuan maupun kemunduran. Setiap genarasi mendapat proporsi yang sama dalam mengenyam pendidikan.[2] Perlu diadakannya inovasi dalam dunia pendidikan guna meningkatkan mutu pendidikan sehingga pendidikan akan mengalami kemajuan.

A. PROGRAM AKSELERASI

  1. Pengertian

Pengertian accleration diberikan oleh Pressey (1949) suatu kemajuan yang diperoleh dalam program pengajaran, pada waktu yang lebih cepat atau usia yang lebih mudah dari pada konvensional.[3] Dengan kata lain peserta didik dapat menyesuaikan cara belajarnya lebih cepat dari siswa lainnya (siswa yang mengikuti program reguler).

Secara singkat akselerasi mengandung pengertian:[4]

· Sebagai model pembelajaran yaitu lompat kelas, dimana peserta didik berbakat yang memiliki kemampuan unggul diberi kesempatan untuk mengikuti pelajaran pada kelas yang lebih tinggi.

· Kurikulum atau akselerasi program, menunjuk pada peringkasan program sehingga dapat dijalankan dalam waktu yang lebih cepat.

· Memperoleh konten materi dengan nama yang lebih dipercepat sesuai dengan kemampuan potensial siswa.

  1. Tujuan penyelenggaraan program akselerasi[5]

a. Tujuan umum

· Memenuhi kebutuhan peserta didik yang memiliki karakteristik spesifik dari segi perkembangan kognitif dan afektif

· Memenuhi hak asasi manusia peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan bagi dirinya sendiri.

· Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan peserta didik

· Memenuhi kebutuhan aktualisasi diri peserta didik

· Menimbang peran serta peserta didik sebagai aset masyarakat dan kebutuhan masyarakat untuk pengisian peran.

· Menyiapkan peserta didik sebagai pemimpin masa depan.

b. Tujuan khusus

Memberikan penghargaan untuk dapat menyelesaikan program pendidikan secara lebih cepat.

· Meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran peserta didik

· Mencegah rasa bosan terhadap iklim kelas yang kurang mendukung berkembangnya potensi keunggulan peserta didik secara optimal

· Memacu mutu siswa untuk peningkatan kecerdasan spritual, intelektual dan emosional secara seimbang.

  1. Landasan program akselerasi[6]

Landasan dan pengembangan sistem pembelajaran program akselerasi adalah sesuai dengan Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional yang tertuang dalam :

· Pasal 8 ayat 2

Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus

· Pasal 24 ayat 1 dan 6

Setiap peserta didik berhak mendapatkan perlakuan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan dan berhak menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan.

· Pasal 26

Peserta didik berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan dirinya dengan belajar pada saat dalam perjalanan hidupnya sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan masing-masing.

Garis – Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999

· Butir 1

Yaitu mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya manusia Indonesia berkualitas tinggi dengan peningkatan anggota pendidikan secara berarti.

· Butir 7

Yaitu mengembangkan kualitas SDM sedini mungkin secara terarah, terpadu, dan menyentuh melalui berbagai upaya proaktif dan reaktif oleh seluruh komponen bangsa agar generasi muda dapat berkembang secara optimal disertai dengan hak dukungan dan lindungan sesuai dengan potensinya.

B. Pendidikan life skill

  1. Pengertian

Pendidika life skill (pendidikan kecakapan hidup) adalah pendidikan yang dapat memberikan bekal keterampilan yang praktif, terpakai. terkait dengan kebutuhan pasar kerja, peluang usaha dan potensi ekonomi atau industri yang ada di masyarakat.[7]

Pendidikan life skill menjadi dua jenis utama, yaitu:[8]

a. Kecakapan hidup yang bersifat generik (Generic life skill/GLS). Yaitu:

· Kecakapan personal (personal skill/PS)

· Kecakapan sosial (sosial skill/SS)

b. Kecakapan hidup spesifik (specific life skill / SLS) yaitu :

· Kecakapan akademik (Academic skill) atau Kecakapan intelektual

· Kecakapan vokasional (Vocational skill)

  1. Tujuan life skill[9]

a. Tujuan umum

Pendidikan yang diselenggaran melalui jalur pendidikan non formal bertujuan untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan sikap warga belajar di bidang pekerjaan / usaha tertentu sesuai dengan bakat, minat, perkembangan fisik dan jiwanya serta potensi lingkungan, sehingga mereka memiliki bekal kemampuan untuk bekerja atau berusuha mandiri yang dapat dijadikan bekal untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

b. Tujuan khusus

Memberikan pelayanan pendidikan life skill kepada warga belajar agar :

· Memiliki keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dibutuhkan dalam memasuki dunia kerja

· Memiliki motivasi dan etos kerja yang tinggi serta dapat menghasilkan karya-karya yang unggul dan mampu bersaing di pasar global

· Memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya pendidikan untuk dirinya sendiri maupun anggota keluarganya.

