Upaya untuk menyingkap hakikat manusia secara utuh telah banyak menyita perhatian baik kalangan ilmuan filosof bahkan para agamawan sepanjang masa. Pendefinisian ini dipandang perlu untuk membantu manusia mengenal dirinya serta mampu menentukan bentuk aktivitas yang dapat mengantarkannya pada makna kebahagiaan yang sesungguhnya namun upaya tersebut gagal. Manusia hanya mampu menyingkap hakikat dirinya pada batas instrumen dan bukan pada substansi. Sulitnya mengingkap substansi manusia bahkan disadari oleh Alexis carrel. Carrel menyebut manusia sebagai makhluk misterius dan uniknya tak mampu ditelusuri secara keseluruhan. Ketidak mampuan manusia dalam menelusuri substansi dirinya secara utuh, disebabkan karena keterbatasan pengetahuan manusia tentang dirinya, terutama dalam menyingkap hal-hal rohaniah yang bersifat abstrak. Keterbatasan ini menurut Quraish Shihab disebabkan tiga faktor, yaitu pertama dalam sejarah kehidupannya, manusia lebih tertarik melakukan penyelidikan tentang alam materi (konkrit) dibandingkan pada material yang bersifat immaterial (abstrak). Kedua keterbatasam akal manusia yang hanya mampu memikirkan hal-hal yang bersifat instrumental ketimbang hal-hal yang substansial dan kompleks. Ketiga kompleks dan uniknya masalah manusia.
1.Istilah manusia dalam al-qur’an
Setidaknya ada tiga kta yang digunakan untuk mewujudkan makna manusia yaitu Al-basar, al-insan, dan al-naf, meskiupn ketiga kata tersebutmenunjuk pada makna manusia namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat pula di uraikan sebagai berikut:
a.Kata al-basyar dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 surat, secara etimologi, al-basyar berarti kulit kepala, wajah, atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut, penanaman ini menunjukkan makna bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah pada kulitnya, dibandingkan rambut bulunya. pada aspek ini terlihat perbedaan umum biologis manusia dengan hewan yang lebih di dominasi bulu atau rambut. Firman Allah dalam Q.S.18 : 110)
“Katakanlah sesunguhnya aku (Muhammad) hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku………. (Q.S. 18 : 110).
Dengan pemaknaan yang diperkuat umat diatas dapat dipahami bahwa seluruh manusia (Bumi adam 4-5) akan mengalami proses reproduksi seksual dan senantiasa berupaya untuk memenuhi semua kebutuhan biologisnya, memerlukan ruang dan waktu, serta tunduk terhadap hukum alamiahnya. baik yang berupa sunnahtullah (sosial-kemasyarakatan) maupun takdir allah (hukum alam).
b.Kata al-ihsan yang berasal dari kata al-uns dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 73 kali dan tersebear dalam 43 surat. secara etimologi al-ihsan digunakan al-qura’n untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Perpaduan antara aspek fisik dan psikis telah membantu manusia untuk mengembangkan dimensi al-ihsan yaitu sebagai makhluk berbudaya yangmampu berbicara mengetahui baik dan buruk, mengembangkan ilmu pengetahuan yang mampu berbicara mengetahui baik dan buruknya, mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban dan lain sebagainya, Allah berfirman :
“Ayahnya berkata : hai anakku, janganlah kamu ceritakan impianmu itu kepada sandara-saudaramu, maka mereka membuat makan (untuk membinasakanmu) sesungguhnya syaitan itu adalahmusuh yang nyata bagi manusia:. (Q.S. 12 : 5).
c.Kata al-nas dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 240 kali dan tersebar dalam 53 surat, kata al-nas menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya. dalam menunjukkan makna manusia, kata al-nas lebih bersifat umum bila dibandingkan dengan kata al-insan. seperti dalam firman Allah’ pada Q.S. 2 : 24.
“Maka jika kamu tidak dapat membuatnya dan pasti kamu tidak akan dapat membuanya, peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir (Q.S. 2 : 24).
2.Proses dan Tujuan Penciptaan Manusia
Pada hakikatnya penciptaan manusia dapat ditujukan dari dua asala pendekatan yaitu pertama proses penciptaan manusia pasca Adam (keturunan Adam) tercipta dari Nutfah dan kemudian mengalami proses panjang dan bertahap dalam hal ini allah SWT berfirman :
“Yang membuat segala sesuatu yang dia kemudian sebaik-baiknya dan yang memulai penciptann manusia dari tanah. Kemudian dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang bina (air mani) kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuhnya) roh (ciptaan-nya) dan dia menjadikan bagi kalian pendengaran. penglihatan dan hati tetapi kalian sedikit sekali yang bersyukur (Q.S. 32 : 7-4).
Analisis leteran dari ayat diatas menunjukkan bahwa penciptaan manusia mengandung bagian atau komponen dan proses yaitu adanya penciptaan, adanya bahan (materi) cara atau metode penciptaan, transformasi dan model khusus dari hasil akhir tahapan proses kejadian manusia sebagaimana isyarat yang telah dilukiskan dalam al-qur’an dapat dilihat kepada beberapa proses antara lain : pertama, nutfah yaitu sati pati makanan yang telah berubah menjadi air mani yang masuk kedalam rahim. Hal ini dinukilkan allah dalam al-qur’an.
