"الله جميل يحبّ الجمال"

Allah Itu Indah, Mencintai Keindahan

Sabtu, 20 Juni 2009

PENELITIAN PENDIDIKAN

PENELITIAN PENDIDIKAN

A.MAKALAH PENELITIAN PENDIDIKAN

Pengertian “ Ilmu “.. “ Ilmu Adalah yang bersifat umum dan sistematis, pengertian dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah yang umum. Ilmu adalah pengetahuan yang sudah dicoba dan diatur menurut urutan dan arti serta menyeluruh dan sistematis.
Menurut Naroman dalam Nazir (2003). “ Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas, menjangkau semua aspek tentang progres manusia secara menyeluruh.
Menurut Harsono (1977) ilmu adalah :
1. Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistimatiskan atau kesatuan pengetahuan yang terorganisasikan. 
Suatu pendekatan atau suatu metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia terikat oleh faktor ruang dan waktu. Dunia yang pada prinsipnya dapat di amati oleh panca indera manusia. 
Karakteristik ilmu
Secara umum karakteristik ilmu adalah :
1. bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama. 
2. kebenarannya tidak mutlak 
3. bersifat objektif 
Harsoyo (1977) mengemukakan ciri-ciri ilmu yaitu :
1. Bersifat rasional 
2. Bersifat Empiris 
3. Bersifat Umum 
4. Bersifat Akumulatif 
Sifat ilmuah di dalam ilmu dapat diwujudkan apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Ilmu harus mempunyai objek, karena kebenaran yang hendak diungkapkan dan dicapai adalah kesesuaiaan antara yang diketahui dengan objeknya. 
2. Ilmu harus mempunyai metode, karena untuk mencapai suatu kebenaran yang objektif dalam mengungkapkan objeknya, ilmu tidak dapat bekerja sembarangan sehingga diperlukan cara tertentu yang tepat. 
3. Ilmu harus sistematis, 
4. Ilmu bersifat universal atau berlaku umum. 
Berdasarkan obkek formal, ilmu dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
1. ilmu yang objeknya benda alam dengan hukum-hukumnya yang relatif bersifat pasti dan berlaku umum, disebut ilmu alam. 
2. ilmu yang objeknya dipengaruhi oleh manusia termasuk juga manusia itu sendiri, sehingga hukum-hukumnya tidak sama dengan hukum-hukum alam karena bersifat relatif kurang pasti, maka disebut ilmu sosial. 

B. PENELITIAN PENDIDIKAN

Tujuan suatu ilmu adalah mengembangkan dan menguji teori, untuk berkembangnya suatu penbgetahuan dapat dilakukan melalui penelitian, karena pada hakekatnyapenelitian bertujuan untuk meberikan solusi atas masalah dan mendapat pengetahuan tentang sesuatu yang ada dianggap benar melalui proses observasi. Tanpa penelian ilmu pengetahuan tidak akan berkembang dan membuat solusi atas suatu maslah sulit dipertanggung jawabkan.
Penelitian ilmiah digunakan untuk kebutuhan ilmu pengetahuan, sebaiknya ilmu pengetahuan tidak akan berkembang apabila tanpa penelitian ilmiah, penelitian ilmiah dan ilmu pengetahuan berada dalam satu sistem ilmiah dan keduanya sama-sama membesarkan sistem tersebut samapi pada tingkat yang tidak terbatas.
Pendidikan ilmiah merupakan cara tepat untuk memecahkan suatu masalah sosial karena merupakan penyelidikan yangh sistematis, terkontrol empiris dan kritis tentang fenomena-fenomena alami dengan dipadu oleh teori dan hipotesis-hipotesis tetang hubungan yang siduga terdapat antara fenomena-fenomena tersebut. Tidak setiap penelitian ilmiah mesti dipadukan oleh teori dan hipotesis-hipotesis mengenai hubungan-hubungan yang diduga terdapat antara gejal-gejala.