· Mempunyai kesempatan sama untuk memperoleh pendidikan sepanjang hayat (life long education) dalam rangka mewujudkan keadilan di setiap lapisan masyarakat.

  1. Landasan pendidikan life skill[10]

a. Secara filosofis pendidikan diartikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peseta didik, sehingga siap digunakan untuk menyelesaikan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan juga sebagai hasil transaksi, yaitu proses memberi dan mengambil, antara manusia dan lingkungan. Pendidikan merupakan proses dan dengan itu manusia mengembangkan dan menciptakan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk merubah dan memperbaiki kondisi-kondisi kemanusiaan dan lingkungan.

b. Secara historis, pendidikan sudah ada sejak manusia ada di muka bumi ketika sistem kehidupan masih sederhana, oran tua mendidik anaknya, atau anak belajar dari orang tuanya atau dari lingkungan sekitarnya.

c. Landasan yuridis pendidikan life skill mengacu pada undang-undang Repuplik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Pada pasal 1 ayat (1) dijelaskan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Jadi pada akhirnya tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik agar nantinya mampu meningkatkan dan mengembangkan dirinya sebagai pribadi dan anggota masyarakat dalam kehidupan nyata.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam kajian tentang program akselerasi dan pedidikan life skill ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Yaitu antara konsep program akselerasi dan pendidikan life skill terdapat satu tujuan yang sama, menciptakan paradigma baru dalam rangka mencerdaskan umat manusia dan meningkatkan mutu pendidikan serta mengembangkan kreatifitas anak didik serta dengan bakatnya. Sekalipun begitu terdapat banyak perbedaan antara program kaselerasi maupun pendidikan life skill baik dari segi pelaksanaannya, landasan dan metodenya. Dari perbedaan tersebut butuh pengkajian yang khusus dan upaya merealisasikannya dalam sistem pendidikan di Indonesia, dan karenanya harus ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan tujuan tersebut.

B. Saran

Orang bijak mengatakan bahwa “tak ada gading yang tak retak”. Tidak ada sesuatupun dijagad raya ini yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata. Begitu pula dengan penyajian makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan masukan-masukan yang berupa kritik maupun saran yang bersifat membangun guna pembuatan makalah selanjutnya. Sehingga kami dapat membenahi sedikit demi sedikit kesalahan maupun kekurangan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

· Anwar, Pendidikan Kecakapan Hidup (life skills education): Konsep dan Aplikasi, Bandung : CV Alfabeta, 2004

· N. Thut dan don adams, Pola-Pola Pendidikan Dalam Masyarakat Kontemporer: seri pendidikan perbandingan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005

· Http://apa-adanya.blogspot.com/2007/11/permasalahanprogrampembelajaran.html

· Http://smpn1bpn.sch.id/index.php?option=comcontent&task=view&id=12&itemid=32

· Http://mixingbloging.blogspot.com/2007/06/konsep-dasar-life-skill.html

· Http://bpkb-dikpora.gorontaloprov.go.id/index.php?option=comcontent&task=view&id=49&itemid=52

· Http://ahmadasen.wordpress.com/2009/01/26/pendidikan-life-skill/

· Http://tunas63.wodpress.com/2008/11/07/visi-misi-dan-tujuan-pendidikan-nasional/



[1] http://tunas63.wodpress.com/2008/11/07/visi-misi-dan-tujuan-pendidikan-nasional/

[2] N. Thut dan Don Adams, Pola-pola Pendidikan dalam Masyarakat Kontemporer: seri pendidikan perbandingan (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005), hlm., 526

[3] http://apa-adanya.blogspot.com/2007/11/permasalahan-programpembelajaran.html

[4] http://smpn1bpn.sch.id/index.php?option=comcontent&task=view&id=12&itemid=32

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Anwar, Pendidikan Kecakapan Hidup (life skills education): konsep dan aplikasi (Bandung : CV lfabeta, 2004), html., 20