“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (kedalam rahim). (Q.S. 75 : 37).
“Kedua sperma dalam rahim bercampur dengan ovum (gen sel produksi wanita kemudian terjadi pembuahan sel dalam rahim yang kemudian berproses menjadi segumpal darah.” dalam ayat lain allah juga berfirman
“kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu alllah menciptakannya dan menyempurnakannya (Q.S. 75 : 38).
ketika berproses menjadi segumpal daging untuk kemudian diciptakannya tulang belulang (kerangka manusia) yang dibalut dengan daging selama 40 har. fase-fase tersebut meliputi : Setelah terjadinya pembuahan antara sel sperma dan ovum dalam rahim berproses menjadi nutfah selama 40 hari, kemudian menjadi alaqah selama 40 hari dan kemudian menjadi mudlghah selama 40 hari, untuk kemudian ditiupkannya roh serta perlenkgpan manusia lainnya.
Keempat diciptakannya ruh dalam tubuh ciptaannya serta menetapkan ilmu, rezeki, ajal dan celaka-bahagia manusia pada tahap proses Allah berfirman :
“Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam tubuhnya juga roh (ciptaannya dan dia menkadi bagikamu pendengaran, penglihatan dan hati tetapi kamu sedikit sekali bersyukur (Q.S. 32 : 9).
Dari penjelasan diatas tergambarlah bahwa penciptaan manusia dalam proses alami (sunnatullah) terdiri dari 2 aspek pokok yairu aspek material dan aspek immaterial.
aspek material adalah jasmaniah (jasad) yaitu jisim manusia tubuh badan abu ishak menjelaskan
Manusia merupakan makhluk allah swt. yang sempurna sesuai dengan tugas fungsi dan tujuan penciptaannya sebagai khalifah filard dan terbaik bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. kelebihan manusia bukan hanya sekedar berbeda susunan fisik, tapi juga lebih jauh adalah kelebihan aspek psikisnya dengan totalitas potensinya masing-masing yang sangat mendukung bagi proses aktualitas diri pada posisinya sebagai makhluk mulia. integritas kedua unsur tersebut abersifat aktif dan dinamis sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman di mana manusia berada. dengan potensinya material dan spiritual tersebut, menjadikan manusia sebagai makhluk ciptaan allah swt. yang terbaik.secara sistematis pada proposisinya pengetahuan yang mencerminkan pengembangan totalitas kepribadian manusia secara utuh. untuk mengoptimalisasikan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik maka, pendidikan harus mampu mengarahkan peserta didik pada pengembangan diri secara totalitas. islam dengan ajaran yang universal tidak menghendaki adanya sistem pendidikan yang dikotomik parsial dalam menempatklan peserta didik baik teoritis maupun praktis peserta didik manawarkan sistem pensisikan yang integral dan mengempatkan sesuai dengan tuntutan yang digariskan oleh Allah SWT.
B.PENGERTIAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Secara etimologi pemikiran berasal dari kata dasar pikir, berarti proses, cara atau perbuatan memikir yaitu menggunakan akal budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu secara bijaksana. Dalam konteks ini pemikiran dapat diartikan sebagai upaya cerdas (ijtihady) dari proses kerja akal dan kalbu untukmelihat fenomena dan berusaha mencari penyelesaiannya secara bijaksana sedangkan pendidikan, secara umum berarti suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang (peserta didik) dalam usaha mendewasakan manusia (peserta didik),melalui upaya pengajaran dan latihan. Serta proses perbuatan dan cara-cara mendidik. Dengan berpijak pada definisi diatas. maka yang dimaksud dengan pemikiran pendidikan islam adalah proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan islam dan berupaya untuk membangun sebuah peradaban pendidikan yang mampu menjadi wahana bagi pembinaan dan pengembangan peserta didik secara paripurna.
C.TUJUAN DAN KEGUNAAN MEMPELAJARI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Secara khusus pemikiran pendidikan islam memiliki tujuan sangat komplek diantaranya adalah :
1.Untuk membangun kebiasaan berpikir ilmiah, dinamis dan kritis terhadap persoalan-persoalan di seputar pendidikan islam.
2.Untuk memberikan dasar berfikir inklusif terhadap ajaran islam dan akomodatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh intelektual diluar islam.
3.Untuk menumbuhkan semangat berijtihad, sebagaimana yang ditujukan oleh Rosulullah dan para kaum intelektual muslim pada abad pertama sampai abad pertengahan, terutama dalam merekonstruksi sistem pendidikan islam yang lebih baik.
4.Untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan sistem pendidikan nasional.