C. Eksisi Pendidikan Dalam Ilmu Pengetahuan

Penelitian sebagai Suatu ilmu penetahuan, mempunyai peran pentinga dalam banguna ilmu pengetahuan, penelitian mempunyai kemampuan untuk meng update ilmu pengetahuan untuk menjadi up to date dan mutakhir dalam aplikasi setiap di butuhkan masyarakat di pihak lain penelitian belum dapat bergeser untuk memulai suatu proses ilmiah baru sebelum mendapat masukan dan ilmu pengetahuan . dengan demikian titik awal proses penelitian adalah ilmu pengetahuan itu sendiri.
Berpikir ilmiah yaitu dimulai dengan berfikir deduktif kemudian membentuk kesimpulan-kesimpulan induktif, berfikrif deduktif yaitu mencoba berteori terhadap sebuah fakta sosial melalui interprestasikan dalil, hukum dan teori-teori keilmuan lainnya, dalam tahap ini penelitian harus berteori terhadap yang sadang dihadapi.
Selanjutnya penelitian di arahkan oleh berfikir deduktif untuk memberi jawaban logis terhadap apa yang sedang menjadi pusat perhatian dalam penelitian, dan akhirnya produk berfikir deduktif menjadi jawaban sementara terhadap apa yang dipertanyakan dalam penelitian itu jawaban tersebut dinamakan hipotesis. 
Hipotesis menurut jawaban sementara tentang hubungan antara gejala-gejala yang menjadi permasalahan dalam proses penelitian. Hipotesis diajukan dalam bentuk dugaan kerja atau dengan teoritis yang merupakan dapat dalam menjelaskan kemungkinan adanya hubungan tersebut.
Hipotesis memerlukan pembuktian, sehingga penelitian harus membuktikan melalui pengumpulan data dilapangan simpulan-simpulan fakta atas hipotesis menjadi jawaban sebenarnya pada penelitian yang dilakukan kemudian diuji. Pengujian dan diikuti dengan serangkaian proses analisis.
Proses ilmiah merupakan kegiatan yang dimulai dan berfikir deduktif dan kemudian membentuk kesimpulan-kesimpulan induktif dalam suatu proses ilmiah. Metode deduktif pada intinya yaitu proses berfikir ilmiah dari yang umum ke khusus, sedangan metode induktif merupakan proses berfikir dari khusus menuju umum.
Ciri-ciri Penelitian Ilmiah :
1. Bertujuan (purposiveness).  
Penelitian ilmiah harus ada tujuannya, baik menemukan jawaban atas suatu masalah tertentu yang berguna untuk pengembangan ilmu maupun untuk pembuatan keputusan.
2. Sistemtis (sisrtematic) 
Penyelidikan ilmiah tertata dengan cara tertentu sehingga penyidik dapat memiliki keyakinan krisis atas hasil penelitiannya.
3. Empiris (Empirical) 
Pendapat atau keyakinan subjektif hurus diperiksa dengan menghadapkannya pada realitas objektif atau melakukan teladan dan uji empiris.
4. Objektivitas (objectivity) 
Seluruh proses penelitian, khusus kesimpulan yang ditarik melalui interprestasi hasil analisis data, harus objektif yaitu harus didasarkan pada fakta yang dihasilkandari data aktual dan tidak pada subjektif pribadi atau nilai-nilai emosional.
5. Krisis (critic) 
Hasil penelitian terbuka untuk dikritisi, diperiksa, atas diujian terhapad realitas yanbg objektif melalui penelitian dan pengujian lebih lanjut.
6. generalisabilitas (generalizability) 
Derajat sejauh mana temuan-temuan spesifik dapat diterapkan ke satu kelompok yang lebih besar yang disebut populasi atau derajat sejauhmana temuan dapat digeneralisasikan kepopulasi yang lebih luas.
7. Replikabilitas (replicability) 
Replikan atau pengulangan penelitian oleh peneliti lainnya untuk mengukuhkan penemuan-penemuan atau memeriksa kebenerannya, baiuk latar yang sama ataupun untuk layar yang berbeda.

D. Langkah-langkah Penelitian

Secara Umum, Langkah-langkah yang perlu di tempuh adalah :
Langkah Pertama : Memilih Masalah 
Langkah Kedua : Mengadakan studi Eksploratorik
Langkah Ketiga : Merumuskan masalah dalam hubungan teori dan 
anggapan dasar
Langkah Keempat : Merumuskan Hipotesa/Pertanyaan Penelitian 
Langkah Kelima : menetapkan teknik untuk menguji
Langkah Keenam : Menentukan Agenda Penelitian 
Langkah Ketujuh : Mengumpulkan data 
Langkah Kedelapan : Mengolah data 
Langkah Kesembilan : Menyimpulkan Hasil 
Langkah Kesepuluh : Mengumpulkan Hasil laporan

Langkah-Langkah Penelitian secara Umum :

Issu-Issu Teoritik
Pemilihan Masalah
Studi Eksploratorik
Perumusan Masalah
Perumusan Hipotesis
Penerapan Teknik Pengujian Hipotesa
Pengumpulan Data
Pengolahan Data
Penyusunan Kesimpulan
Penyusunan Laporan
Penentuan Agenda Penelitian
Issu-Issu Pragmatis