[8] http://mixingbloging.blogspot.com/2007/06/konsep-dasar-life-skill.html

[9] http://bpkb-dikpora.gorontaloprov.go.id/index.php?option=comcontent&task=view&id=49&itemid=52

[10] http://ahmadasen.wordpress.com/2009/01/26/pendidikan-life-skill/

DIAGNOSA KESULITAN BELAJAR

DIAGNOSA KESULITAN BELAJAR

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan Dan Konseling Yang Bina Oleh Bapak Farid Firmansyah, MM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

MEI 2009

KATA PENGANTAR



Bismillahirrahmanirrahim.

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. karena atas rahmat dan hidayahnya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Bimbingan dan Konseling, yang dibimbing oleh Farid Firmansyah, MM dengan judul Diagnosa Kesulitan Belajar sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi kita, yaitu Nabi Muhammad saw. yang telah membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat sekaran ini.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu kami mohon saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.


Penulis


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik yang memuaskan. Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluagra, kebiasaan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa lainnya.

Prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap siswa jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan dan gangguan. Namun ancaman, hambatan dan gangguan tersebut di alami oleh siswa tertentu sehingga mereka mengalami kesulitan dalam belajar. Pada tingkat tertentu memang ada siswa yang dapat mengatasi kesulitan belajarnya tanpa harus melibatkan orang lain. Tetapi pada kasus – kasus tertentu, siswa belum mampu mengatasi kesulitan belajarnya maka bantuan guru atau orang lain sangat diperlukan oleh siswa.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian diagnosa kesulitan belajar?
  2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar?
  3. Bagaimana cara mengenali anak didik yang mengalami kesulitan belajar?
  4. Apa saja upaya mengatasi kesulitan belajar?

C. Tujuan Penulisan Makalah

  1. Untuk mengetahui pengertian diagnosa kesulitan belajar
  2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar
  3. Untuk mengetahui ciri-ciri anak didik yang mengalami kesulitan belajar
  4. Untuk mengetahui upaya mengatasi kesulitan belajar


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian diagnosa belajar

Kata diagnosa berasal dari bahasa Yunani yaitu penentuan jenis penyakit dengan meneliti (memeriksa) gejala-gejala atau proses pemeriksaan terhadap hal yang dipandang tidak beres.[1] The national joint committee for learning disabilities merumuskan bahwa kesulitan belajar adalah kesulitan nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, berfikir, kemampuan matematis karena disfungsi sistem saraf pusat.[2] Dalam bahasa yang sangat sederhana dan ringkas, kesulita belajar adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat melakukan proses belajar sebagaimana mestinya disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar.[3]

Dengan demikian secara terminologis Diagnosa kesulitan belajar adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh guru atau penyuluhan terhadap murid yang diduga mengalami kesulitan belajar untuk menentukan jenis dan kekhususan kesulitan belajar yang dihadapi.[4]

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar

secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kesulitan belajar sebagai berikut:

  1. Faktor intern yaitu faktor yang terjadi dari dalam individu yang terdiri dari:

a. Kesulitan belajar yang disebabkan oleh sakit dan fisik yang kurang sehat. jika seseorang mengalami gangguan kesehatan maka syaraf sensorif dan motorisnya lemah yang berakibat rangsangan yang diterima melalui inderanya tidak dapat diteruskan ke otak.

b. Kesulitan belajar yang disebabkan oleh kondisi fisik yang lemah seperti kurang gizi, lemas , yang mengakibatkan cepat letih, kurang konsentrasi, mengantuk dan sering pusing. Hal ini akan mengakibatkan penerimaan dan respon belajar kurang sehingga saraf tidak mampu bekerja secara optimal.

c. Kesulitan belajar yang disebabkan oleh cacat fisik yang berupa cacata tubuh ringan seperti rabun dekat, rabun jauh, kurang mendengar, dan cacat tubuh permanen seperti butu, tuli dan bisu. Mereka yang mengalami cacat tubuh ringan harus diperlakukan khusus seperti duduk di depan, sedankan mereka yang memiliki cacat tubuh permanen maka ia harus menjalani pendidikan di lembaga pendidikan khusus (SLB).

d. Kesulitan belajar yang disebabkan oleh gangguan yang bersifat psikologis yang terdiri dari:

- Intelegensi

Rendahnya intelegensi dapat mengakibatkan anak didik mengalami kesulitan belajar untuk mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung.