D.SEKILAS SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
Sejarah pendidikan sama usianya dengan sejarah manusia itu sendiri. keduanya tak dapat sipisahkan antara satu dengan yang lain. Manusia tidak akan bisa berkembang secara sempurna bila tidak ada pendidikan untuk itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sksistensi pendidikan merupakan salah satu syarat yang mendasar bagi meneruskan dan mengekalkan kebidayaan manusia. Disini, fungsi pendidikan berupaya menyesuaikan kebudayaan lama dengan kebudayaan lama dengan kebudayaan baru secara proporsional dan dinamis. Wacana pemikiran pendidikan islam masa nabi sudah tentu tidak sesistematis dan secanggih yang ada sekarang ini. Meskipun demikian perhatian umat terhadap ilmu pengetahuan jelas sangat tinggi dan hal ini terwujud sesuai dengan kemungkinan kondisi sosial waktu itu. Ketika di makkah, proses pendidikan islam dilakukan Nabi dan para pengikutnya di dar al-arqam, sebagai pusat pendidikan dan dakwah. setidaknya ada empat alasan pentingnya pelacakan pendidikan dan sesudahnya, yaitu : pertama, dalam tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis, ada upaya pewarisan nilai kebudayaan antara generasi tua kepada generasi muda.bahkan pendidikan seringkali dijadikan tolak ukur layak atau tidaknya manusia menduduki dan melaksanakan amanat Allah sebagai khalifah fi al-ardh. sebagaimana firman Allah SWT.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa deraja”t. (Q.S. 28 : 11)
Munculnya dinamika penbaruan pemikiran pendidikan yang dilakukan sejumlah intelektual muslim dari masa ke masa, tidak terlepas dari kondisi objektif sosial-budaya dan sosial keagamaan umat islam itu sendiri. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa dinamika pemikiran intelektual muslim merupakan hasil refleksi terhadap kondisi umat islam pada zamannya. Sederetan intelektual muslim, sejak masa awal sampai pada era posmodernisme telah berupayamerekonstruksi guna terciptanya sistem pendidikan islam yang ideal. kelompok intelektual muslim tersebut antara lain adalah :
1.Ibnu Maskawih (Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’qub ibn Miskawih), lahir di rayy sekitar tahun 320 H./ 432 M. dan meninggal di isfaham pada tanggal 9 safar buwaihi yang berlatarbelakang mazhab syi’ah. Perhatiannya dalam menuntut ilmu sangat besar. Hal ini tercermin dari bidang ilmu pengetahuan yang ditekuninya. Dalam bidang sejarah umpamanya, ia belajar dengan Abu Bakar Ahmad ibn Kamil al-qadhi, filsafat dengan ibn al-khammar, dan kimia dengan Abu Thayyib. Pemikirannya tentang pendidikan lebih berorientasi pada pentingnya pendidikan akhlak. hal ini tercermin dari karya monumentalnya, Tahzib al-akhlaq. melalui karya tersebut Miaskawih menyetakan bahwa tujuan endidikan adalah terwujudnya sikap batin yang secara spontan mampu mendorong lahirnya perilaku dalam memperoleh kerimah-perilaku yang demikian akan sangat membantu peserta didik dalam memperoleh kesempurnaan dan kebahagiaan yang sejati.
2.Ibn Sina (Abu Ali al-Husaiyn ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn Sina) lahir pada tahun 370/ 980 di asyanah, Bukhara (dalam peta modern masuknya Turkistan) ia wafat oleh penyakit disentri pada tahun 428/ 1037 dan dimakamkan di Hamadan (sekarang dalam wilayah Iran). Hasil pemikiran dari Ibn Sina diantaranya :
a.Falsafah wujud
b.Falsafah Faidh
c.Falsafah Jiwa
3.Ibn Khaldum (Waliuddin Abdurrahman bin Muhamad bin Muhammad bin Hasan bin Jobir bin Muhammad binIbrahin bin Abdurrahman bin Walid bin Usman) lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M dan wafat di Kairo 25 Ramadhan 808 H/ 19 Maret 406 M.
Diantara stressing ruint pemikiran Khaldum adalah pada bidang pendidikan islam dalam melaksanakan pendidikan, maka menurut Khaldum paling tidak ada dua tujuan yang perlu disentuh yaitu jasmaniah dan rohaniah.
4.Muhammad Abdus ibn hasan Khairuddin, lahir pada tahun 1265 H/ 1849 M. Pada sebuah desa dipropinsi Gharbuyyah-ia lahir dari lingkungan petani sederhana yang taat dan sangat mencintai ilmu pengetahuan.
Menurut Abduh metode yang kuno sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan dewasa ini, sebab metode tersebut menurut tumbuhnya daya peserta didik dalam bukunya al- a’mal al-kamila Abduh menawarkan metode pendidikan yang lebih dinamis dan kondusif bagi pengembangan intelektual peserta didik. Metode yang di maksud adalah metode diskusi.
5.Ismail raji al faruqi, lahir di Sayfa (palestina) pada tanggal 1 Januari 1921. Ia meninggal pada tanggal 1986. latar belakang pendidikannya ditempuh pada pendidikan barat yaitu Colege Des Peres (1936). Kemudian pendidikan pasca sarjana mudanya ia rampungkan pada America University (1941). Kemuudian program magisternya pada Indian University dan harvard University dalam bidang filsafat. sedangkan gelar doktor ia peroleh pada indian university dalam bidang yang sama.