Article of Cognitive Psychology

Article of Cognitive Psychology

Cognitive psychology is a branch of psychology that investigates internal mental processes such as problem solving, memory, and language.
The school of thought arising from this approach is known as cognitivism which is interested in how people mentally represent information processing. It had its foundations in the Gestalt psychology of Max Wertheimer, Wolfgang Köhler, and Kurt Koffka, and in the work of Jean Piaget, who provided a theory of stages/phases that describe children's cognitive development. Cognitive psychologists use psychophysical and experimental approaches to understand, diagnose, and solve problems, concerning themselves with the mental processes which mediate between stimulus and response. Cognitive theory contends that solutions to problems take the form of algorithms—rules that are not necessarily understood but promise a solution, or heuristics—rules that are understood but that do not always guarantee solutions. Cognitive science differs from cognitive psychology in that algorithms that are intended to simulate human behavior are implemented or implementable on a computer. In other instances, solutions may be found through insight, a sudden awareness of relationships.
History
Ulric Neisser coined the term 'cognitive psychology' in his book published in 1967 (Cognitive Psychology)[1], wherein Neisser provides a definition of cognitive psychology characterizing people as dynamic information-processing systems whose mental operations might be described in computational terms. Also emphasising that it is a point of view which postulates the mind as having a certain conceptual structure. Neisser's point of view endows the discipline a scope which expands beyond high-level concepts such as "reasoning", often espoused in other works as a definition of cognitive psychology. Neisser's definition of cognition illustrates this well:
...the term "cognition" refers to all processes by which the sensory input is transformed, reduced, elaborated, stored, recovered, and used. It is concerned with these processes even when they operate in the absence of relevant stimulation, as in images and hallucinations... Given such a sweeping definition, it is apparent that cognition is involved in everything a human being might possibly do; that every [2] psychological phenomenon is a cognitive phenomenon. But although cognitive psychology is concerned with all human activity rather than some fraction of it, the concern is from a particular point of view. Other viewpoints are equally legitimate and necessary. Dynamic psychology, which begins with motives rather than with sensory input, is a case in point. Instead of asking how a man's actions and experiences result from what he saw, remembered, or believed, the dynamic psychologist asks how they follow from the subject's goals, needs, or instincts.
Cognitive psychology is radically different from previous psychological approaches in two key ways.
It accepts the use of the scientific method, and generally rejects introspection as a valid method of investigation, unlike symbol-driven approaches such as Freudian psychology.
It explicitly acknowledges the existence of internal mental states (such as belief, desire and motivation) unlike behaviorist psychology. Critics hold that the empiricism of cognitive psychology combined with the acceptance of internal mental states by cognitive psychology is contradictory.
The school of thought arising from this approach is known as cognitivism.
Cognitive psychology is one of the more recent additions to psychological research, having only developed as a separate area within the discipline since the late 1950s and early 1960s following the "cognitive revolution" initiated by Noam Chomsky's 1959 critique[4] of behaviorism and empiricism more generally. The origins of cognitive thinking such as computational theory of mind can be traced back as early as Descartes in the 17th century, and proceeding up to Alan Turing in the 1940's and 50's. The cognitive approach was brought to prominence by Donald Broadbent's book Perception and Communication in 1958. Since that time, the dominant paradigm in the area has been the information processing model of cognition that Broadbent put forward. This is a way of thinking and reasoning about mental processes, envisioning them as software running on the computer that is the brain. Theories refer to forms of input, representation, computation or processing, and outputs. Applied to language as the primary mental knowledge representation system, cognitive psychology has exploited tree and network mental models. Its singular contribution to AI and psychology in general is the notion of a semantic network. One of the first cognitive psychologists, George Miller is well-known for dedicating his career to the development of WordNet, a semantic network for the English language. Development began in 1985 and is now the foundation for many machine ontologies.
This way of conceiving mental processes has pervaded psychology more generally over the past few decades, and it is not uncommon to find cognitive theories within social psychology, personality psychology, abnormal psychology, and developmental psychology; the application of cognitive theories to comparative psychology has driven many recent studies in animal cognition. However, cognitive psychology dealing with the intervening constructs of the mental presentations is not able to specify: What are the non-material counterparts of material objects? For example, what is the counterpart of a chair in a mental processes, and how do the non-material processes evolve in the mind that has no space. Further, what are the very specific qualities of the mental causalities? In particular, when the causalities are processes. The plain statement about information processing awakes some questions. What information is dealt with, its contents, and form. Are there transformations? What are the nature of process causalities? How subjective states of a person transmute into shared states, and on the other way around? Finally, yet importantly, how do we who work with cognitive research are able to conceptualize the mental counter concepts to construct theories that have real importance in real every day life? Consequently, there is a lack of specific process concepts which enable to derive new developments, and create grand theories about the mind, and its abysses.
The information processing approach to cognitive functioning is currently being questioned by new approaches in psychology, such as dynamical systems, and the embodiment perspective.
Because of the use of computational metaphors and terminology, cognitive psychology was able to benefit greatly from the flourishing of research in artificial intelligence and other related areas in the 1960s and 1970s. In fact, it developed as one of the significant aspects of the inter-disciplinary subject of cognitive science, which attempts to integrate a range of approaches in research on the mind and mental processes. [5]
In philosophy, psychology, and the cognitive sciences

References :
http://en.wikipedia.org/wiki/Perception Di akses pada tanggal 24 April 


ZUHUD DAN TAWAKKAL


ZUHUD DAN TAWAKKAL

1. ZUHUD
A. Pengertian Zuhud

Zuhud dari segi bahasa artinya meninggalkan, tidak menyukai atau menjauhkan diri. Zuhud dalam pengertian istilah adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam mengabdikan diri kepada Allah.
Kebalikan dari zuhud adalah hubbuddinya digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Humazah sebagai orang yang senang mencela dan mengumpulkan uang.
Ciri-ciri orang Zuhud
1. Pengabdiannya kepada Allah tidak terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi.
2. Harta dunia bukan tujuan, tetapi hanya sebagai sarana hidup.
3. Lebih mengutamakan akhirat daripada dunia.
4. Orientasi hidupnya hanya kepada Allah SWT.
5. Tidak merasa memiliki harta dunia, walaupun sebenarnya kaya.
Pembagian Zuhud
Imam Al Ghazali membagi zuhud atas 3 bagian, yaitu :
1. Meninggalkan sesuatu karena sesuatu yang lebih baik daripadanya.
2. Meninggalkan keduniaan karena mengharap sesuatu yang bersifat keakhiratan.
3. Meninggalkan sesuatu selain Allah SWT karena mencintai-Nya.


B. Membiasakan Perilaku Zuhud

Artinya : “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di dalam ngeri. Itu hanyalah kemenganan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah jahannam dan jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. (QS. Ali Imran 196-197).

Ayat diatas merupakan perintah Allah agar kita bersifat zuhud, yakni tidak selalu melihat kehidupan, kitapun tidak boleh terpedaya dan tidak boleh iri melihat keberhasilan orang-orang kafir dalam hal duniawi. Orang-orang yang beriman justru banyak diuji oleh Allah dengan ujian-ujian yang berat. Ujian itu tujuannya agar iman kita semakin kuat.