- Bakar

Seseorang yang tidak mempunyai bakat yang sesuai dengan subyek pelajaran yang sedang dipelajari maka akan mengakibatkan kesulitan belajar karena ia cenderung butuh waktu relatif lama untuk dapat menguasai pelajaran itu.

- Minat

Seseorang yang tidak memiliki minat terhadap subyek pelajaran maka ia akan tidak merasakan adanya kebutuhan pelajaran itu. Hal ini dapat menghilangkan atau mengurangi keseriusan dan kasenangannya dalam belajar.

- Motivasi

Seseorang yang mempunyai motivasi tinggi maka ia akan serius untuk belajar. Jika seseorang memiliki motivasi rendah maka ia kurang semangat dan tidak sungguh-sungguh dalam belajar.[5]

  1. Faktor ekstern yaitu faktor yang berasal dari luar individu yakni semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa, meliputi:

a. Faktor lingkungan keluarga seperti cara orang tuanya mendidik anaknya, hubungan orang tua dan anak, keharmonisan keluarga, dan keadaan ekonomi keluarga.

b. Faktor sekolah seperti hubungan guru dengan murid, media pengajaran, kualifikasi guru, kondisi gedung, kurikulum, kedisiplinan guru, kompetensi guru barik kompetensi personal, profesional, maupun kompetensi moral.

c. Faktor lingkungan sosial dan media massa serta teman bergaul, tetangga, aktifitas di masyarakat, televisi, bioskop dan surat kabar.[6]

C. Cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar

Anak didik yang mengalami kesulitan belajar dapat diidentifikasikan dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Menunjukkan prestasi yang rendah di bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas.
  2. Lambat dalam menyelesaikan tugas-tugas di kelas sehingga ia sering tertinggal dalam pelajaran.
  3. Menunjukkan sikap yang acuh, dusta, kurang konsentrasi dan tidak semangat.
  4. Hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan, misalnya seorang anak didik yang belajar keras namun hasilnya tetap rendah.
  5. Anak didik yang tergolong memiliki IQ tinggi yang secara potensial mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi tetapi kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
  6. Anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian besar mata pelajaran tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.[7]

D. Upaya mengatasi kesulitan belajar

Untuk mengatasi kesulitan belajar yang di alami oleh siswa, maka pertama kali harus dilakukan identifikasi terhadap keadaan siswa yang menunjukkan kesulitan belajar. Proses identifikasi inilah yang disebut dengan diagnosa yang bertujuan untuk menentukan jenis kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.

Dalam diagnosis kesulitan belajar siswa, dikenal dengan langkah-langkah yang di antaranya direkomendasikan sebagai berikut:

  1. Melakukan observasi kelas untuk melihat prilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
  2. Memeriksa penglihatan dan pendengaran sisiwa yang diyakini mengalami gangguan kedua indera itu.
  3. Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
  4. Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) bagi anak yang diyakini memiliki IQ di bawah rata-rata.
  5. Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.[8]

Mulyono Abdurrahman mengutip Barbara Clark, menawarkan pendidikan intelegensi sebagai suatu sistem pendidikan yang diyakini sebagai upaya mengatasi kesulitan belajar. Pendidikan tipe ini merupakan upaya integrasi antara pemikiran barat yang rasional dengan pemikiran timur yang intuitif. Pendidikan integratif ditafsirkan sebagai pendidikan yang berupaya:

  1. Mengintegrasikan antara anak yang tidak normal dengan normal
  2. Mengintegrasikan pendidikan luar biasa dengan pendidikan pada umumnya.
  3. Mengintegrasikan dan mengoptimalkan perkembangan kognisi, emosi, jasmani dan intuisi.
  4. Mengintegrasikan anak didik sebagai makhluk individual dan makhluk sosial.
  5. Mengintegrasikan antara subjek/materi pelajaran dengan kehidupan masa depan anak.
  6. Mengintegrasikan antara falsafah dan pandangan hidup dengan seni.[9]

Sedangkan Abu Ahmadi menawarkan langkah-langkah untuk mengatais kesulitan belajar sebagai berikut:

  1. Pengumpulan data yang terdiri dari observasi, kunjungan rumah, case study, case history, daftar pribadi, meneliti pekerjaan anak, tugas kelompok, melaksanakan tes.
  2. Pengolahan data yang terdiri dari identifikasi kasus, membandingkan antara kasus, memandingkan dengan hasil tes dan menarik kesimpulan.
  3. Diagnosis yang meliputi keputusan tentang jenis kesulitan belajar anak, faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak, dan faktor penyebab utama kesulitan belajar anak dengan meminta bantuan dokter, psikiater, pekerja sosial guru kelas dan orang tua.
  4. Prognosis sebagai follow up dari diagnosis untuk menentukan treatment yang harus diberikan, bahan materi yang diperlukan, metode yang digunakan, alat bantu belajar yang diperlukan, waktu dan tempat pelaksanaan.
  5. Treatment (perlakuan) dilakukan melalui bimbingan belajar kelompok, bimbingan belajar individual, pengajaran remedial pelajaran tertentu, bimbingan pribadi atas kesulitan belajar secara psikologis, dan bimbingan orang tua.[10]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Diagnosis adalah penentuan jenis penyakit dengan meneliti (memeriksa) gejala-gejala atau proses pemeriksaan terhadap hal yang dipandang tidak beres. Sedangkan kesulitan belajar adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat melakukan proses belajar sebagaimana mestinya. Jadi diagnosis kesulitan belajar adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh guru atau penyuluh terhadap murid yang diduga mengalami kesulitan belajar untuk menentukan jenis dan kekhususan kesulitan belajar yang dihadapi.

Faktor-faktor timbulnya kesulitan belajar yaitu dari faktor intern meliputi gangguan fisik dan psikologis. Dan faktor ekstern meliputi faktor keluarga, sekolah dan lingkungan sosial.

Anak didi yang mengalami kesulitan belajar dapat diidentifikasikan dengan ciri-ciri anak didik menunjukkan prestasi yang rendah dibawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas, lambat menyelesaikan tugas-tugas di kelas, hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, dan menunjukkan sikap acuh tak acuh, dusta, kurang konsentrasi dan tidak semangat.

Untuk mengatasi kesulitan belajar diperlukan beberapa langkah diantaranya:

- Melakukan observasi kelas

- Memeriksa penglihatan dan pandangan siswa

- Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu

- Memberikan tes kemampuan intelengensi (IQ)

B. Saran

Kami sebagai penulis apabila dalam penulisan dan penyusunan makalah ini terdapat kekurangan dan kelebihan maka kritik dan saran dari pembaca dan pembimbing kami harapkan sehingga tanpa dukungan dan saran pembimbing sangat jauh bagi kami untuk mencapai kesempurnaan.

Akhirnya, hanya kepada Allah penulis selalu mengharap ridha-Nya, semoga dari penulisan yang terbatas ini, bisa mendatangkan manfaat yang tiada batas. Amien...

DAFTAR PUSTAKA

- Abdurrahman, Mulyono. Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta, 2003

- Ahmadi, Abu. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta, 2003

- Djamarah, Syaiful Bahri. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta, 2002

- Said, Bustami . Buku Ajar Prinsip – Prinsip Pengelolaan Pembelajaran. Pamekasan : Stain Pamekasan Press, 2006

- Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007



[1] Bustami Said, Buku Ajar Prinsip-Prinsip Pengelolaan Pembelajaran, (Pamekasan : Stain Pamekasan Press, 2006), hlm., 55

[2] Muchlis Shalihin, Buku Ajar Psikologi Belajar PAI, (Pamekasan : Stain Pamekasan Press, 2006), hlm., 58

[3] Abu Ahmadi, Psikologi Belajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003), hlm., 77

[4] Said, Buku Ajar Prinsip-prinsip, hlm., 55

[5] Shalihin, Buku Ajar Psikologi, hlm., 58 - 60

[6] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm., 183

[7] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 2002), hlm., 213

[8] Syah, Psikologi Belajar, hlm., 183

[9] Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003), hlm., 118

[10] Ahmadi, Psikologi Belajar, hlm., 97 - 100

mohon ... klo udah baca posting kami, jangan lupaaaaaaaaaaaa kasi komentar yaaa .... n saran konstruktif ....................


thanks yaa atas komentar kaliaaannnnnnnnnnnnnnn !!!!!