Menurut analisis al-faruq umat islam saat ini berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan lemah, baik secara moral, politik, dan ekonomi terutama komunitas intelektual dalam wacana keagamaan, umat islam terbelenggu oleh Khurafal, kondisi ini membuat umat islam taqlid yang berlebihan terutama dalam aspek syariat. Kondisi ini membuat umat islam berada dalam kondisi statis dan enggan melakukan kreativitas, ijtihad.
6.Syed Muhammad Waquib al-attas dilahirkan di Bogor Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931. Paradigma pemikiran al-attas bila diaji secara historis merupakan sebuah pemikiran yang berasal dari dunia metafisika kemudian kedunia kosmologis dan mermuara pada dunia psikologis, perjalanan kehidupan dan pengalaman pendidikannya memberikan andil yang yang sangat besar dalam pembentukan paradigma pemikiran selanjutnya.
ADMINISTRASI PENDIDIKAN MANAGEMENT DAN KEPEMIMPINAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang .
Disadari atau tidak hakekat sesuatu di dunia ini perlu di atur, pengaturan yang di maksud mengarah kepada usaha kelancaran. keteraturan, kedinamisan, dan ketertiban suatu usaha yang dapat di bayangkan apabila pengaturan yang tidak ad. nbahkan dunia ini telah hancur sejak dulu kala
.
Pada abad sekarang, penuh dengan kekomplekan dn problem pada probleme tersebut menyangkut politik, sosial, ekonomi, budaya dan kenegaraan sebadb itulah mutlak diperlukan pengadministrasian bahkan sondang siagian menyebut abad kini adalah “ abad administrasi ” ( sondang siagian, 1978:2 )
Charles a. beard, pernah berkata “ tidak suatu hal untuk abad modern sekarang ini yang lebih penting dari administrasi”. kelangsungan pemerintah yang beradad itu sendiri akan sangat bergantung atas kemampuan kita untuk membina dan mengembangkan filsafat administrasi yang mampu memecahkan masalah masyarakat modern .
Sebenarnya administrasi sudah ada sejak timbulnya peradaban manusia pada zaman modern perkembangan adminustrasi yang di landasi denganmunculnya tokoh-tokoh baru di bidang administrasi dan manajeme. frederik w.taylor telah memelopori timbulnya “ ger4akan manajemen ilmiah “ di amerika serikatdi susul henry fayol ( dari francis ) yang membahas manajemen perusahaan dengan bukunya general atau industrial manjemen “pad akhirnya taylor dianggap sebagai bapak manajemen.
Apabila sekelompok orang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan maka perlu adanya pengaturan segenap rangkaian kegiatan dal;am mengatur usaha kerja sama memungkingkan bersatu untuk mencapai tujuan lalu lintas tersebut telah terkandung pengertian admistrasi demikian setiap ada kegiatan yang nampaknya ada kerja sama dari sekelompok manusia secara teratur untuk mencapai tujuan tertentu, disuruhlah administrasi muncul
B. rumusan maslah
bagaiman administrasi pendidikan itu?
apakah kepemimpinan dalam pendidikan?
C. tujuan pembahasan
adapun tujuan peneli9tian ini ialah untuk lebih mengetahui pokokk-pokok materi tentang konsep administrasi pendidikan dalam hubungannya dalam manajemen dan kepemimpinan dalam pendidikan.
BAB II
PEMBAHASN
A. Pengertian administrasi pendidikan
Suatu kata “ administrasi” berasal dari bahasa latin yang terdiri dari kata ad dan ministrate. kata ad mempunyai arti yang sama denghan arti to dalam bahasa inggris yang berarti “ ke ” atau “ kepada” dan ministrate “ melayani”, “membantu” atau mengarahkan dan mengatur.
Suatu kata “ administrasi “ dapat di artikan sebagai suatu kegiatan atau usaha untuk membantu,melayani,mengarahkan atau mengatur semua kegiatan dalam mencapai suatu tujuan.
Frederick taylor (1856) sering di sebut sebagai suatu gerakan manajemen berdasarkan ilmu pengetahuan. dengan demikian ia dapat pula dikatakan senagai pelopor dari timbulnya ilmu adinistrasi. ia pernah bekerja sebagai burh rendahan sampai pada tingkat paling tinggi didalam perusahaan .berdasarkan pengalaman itu, ia mengemukakan dalam tulisannya bebrerapa prinsip managemen dalam pengelolaan perusahaan.antra lain prinsip waktu, upah, pemisahan dan fungsi manjemen.