2. TAWAKKAL

Kata tawakkal berasal dari At-Tawakkul yang dibentuk dari kata wakala artinya menyerahkan, mempercayakan, atau mewakilkan urutan kepada orang lain. Secara istilah tawakkal itu adalah menyerahkan segala perkara, ikhtiar, dan usaha yang dilakukan oleh Allah serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya untuk mendapatkan manfaat atau menolak yang modarat.
1. Ciri-ciri orang tawakkal
2. Orang itu tidak gelisah dan berkeluh kesah.
3. Ia mengerahkan dirinya atas semua keputusan kepada Allah SWT.
4. Ia tetap tidak meninggalkan ikhtiar atau usaha.




Pembagian Tawakkal
Imam Al Ghazali membagi perbuatan atau perilaku orang yang bertawakkal menjadi empat, yaitu :
1. Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat memberi manfaat kepadanya.
2. Berusaha memelihara sesuatu yang dimilikinya dari hal-hal yang bermanfaat.
3. Berusaha menolah dan menghindarkan diri dengan hal-hal yang akan menimbulkan mudarat (bencana), dan
4. Berusaha menghilangkan mudarat yang menimpa dirinya.

Contoh Perilakku Tawakkal
Pada masa Rasulullah ada seorang laki-laki meninggalkan untanya di depan masjid tanpa diikat dengan alasan ia bertawakkal kepada Allah SWT. Ketika hal itu diketahui oleh Rasulullah beliau mengatakan “Ikatlah Untamu terlebih dahulu, kemudian barulah bertawakkal”. (H.R. Tirmidzi).


P R O S A F I K S I Tentang Dasar-Dasar Prosa Fiksi


R E S U M E
P R O S A F I K S I
Tentang Dasar-Dasar Prosa Fiksi





KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT. yang telah memberikan rahmad dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Namun tugas ini masih banyak kekurangan sehingga kami memerlukan kritik dan saran dari pembaca untuk mengetahui kekurangan-kekurangan tersebut.
Selain itu kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang membantu terselesainya tugas ini khusunya dosen yang telah memberikan tugas ini.




B A B I
PENGERTIAN DAN UNSUR

 PENGERTIAN

Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut Fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discource). Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan atau cerita khayalan.
Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Fiksi tidak sepenuhnya berupa khayalan. Membaca sebuah karya fiksi berarti menikmati cerita, menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin. Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sama dan memang tak perlu disamakan dengan kebenaran yang berlaku didunia nyata. Hal itu disebabkan dunia fiksi yang imajinatif dengan dunia nyata masing-masing memiliki sistem hukumnya sendiri. Dunia kesastraan terdapat suatu bentuk karya sastra yang mendasarkan diri pada fakta. Karya fiksi tersebut dikenal dengan sebutan fiksi nonfiksi (nonfiction fiction).

 UNSUR-UNSUR FIKSI

- Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur yang dimaksud misalnya peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang, bahasa, dan lain-lain.
- Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang barada diluar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisasi karya sastra. Misalnya keadaaan lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial.






BAB III
T E M A

A. Cara mencari tema :
1. Mencari makna / hal-hal yang diungkap atau dibahas.
2. Memilih makna yang paling banyak merasuki cerita.

B. Penggolongan tema :
1. Tema mayor
2. Tema minor
3. Tema tradisional
4. Tema nontradisional
 Tema mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu, atau bisa disebut juga tema yang paling utama.
 Tema minor adalah makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian cerita atau bisa disebut juga tema sebagian.
 Tema tradisional adalah hal-hal yang dianggap otomatis terjadi sendiri di masyarakat.
 Tema nontradisional adalah tema yang mengangkat sesuatu yang tidak lazim atau nontradisional.

Tema sebuah karya sastra selalu berkaitan dengan makna atau pengalaman kehidupan, melalui karyanya pengarang menawarkan makna tentang kehidupan, mengajak pembaca untuk melihat, merasakan dan menghayati makna kehidupan tersebut dengan cara memandang permasalahan itu sebagaimana ia memendangnya. Tema dapat dipandang sebagai dasar cerita, gagasan dasar umum, sebuah karya novel, gagasan dasar umum inilah yang tentunya telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita.






BAB III
A L U R


A. KAIDAH ALUR

1. Peristiwa
Adalah peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain.
− Peristiwa fungsional adalah peristiwa-peristiwa yang menentukan dan atau mempengaruhi perkembangan alur. Urutan peristiwa fungsional merupakan inti cerita sebuah karya fiksi yang bersangkutan jika sejumlah peristiwa fungsional ditanggalkan, maka akan menyebabkan cerita menjadi lain bahkan kurang logis.
− Peristiwa kaitan adalah peristiwa yang berfungsi mengaitkan peristiwa penting. Peristiwa kaitan kurang mempengaruhi pengembangan alur cerita, sehingga seandainya ditanggalkan pun, tidak akan mempengaruhi logika cerita.
− Peristiwa acuan adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh atau berhubungan dengan perkembangan alur, melainkan mengacu pada unsur-unsur lain.

2. Konflik
Adalah kejadian yang tergolong penting atau hal yang menyebabkan tokoh menjadi tidak enak. Konflik terdiri dari konflik eksternal dan konflik internal.
− Konflik eksternal : Konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang diluar dirinya, mungkin dengan lingkungan alam dan manusia.
− Konflik fisik : Antara tokoh dengan alam.
− Konflik internal : Konflik yang ada dalam diri tokoh.