Administrasi pendidikan ialah suatu proses pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personal spiritual maupum material, yang bersangkut paut dengan pencapaintujuan pendidikan jadi didalam proses pencapain tujuan pndidikan itu di integrasikan, di organisasikan dan di koordinasi secara efektif. dan semua materi yang di perlukan dan yang telah ada di manfaatkan secara efesien
Sedangkan pendidikan, baik di artikan sebagai proses atau produk adalah masalah perseorangan anak didik sendirilah yang harus membuat perubahan didalam dirinya sesuai dengan yang di kehendakinya. proses pendidikan terjadi dalam individu dan produk pendidikan menyatakan diri dalam tingkah lakunya
Dalam buku kurikulum usaha pendidikan dalam bidang pendidikan dan administrasi pendidikan dari departemen P dan K, dapat kita baca rumusan tentang administrasi pendidikan sebagai berikut: administrasi pendidikan serta proses keseluruhan, kegiatan bersama dalam pendidikan melip[uti prencanaan, pengorfganisasian,pengesahan, pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan penjayaan, dengan menggunakan dan memnfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personil maupun spiritual, untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efesien.
Atau secara singkat dapat juga dikatakan : administasi pendidikan ialah pembinaan , pengawasan, dam pelaksanaan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan-urusan sekolah
MANAJEMEN ATAU ADMINISTRASI PENDIDIKAN
Manajemen suatu proses yang menyelenggarakan atau mengawasi suatu tujuan tertentu. atau manajemen adalah fungsi dewan manajer yang menetapkan kebijakan mengenai macam produk yang akan di buat, bagaimana pembiyaannya memberikan servis dan memilih serta melatih pegawai dan lain-lain.faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan suatu usaha. lebih manajemen bertanggung jawab dalam membuat susunan organisasi yang melaksanakan kebijakan.
Demikian fungsi fungsi pokok yang bisa di bicarakan dalam manajemen perusahaan seperti planing, organising, actualing,control, yang merupakan fungsi pokok administrasi pendidikan. dengan demikian makin jelas bagiu kita bahwa kata manajemen dan administrasi pendidikan keduanya dapat kita pergunakan untuk menjelaskan pengertian yang bersamaan
.C. pemimpin dalam pendidikan dan hubungannya dengan manajemen dan administrasi
1. pengertian kepemimpinan dan hubungannya dengan manajemen, administrasi,kepemimpinan dalam pendidikan
a. beberapa konsep dalam pendidikan dan hubungan-hubungannya
1 ). pemimpin merupakan suatu kemampuan yang berupa sifat-sifat yang di bawa sejak lahir yang ada pada diri seseoarang pemimpin.
2 ). pemimipinsebagai fungsi kelompok yang man tidaknya suatu kepemimpinan tidak hanya di pengaruhi oleh kemampuan sifat-sifat yang ada pada seseorang tetapi yang justru yang lebih penting adalah dipengaruhi oleh sifat-sifat da ciri-ciri kelompok yang dipimpinnya
pemimipin tidak hanya didasari atas pandangan yng b3ersifat psikologis dan sosiologis tetapi ats juga ekonomi dan politis.
definisi kepemimp[inan dan huybungannya dengan pendidikan
prjkudi atmosudirjo mengemukakan sebagai berikut :
pemimpin sebagai suatu kepribadian seseorang yang mendatangkan keinginan pada kelompok orang-orang untuk mencontohnya atau mengikutinya dengan apa-apa yng dilakukannya yang dikehendakinya
peminpin dapat pula dipandang sebagai sesuatu sarana, suatu intrumen atau alat untuk membuat sekelompok orang-orang untuk mau bekerja sama dan berdaya upaya mentaati segala peraturan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan.
hubungan pemimpin dengan anggota bawahan baik, pemimpin disenangi oleh anggota kelompoknya ditaati segala perintahnya, dan harus memeliki sifat yang baik untuk bdapat memberikan bimbingan sekaligus memberi contoh kepada pexserta / anak didiknya.
BABIII
PENUTUP
A.kesimpulan
administrasi pendidikan adalah aktivitas untuk meneliti da mengetahui sampai dimana pelaksanaan yang dilakukan dalan proses keseluruhan organisasi untuk mencapai hasil sesuai dengan rencana atau program yang telah ditetapkan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan
pemimpin harus berprilaku sebagai seseorang yang memotifasi bawahannya, mentapkan standart yang tinggi, memperhatikan perbedaan individu dan cenderung lebih menyukai pendekatan tim. dan pemimpin harus berprilaku sebagai pelatih yang teliti dan tidak berat sebelah dalam melaksanakn perintah dan peraturan- peraturannya baik itu dalam lingkup lingkungan sekolah maupun dalam perusahaan
B.SARAN
demikian bebrapa catatan dapat kami tulis tentang “ Aministrasi pendidikan, manajemen dan kepemimpinan “ saya sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari salah dan lupa saya mohon maaf yang tiad batasnya dan saya mohon bimbingan demi pembenaran makalah ini juga dalam perbaikan makna.
DAFTAR PUSTAKA
Dep. P dan K, Kurikulum, usaha perbaikan dalam bidang pendidikan dan administrasi pendidikan,tahun III pelita,1971/1972
Cara efisien untuk mendapatkan sebuah pengetahuan yaitu harus melalui proses tertentu agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menangani sebuah permasalahan. Semua permasalahan bisa menjadi rasioanl (masuk akal) tentu harus melewati proses yagn disebut empiris. Kalau ada orang berkata kepada kita “Aku tahu lo cara bermain gitar…!”. Tapi apakah yang dia katakan merupakan ilmu?
Tadi pada hakikatnya kita mengharapkan jawaban yang benar. Bukan jawaban yang bersifat sembarangan. Kalau dilihat dari sejumlah pola pikir manusia, terdapat dua pola dalam memperoleh sebuah pengetahuan. Yang pertama harus kita ketahui adalah berpikir secara rasional yang berdasarkan faham rasiolisme, yaitu ide tentang sesuatu sebenarnya sudah ada tanpa melalui indra. Kemudian yang kedua dikembangkan dengan pola pikir yang empiris.
Emmanuel Kant seorang filosof Eropa yang terkenal dalam “Master Piece” nya “chitique of pure reason” (murni) teori tersebut terangkum dalam kepercayaan adanya dua sumber bagi konsepsi. (Pertama) pengindraan (esensi). Kita mengkonsepsi panas, cahaya, rasa dan suara. Karena pendengaran kita terhadap semuanya. (Kedua) fitrah, akal manusia tidak muncul dari pengindraan melainkan memang sudah ada dalam lubuk “fitrah”. Yang menurut Descrates, konsepsi “FHN” ide Tuhan. Menurut Emmanuel Kunt, semua pengetahuan manusia itu FHN, termasuk dua bentuk ruang dan waktu serta dua belas (12) kategori Kunt, yaitu (1) kuantitas = unitas, pluralitas, totalitas (2) kualitas = realitas, penafiaan, liminitas (4) modalitas = kemungkinan kemustahilan, ada dan tiada, keniscayaan ketidakniscayaan.[1]
“EPISTEMOLOGI VERSI RASIONALISME”
Dalam pandangan rasionalis manusia terbagi dalam dua bagian. (Pertama) pengetahuan yang mesti atau intuitif. Akal mesti mengakui suatu proposi tertentu tanpa mencari bukti kebenarannya. (Kedua) informasi dan pengetahuan teoritis. Akal tidak akan mempercayai kebenaran beberapa proposisi, kecuali pengalaman “pendahuluan” umpamanya “Bumi itu bulat” contoh ini bila dicodorkan apda akal, maka tidak akan menghasilkan suatu apapun. Jadi doktrin rasional adalah landasan pengetahuan menginformasikan primer. Karena pengalaman primer itu dianggap “sebab à “pertama pengetahuan”. Dan sebab pengatahuan ada dua. Pertama kondisi pokok pengetahuan manusia pada umumnya. Kedua, sebab bagi sebagian informasi.
Intinya, dasar pengetahuan itu diperoleh melalui secara rasional, terlepas dari pengalaman manusia (pasti). Namun dari manakah kita mendapatkan kebenaran bila kebenaran itu terlapas dari pangalaman manusia. Kalau kita mengambil gagasan Bung Hatta “Pengetahuan yang di dapat dari pengalaman disebut pengetahuan pengalaman atau pengetahuan. Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmu.[2] Dari sinilah kita dapat menggambarkan bahwa pengetahuan yang didapat tanpa ada bukti yang empiris maka pengetahuan pantas dipertanyakan. Dan cara berpikir seperti itu akan menyebabkan kita terjatuh kedalam pengetahuan yang benar menurut anggapan masing-masing. Oleh sebab itu, kita harus mengetahui pula pola berfikir yang empiris.
EPISTEMOLOGI VERSI EMPIRISME
John Lock filosofInggris mengemukakan sumber segala ide adalah pengalaman yang terdiri dari sensasi dan refleksi. Karyanya adalah Essay Concerning Human Understanding.[3]. Teori emperikal mengatakan bahwa akal manusia dapat dengan konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan adalah bekal bagi penginderaan.
Mao Tse Tung (1893-1976) menyatakan bahwa “Sumber segala pengetahuan tersembunyi dalam pengindraan oleh organ-organ jasmani manusia terhadap alam objektiv yang mengelilinginya. Teori emperikal berdasarkan atas eksperimentasi. seseorang yang tidak memiliki satu macam indra, maka dia tidak dapat mengkonsepsikan pengertian yang mempunyai hubungan dengan indra tersebut.
Tapi apakah pendekatan empiris ini membawa lebih dekat kepada kebenaran ? Jawaban tidak. Sebab gejala yang terdapat dalam pengalaman. Baru bila mempunyai arti kalau kita bisa memberikan penafsiran kepada mereka. Jujun S. Suria-Sumantri dalam bukunya “Ilmu dalam Perspektif” mengatakan, “Seperti biasanya, waktu mengendapkan sifat ekstrim dari tiap-tiap bentuk pemikiran yang radikal. Lambat laun akan berubah menjadi lebih moderat, sehingga kompromi lebih mudah dicapai, demikian juga dengan pendekatan rasional dan empiris yang membentuk dua kutub yang saling bertentangan yang akhirnya kedua belah pihak saling menyadari bahwa rasionalisme dan empirisme mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.[4]
Dari sinilah timbul gagasan untuk menggabungkan keduanya utnuk mendekatkan kepada metode yang lebih diandalakan dalam menemukan pengetahuan yang benar. Bukankah bila kekurangan dan kelebihan disatukan akan lebih bagus? Ibarat kopi itu pahit dan gula manis, apabila keduanya disatukan maka akan terasa nikmat.