3. Klimaks
Adalah peristiwa yang membawa perubahan nasib dari tokoh.
− Plausibilitas : Suatu hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita.
− Tegangan : Dibuat oleh pengarang agar pembaca mempunyai rasa ingin tahu.
− Surprise : Sesuatu yang bersifat mengejutkan jika sesuatu yang dikisahkan atau kejadian yang ditampilkan menyimpang.
− Kepaduan : Unsur yang ditampilkan, khususnya peristiwa fungsional, kaitan dan acuan memiliki keterkaitan satu sama lain.

B. TAHAPAN ALUR

1. Tahapan awal : Tahap awal sebuah cerita biasanya disebut tahap perkenalan yang berisi sejumlah informasi penting yang berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada dahap berikutnya. Misalnya berupa pengenalan latar, pengenalan tokoh.
Fungsi pokok tahap awal adalah untuk memberikan informasi dan penjelasan seperlunya khususnya yang berkaitan dengan pelataran dan penokohan.
2. Tahap tengah : Menampilkan pertentangan atau konflik yang sudah mulai pada tahap sebelumny, menjadi semakin meningkat, semakin menegangkan.
3. Tahap akhir : Tahap akhir sebuah cerita, atau dapat juga disebut sebagai tahap pelarian, menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. Bagian ini berisi bagaimana kesudahan cerita, atau menyaran pada hal bagaimanakah akhir sebuah cerita.

C. PEMBEDAAN ALUR

1. Berdasarkan Kriteria Waktu 
Dibedakan menjadi dua yaitu kronologis dan takkronologis. Yang pertama disebut sebagai alur lurus, maju atau dapat juga dinamakan progresif. Sedangkan yang kedua adalah sorot balik, mundur, flask back atau juga disebut regresif.
− Alur lurus : Alur yang dimulai dari depan / awal.
− Alur flash back : Alur yang tak harus dimulai dari awal cerita.

2. Berdasarkan Kriteria Jumlah
− Alur tunggal : Didalam cerita hanya menceritakan satu orang tokoh.
− Sub sublur : Didalam sebuah cerita, menceritakan banyak tokoh.

3. Berdasarkan Kriteria Kepadatan
− Alur padat : Menceritakan satu tokoh dalam satu cerita. Peristiwa fungsional terjadi susul menyusul dengan cepat, hubungan antar peristiwa terjalin secara erat dan pembaca seolah-olah dipaksa untuk terus mengikutinya.
− Alur longgar : Pergantian peristiwa berlangsung lambat disamping hubungan antar peristiwa tersebut pun tidaklah erat benar.
4. Berdasarkan Kriteria Isi
− Alur peruntungan : Berhubungan dengan cerita yang mengungkapkan nasib, peruntungan yang menimpa tokoh utama cerita yang bersangkutan.
− Alur tokohan : Alur tokohan menyaran pada adanya sifat pementingan tokoh, tokoh yang menjadi pusat perhatian.
− Alur pemikira : Mengungkapkan sesuatu yang menjadi bahan pemikiran, keinginan, perasaan, berbagai macam obsesi dan lain hal yang menjadi masalah hidup dan kehidupan manusia.








BAB IV
P E N O K O H A N

MACAM-MACAM TOKOH

- Tokoh utama : Tokoh yang paling banyak diceritakan dalam sebuah cerita baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenal kejadian.
- Tokoh tambahan : Tokoh yang dihadirkan sekilas dalam sebuah cerita.
- Tokoh sederhana : Tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat watak yang tertentu saja.
- Tokoh bulat : Tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya.
- Tokoh statis : Tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalahmi perubahan dan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa yang terjadi.
- Tokoh berkembang : Tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan peristiwa dan alur yang dikisahkan.
- Tokoh tipikal : Tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya dan lebih banyak ditonjolkan kualitas pekerjaan atau kebangsaannya atau sesuatu yang bersifat mewakili.
- Tokoh netral : Tokoh yang bereksistensi demi cerita itu sendiri yang merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.



BAB V
PELATARAN / SETTING


Latar atau setting disebut juga sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan..

 Unsur latar :
1. Latar tempat : Menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi, unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas.
2. Latar waktu : Berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa. Peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah kapan tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual waktu yang ada kaitannya dengan peristiwa sejarah.
3. Latar sosial : Menyarankan pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat disuatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap dan lain-lain.

- Hubungan latar belakang dengan tokoh :
Peristiwa yang dialami tokoh dalam peristiwa didukung oleh latar tempat dan waktu.

- Anakronisme :
Cerita tidak adanya kesesuaian, cerita menjadi tidak masuk akal. Penyebab anakronisme mungkin berupa penggunaan dua waktu yaitu masuknya waktu lampau kedalam cerita yang berlatar waktu kini atau sebaliknya masuknya waktu kini kedalam cerita yang berlatar lampau.





BAB VI
PENYUDUTPANDANGAN (POINT OF VIEW)


 Sudut pandang menyaran pada cara sebuah cerita dikisahkan yang merupakan cara dan atau pandanga yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya.
 Hubungan sudut pandang dengan tokoh
1. Watak tokoh dapat diketahui dari sudut pandang.
2. Untuk mengetahui latar belakang sosial budaya.
3. Bisa membuat tokoh antagonis dan protagonis.
 Hubungan latar dengan sudut pandang
Melalui sudut pandang kita bisa mengetahui latar atau suasana apa yang akan digunakan oleh pengarang.





BAB VII
B A H A S A


Sebuah karya fiksi umumnya dikembangkan dalam dua bentuk penuturan yaitu narasi dan dialog. Kedua bentuk tersebut hadir secara bergantian. Sehingga cerita yang ditampilkan menjadi tidak bersifat monoton, terasa variatif dan segar.
Percakapan yang hidup dan wajar, walau hal itu terdapat dalam sebuah novel, adalah percakapan yang mirip dengan situasi nyata penggunaan bahasa. Bentuk percakapan yang demikian bersifat pragmatik.
 Stile / gaya bahasa : Cara pengucapan bahasa dalam prosa atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan.
 Statistika : Kajian terhadap wujud performansi kebahasaan, khususnya yang terdapat di dalam karya sastra yang bertujuan untuk menentukan seberapa jauh dan dalam hal apa bahasa yang dipergunakan itu memperlihatkan penyimpangan dan bagaimana pengarang mempergunakan tanda-tanda linguistik untuk memperoleh efek khusus.
 Unsur gaya bahasa
1. Unsur leksikal : Mengacu pada pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang.
2. Unsur gramatikal : Unsur yang menyaran pada pengertian struktur kalimat.
3. Retorika : Merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis yang dapat diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa yaitu pengarang menyiasati bahasa sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasannya.
4. Kohesi : Antara bagian kalimat yang satu dengan yang lain, terdapat hubungan yang bersifat mengaitkan antar bagian kalimat atau antar kalimat.
 Pencitraan : Merupakan sebuah gambaran pengalaman indera yang diungkapkan lewat kata-kata gambaran berbagai pengalaman sensuris yang dibangkitkan oleh kata-kata.




BAB VIII
AMANAH DAN PESAN


1. Penyampaian Langsung
Artinya pesan yang ingin disampaikan, atau diajarkan kepada pembaca itu dilakukan secara langsung. Pengarang dalam hal ini, tampak bersifat menggurui pembaca secara langsung memberikan nasihat dan petuahnya secara komunikatif.

2. Penyampaian Tidak Langsung
Cara ini kurang komunikatif, artinya pembaca belum tentu dapat menangkap apa sesungguhnya yang dimaksudkan pengarang. Karena kurang ada pretensi pengarang untuk langsung menggurui pembaca.


PSIKOLOGI BELAJAR



PSIKOLOGI BELAJAR



Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata kuliah Psikologi Belajar
yang dibina oleh Bapak Muchlis Solihin, M.Ag





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN JURUSAN TARBIYAH 
PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 
2009




A. PENGERTIAN PSIKILOGI BELAJAR

Psikologi belajar ialah sebuah ilmu pengetahuan yang didasarkan pada riset-riset psikilogis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas dalam proses belajar yang lebih efektif.

B. RUANG LINGKUP PSIKOLOGI BELAJAR 

1. context of teaching learning (situasi dan tempat yang berkaitan dengan belajar dan mengajar)
2. process of teaching learning (proses ataun tahapan-tahapan dalam belajar mengajar)
3. out comes of teaching learning (hasil-hasil yang dicapai dalam proses belajar mengajar)

C. MANFAAT PSIKOLOGI BELAJAR 

Manfaat psikologi belajar ialah untuk memberikan bekal kepada guru dan calon guru bahwa anak berbeda dalam hal pembawaan kematangan jasmani intelejensi dan keterampilan motor 

D. SEPULUH MACAM KEGIATAN DALAM PENDIDIKAN 

1. seleksi penerimaan siswa baru
2. Dalam perencanaan pendidikan 
3. Penyusunan kurikulum 
4. penelitian kependidikan  
5. administrasi pendidikan 
6. pemilihan materi pembelajaran 
7. interaksi belajar mengajar 
8. pelayanan bimbingan dan penyuluhan
9. metodelogi mengajar
10. pengukuran dan evaluasi

E. MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI BELAJAR

1. dapat mengetahui proses perkembngan siswa 
2. dapat mengetahui cara belajar siswa 
3. dapat menghubungkan mengajar dengan belajar
4. pengambilan keputusan untuk pengelolaan proses belajar mengajar
5. sejaarah dan metode psikologi belajar

F. PROSES PERKEMBANGAN

1. perkembangan ialah perubahan yang progresif dan terus menerus dalam diri organisme yang berlangsung secara terus menerus sejak lahir hingga mati
2. perkembangan itu berarti pertumbuhan 
3. perkembangan adalah perubahan dalam bentuk dan penyatuan bagian-bagian yang bersifat jasmaniah kedalam bagian-bagian yang fungsional
4. perkembangan ialah kematangan atau kemunculan pola-pola dasar tingkah laku yang bukan hasil; belajar

G. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN

a. Nativisme
Perkembangan manusia dipengaruhi oleh pembawaan yang diterima ileh orang tuanya sedankan pengalaman atau lingkungan tidak berpengaruh sama sekali
b. Empirisme
Tabularasa suatu istilah dari bahasa latin yang berarti lembaran kosong, paham ini menekankan pentingnya pengalaman lingungan dan pendidikan sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan.
 Perkembangan manusia tergantung kepada lingkungan dan pendidikan.
c. Kovergensi
Berarti pembawaan dan lingkungan pada tatanan praktis jika seorang berasal dari orang tua yang cerdas dan pintar, dan mendapat pendidikan yangf berkualitas tinggi maka akan menjadi anak yang cerdas dan pintar.