Misalnya seperti Carles Darwin yang menggabungkan metode deduksi Aristoteles dengan metode induksi Bacon. Dalam gabungan antara kedua metode adalah merupakan kegiaran beranling antara deduksi dan induksi yang mana awalnya seorang penyelidik mempergunakan induksi dalam menggabungkan antara pengamatan dengan hipotesis. Kemudian secara deduktif hipotesis ini dihubungkan dengan pengetahuan yang ada untuk melihat kecocokannya dan implikasinya yang kemudian hipotesis ini di uji benar apa tidak secara empiris.
KOMBINASI ANTARA RASIONALISME DENGAN EMPIRISME
Rasionalisme memberikan kerangka berfikir yang koheren dan logis, sedangkan empirisme adalah kerangka pengujian dalam menghasilkan suatu kebenaran. Kedua metode ini apabila dipergunakan secara dinamis maka akan menghasilkan pengetahuan yang konsisten dan sisematis serta dapat diandalkan. Karena pengetahuan itu melewati pengujian yang empiris. Oleh sebab itulah muncul “Metode eksperimen” yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yan dilakukan secara empiris.
Metode ini dikembangkan oleh sarjana-sarjaan muslim pada masa keemasan islam ketika ilmu-ilmu yang sudah mencapai kulminasi antara abad IX dan XII Masehi. Pengembangan metode ini mempunyai pengaruh penting tehadap cara berpikir manusia. Sebab dengan demikian maka dapat diuji berbagai penjelasan teoritis. Apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak?
Dalam bagan logika ilmiah yang merupakan pertemuan antara rasionalisme dan empirisme, misalnya Galiko (1564-1642) dan Norton (1642-1727) yang merupakan pioner yang mempergunakan gabungan berpikir deduktif dan induktif.
Berpikir deduktif memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Penjelasan rasional ini[5] bukan berarti bersifat final. Oleh sebab itu, maka dipergunakan pula cara berfikir yang induktif sebagai contoh, “Mobil itu bermerek Inova”. Tapi bagi yang tidak tahu, maka pengkajian secara empiris mempunyai sebuah makna lain. Dari sinilah pendekatan rasional digabungkan dengan pendekatan empiris dalam langkah yang disebut metode ilmiah.
Sekali lagi saya sebutkan bahwa penjelasan rasional hanyalah bersifat sementara yang disebut hipotesis. Hipotesis adalah merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang dihadapi. Jujun S., mengatakan sering ditemui kesalahpahaman dimana analisis ilmiah berhenti pada hipotesis ini tanpa ada upaya selanjutnya untuk melakukan verifikasi, apakah hipotesis itu benar atau tidak. Ini semua dipengaruhi oleh paham rasionalisme da merupakan metode ilmiah yang merupakan gabungan dari rasionalisme dan empirisan.[6]
Menurut Hadiwijono (1992) yang dikutip oleh Profesor Ida Bagoes Muntaru, mengadakan empirisme sma sekali tidak menolak rasiolisme. sepanjang dipergunakan dalam rangka empirisme dan rasionalisme dilihat dalam rangka empirisme. Dan Haryono Sumangun (1992) mengumumkan ahli-ahli yang bersifat rasionalis mengatakan bahwa pengamatan indrawi itu penting. Namun faktor-faktor hanya akan berarti bila diberi arti oleh manusia dengan memekai rasionya. Tejoyowana (1991) mengemukakan, kerangka pemikiran Einstein menunjukkan bahwa fakta membentuk pengelunan (empirisme induktif) dan pada gilirannya pengertian menghasilkan fakta (rasionalisme deduktif).[7]
Jujun S. Suraya Sumantri memberikan langkah-langkah yang harus dipakai dalam kegiatan ilmiah : Pertama, perumusan masalah yang mengenai objek empiris dan dapat diidentifikasikan faktor yang terkait. Kedua, penyusunan kerangka berfikir dalam pengejaan hipotesis. Kerangka berfikir ini kursi disusun secara rasional. Dan Memperhatikan faktor yang empiris. Ketiga, perumusan hipotesis sebagai jawaban sementara. Keempat, pengujian hipotesis bisa dikatakn fakta atau tidak? Kelima, penarikan kesimpulan atau penilaian.[8] Apabila langkah-langkah ini tidak ditempuh maka suatu penelaah tak bisa dikatakan ilmiah. Dengan langkah ini, proses pengetahuan yang bersifat konsisten bisa teruji kebenarannya secara empiris. Dalam langkah-langkah yag lima ini bisa membuktikan bahwa dengan teori rasionalisme dan empirisme bisa dikatakan suatu kebenaran.