H. HUKUM-HUKUM PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN 

1. pertunbuhan dalah kuantitatif dan sekaligus kualitatif pertumbuhan mencakup dua aspek yaitu ” perubahan kualitatif sekaligus perubahan kuantitatif”. perubahan kuantitatif mencakup ”devision” dan perbanyakan kromoson sel-sel penambahan jumlah seperti Gigi,rambut pembesaran material jasmaniah.
2. Pertumbuhan suatu proses yang berkesinambungan mulai dari keadaan yang sederhana sampai kepada keadaan yang kompleks. Bagaiman pertumbuhan anak dari lahir sampai duduk berbalik berdiri.
3. Tempo pertumbuhan tidak sama. Ada pertumbuhan yaqng begitu lambat dan ada yang cepat
4. taraf perkembangan berbagai aspek pertumbuhan adalah berbeda aspek pertumbuhan seperti fungsi jasmani bahasa dan kapasitas intelektual mempunyai taraf per kembangan yang berbeda 
5. kecepatan serta pertumbuhan dapat dimodifikasi oleh kondusi didalam dan diluar badan seperti gig,. Aktifitas istirahat, tekanan kejiwaan kesehatan jasmani maupun rohani.
6. masing-masing individu tum buh menurut caranya sendiri
a. perbedaan kondisi lingkungan internal 
b. perbedaan kondisi lingkungan eksternal 
c. perbedaan hereditas 
d. perbedaan aktivitas 
e. Perbedaan kondisi psikologis 
f. Perbedaan usia
g. Perbedaan jenis kelamin 
h. Perbedaan hasil belajar

I. HUKUM PERKEMBANGAN 

1. Hukum konvergensi bahwa perkembangan merupakan gabungan antara pembawaan dan linkungan 
2. Hukum perkembangan dan pengembangan diri
3. Hukum masa peka bahwa dalam setiap diri individu memiliki masa peka yang pada saat itu anak dapat men jalani pelajaran 
4. Hukum keperluan belajar-perkembangan yang terjadi pada manusia memerlukan belajar, seorang anak yang hendak berkembang dari dapat duduk menjadi berdiri
5. Hukum kesatuan anggota badan. Bahwa perkembangan suatu anggota tubuh dibarengi oleh perkembangan anggota tubuh yang lain. demiokian juga perkembangan rohani 
6. Hukum tenpo perkembangan. Bahwa proses perkembangan seseorang tidak sam dalam kecepatannya 
7. Hukum irama perkembangan. Perkembangan seseorang mengalami na ik turun 
8. Hukum rekapitulasi. Bahwa sebuah mikrokosmik yang mencerminkan evolusi kehidupan jenbis mahluk hidup

J. HUBUNGAN PERKEMBANGAN DENGAN BELAJAR

Dalam proses belajar, perkembangan ranah kognitif memberikan arti ,manfaat yang besar.
a. mengembangkan kecakapan koknitif strategi yang penting dikembangkan dalam ranah kognitif adalah strategi belajar memahami isi atau materi pelajaran, strategi memahami arti penting isi atau materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan yang terkandung didalam materi.
b. Menegembangkan kecakapan efektif, pengembangan ranah kognitif yang telah dijelaskan diatas, juga dibarengi dengan pengembangan ranah efektif.
c. Mengembangkan kecakapan psikomotor, pengembangan kecakapan psikomotor harus berbarengan dengan pengembangan kedua ranah sebelumnya.