Marxisme pun mengambil dua langkah dalam menemukan sebuah pengetahuan, yaitu langkah empirikan dan langkah mental. (Aplikasi dan teori). Intinya, titik tolak dari pengetahuan adalah indra dan pengalaman. Walaupun beliau memberi catatan bahwa semua itu berbentuk jelas yang akan membawa ke doktrin rasional. Sebab pengetahuan itu mengasumsikan adanya wilayah pengetahuan manusia diluar batas pengalaman yang sederhana. Pada akhirnya, beliau mempertaruhkan tempat pengalaman, doktrin empirikal sebagai kriteria umum bagi pengetahuan manusia.[9]
PENUTUP
Kalau kita amati dari awal sampai akhir, maka sudah jelaslah bahwa kaum rasionalis dan kaum empiris berabat tangan yang apda awalnya saling bertentangan satu sama lain. Kemudian saling menyadarinya, maka seiring dengan berlalunya waktu. Metode kedua itu dijadikan teori dalam mendapatkan sebuah pengetahuan, karena dengan jalan itulah ilmu bisa berkembang sampai saat ini, maka dari itu, kita jangan sekali-kali kita beranggapan bahwa teori dari kedua kubu itu salah. Karena dengan kedua teori itu kita lebih gampang dalam menemukan sebuah kebenaran yang disebut metode ilmiah.
[1] M. Nor Mufid bin Ali. Terjemah Filsafat. cet 10. MIKAN. Bandung. 2001. hlm 29
[2] H. M. Yustan. Dirasah Islamiah. cet 2. PT. Raya Grafindo. Jakarta. 2003. hlm 36
Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).
Teori Behavioristik:
Mementingkan faktor lingkungan
Menekankan pada faktor bagian
Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
Sifatnya mekanis
Mementingkan masa lalu
Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949): Teori Koneksionisme
Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895, S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903), Mental and social Measurements (1904), Animal Intelligence (1911), Ateacher’s Word Book (1921),Your City (1939), dan Human Nature and The Social Order (1940).
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.
Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi, demikian selanjutnya, sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:
S RS1R1dst
Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengaja enyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan.
Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut :
Hukum Kesiapan(law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskanPrinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.
Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya, maka ia akan merasa puas. Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain.
Masalah kedua, jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya, maka timbullah ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.
Hukum akibat(law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemahjika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.
Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya.
Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis(Suryobroto, 1984).
Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut:
a.Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response).
Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
b.Hukum Sikap ( Set/ Attitude).
Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi , sosial , maupun psikomotornya.
c.Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element).
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif).
d.Hukum Respon by Analogy.
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah.
Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.
Selain menambahkan hukum-hukum baru, dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar antara lain :
Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.
Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain.
Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training, yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.
Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936).
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov lulus sebagai sarjan kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927).
Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaanny terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker, 1985).
Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang didinkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kin sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula.
Makanan adalah rangsangan wajar, sedang merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnys air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons.
Pavlov berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia.
Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan.
Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehar-jhari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. Bayangkan, bila tidak ada lagu trsebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Contoh lai adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak, es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama.
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Burrhus Frederic Skinner (1904-1990).
Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”.Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian,1970)
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operantconditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan.
Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Skinner membuat eksperimen sebagai berikut :
Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan, penampung makanan, lampu yangdapat diatur nyalanya, dan lantai yanga dapat dialir listrik. Karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari makanan. Selam tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shapping.
Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.
Beberapa prinsip Skinner antara lain :
Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika bebar diberi penguat.
Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
Dalam proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untukmenghindari adanya hukuman.
dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer.
Dalam pembelajaran digunakan shaping.
Robert Gagne ( 1916-2002).
Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. Gagne pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika. Ia kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori instruksionalnya untuk mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar berbasis multi media. Teori Gagne banyak dipakai untuk mendisain software instruksional.
Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkanpada yanglebih kompleks ( belajar SR, rangkaian SR, asosiasi verbal, diskriminasi, dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi(belajar aturan danpemecahanmasalah). Prakteknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus respon.
Albert Bandura (1925-masih hidup).
Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mondarealberta berkebangsaan Kanada. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.
Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah:
1.Perhatian, mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik pengamat.
2.Penyimpanan atau proses mengingat, mencakup kode pengkodean simbolik.
3.Reprodukdi motorik, mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.
4.Motivasi, mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.
Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip prinsip sebgai berikut:
Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya.
Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.
Karena melibatkan atensi, ingatan dan motifasi, teori Bandura dilihat dalam kerangka Teori Behaviour Kognitif. Teori belajar sosial membantu memahami terjadinya perilaku agresi danpenyimpangan psikologi dan bagaimana memodifikasi perilaku.
Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal.
Aplikasi Teori Behavioristik terhadap Pembelajaran Siswa
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:
a.Mementingkan pengaruh lingkungan
b.Mementingkan bagian-bagian
c.Mementingkan peranan reaksi
d.Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
e.Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
f.Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
g.Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana samapi pada yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak.
Kritik terhadap behavioristik adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat tidak berdasar karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan tertentu sesuai dengan ciri yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti :
Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oelh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.