PROBLEMA KENAKALAN REMAJA DI DALAM PENDIDIKAN


PROBLEMA KENAKALAN REMAJA DI DALAM PENDIDIKAN

Dewasa ini,kenakalan remaja telah menjadi penyakit ganas ditengah-tengah masyarakat, mengingat remaja merupakan bibit pemegang tampuk pemerintahan negara di masa depan. Lebih parah, berbagai kasus kenakalan remaja tersinyalir telah meresahkan masyarakat, semisal kasus pencurian, kasus asusila seperti free sex, pemerkosaan, bahkan pembunuhan. Oleh berbagai praktisi media bahkan para pemerhati sosial hal ini telah banyak digubris dan dicari benang merahnya. Hanya saja, sejauh ini usaha tersebut belum terlihat goal dan terkesan hanya sebagai bahan berita di media massa dan diskursus oleh berbagai kalangan yang belum ada realitas khusus.
Akhir-akhir ini di beberapa media massa sering kita membaca tentang perbuatan kriminalitas yang terjadi di negara yang kita cintai ini. Ada orang tua kandung yang tega meniduri anaknya sendiri, ada seorang anak yang meniduri ibu kandungnya sendiri, ada guru yang melakukan kekerasan dalam mendidik siswa-siswanya dan masih banyak lagi kriminalitas yang terjadi di negeri ini. Kerusakan moral sudah merebak diseluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa serta orang yang sudah lanjut usia. Semua kalangan tidak mau disalahkan, pemerintah menyatakan diri telah berusaha memperbaiki dekadensi moral ini dengan berbagai program yang hanya tertulis dalam kertas-kertas, ulama’ menyatakan diri sama dengan pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk memperbaikinya, berbagai organisasi dan gerakan dideklarasikan tetapi hanya sebatas wacana belaka kenyataannya tetap saja moral ini tidak bisa diperbaiki.
Lantas jika semuanya merasa telah berbuat kenapa semua ini masih terjadi? Lantas siapa yang harus disalahkan? Apakah pemerintah yang memiliki kuasa yang bersalah? Atau para ulama’? saya rasa terlalu sempit pemikiran kita jika hanya menyalahkan pemerintah atau ulama’. Semua kita bertanggung jawab atas dekadensi moral yang terjadi di negeri ini, kita adalah orang yang bertanggung jawab atas musibah yang terjadi di negeri ini. Dalam tulisan sederhana ini saya mencoba mengajak pembaca untuk lebih menyorot masalah kenakalan ramaja yang terjadi di negeri ini. Ada banyak kriminalitas remaja yang sangat memiris hati. Baru-baru ini kita melihat di media adanya kekerasan yang dilakukan oleh pelajar putri terhadap teman sekolahnya, semua ini terjadi seolah-olah hal yang lumrah kita dengar, padahal hal ini merupakan kriminalitas yang menunjukkan ketidak berhasilannya pendidikan di Indonesia.
Jika kita mencoba meneliti sejenak kita akan melihat ada banyak faktor yang menyebabkan kenakalan remaja ini terjadi, setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi prilaku seorang remaja. Pertama, faktor lingkungan. Lingkungan adalah faktor yang paling mempengaruhi prilaku dan watak anak, jika dia hidup dan berkembang di lingkungan yang buruk maka ahlaknyapun akan seperti itu adanya, sebaliknya jika dia berada di lingkungan yang baik maka ia akan menjadi baik pula. Kedua, pendidikan dan pembinaan dari orang tua. Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan ahlak dan prilaku anaknya. Yahudi dan Nasrani anaknya tergantung orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah faktor yang terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik. Ketiga. Pemerintah dalam spesifiknya adalah lembaga pendidikan atau sekolah, kenakalan remaja ini sering terjadi ketika anak berada di sekolah dan jam pelajaran kosong, belum lama ini bahkan kita telah melihat dimedia adanya kekerasan antar pelajar yang terjadi di sekolahnya sendiri.
Dari berbagai faktor dan permasalahan yang terjadi di kalangan remaja masa kini sebagaimana telah disebutkan di atas, maka tentunya ada beberapa solusi yang saya tawarkan dalam pembinaan dan perbaikan remaja masa kini.
Pertama, membentuk lingkungan yang baik. Sebagaimana di sebutkan di atas lingkungan merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi prilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang shaleh, memilih teman yang dekat dengan sang khaliq dan masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan. Jika hal ini mampu kita lakukan, maka peluang bagi remaja untuk melakukan ha negatif akan sedikit berkurang.
Kedua, pembinaan dalam keluarga. Sebagaimana disebut diatas bahwa keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak. Jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Mulailah perbaikan dari sikap yang paling kecil, seperti selalu berkat jujur meski dalam dalam gurauanpun jangan sampai kata-kata bohong, membaca doa setiap melakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak yang bisa kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik, akan tetapi kita bisa lakukan hal itu dengan perlahan dan sabar, jika sabar dan yakin maka semuanya akan sangat bermakna dan memberikan manfaat bagi perbaikan generasi muda.
Ketiga, sekolah. Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan sekolah dan lain sebagainya. Jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi.
Masih banyak hal lain yang dapat yang kita lakukan dalam memperbaiki kenakalan yang terjadi saat ini. Semuanya adalah tanggung jawab kita, orang bijak tidak menyalahkan keadaan tetapi mencari solusi untuk menghadapi kenyataan. Marilah kita sama-sama bekerja untuk memprbaiki masa depan generasi kita, karena hitam dan putih bangsa ini ada di tangan mereka semua.
Jika kita tidak memulai dari sekarang dan dari kita sendiri, maka siapa lagi yang akan memulai dan memperbaikinya. Tidak ada lagi kata untuk saling menyalahkan. Untuk memulai perbaikan ini butuh keseriusan semua pihak. Marilah kita sama-sama serius untuk memperbaiki masa depan bangsa ini. Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok. Marilah kita mulai tidak hanya dengan mimpi tetapi dengan usaha yang nyata.
Ya, ternyata karakter remaja dan ujung-ujungnya berbagai kasus kenakalan pun tak jauh-jauh dari globalisasi, terutama di bidang teknologi, serta westernisasi (budaya kebarat-baratan). Belum lama ini, seperti yang dikoar-koarkan oleh berbagai media, kasus smack down yang sempat mencapai rating tinggi dalam tanyangan televisi di Indonesia telah mengambil posisi tersendiri di kalangan anak/ remaja. Mereka dengan serta merta mempraktekkan adegan semacam itu yang pada akhirnya menjadikan suatu bentuk kriminalitas remaja.
Selain itu, berbagai adegan pornografi di televisi mulai dari kasus ringan sampai berarpun telah menjadi bentuk pendidikan nilai-nilai yang tidak sepantasnya dilakukan oleh remaja. Mereka sebenarnya membutuhkan asupan gizi semisal serupa tontonan yang mendidik yang mencerminkan insan cendikia, intelek, atau akademis, telah diracuni dengan berbagai adegan pacaran bahkan bentuk kegiatan seksual yang lebih jauh/parah. Didikan semacam itu rupanya sangat ampuh untuk membangun kareakter tempe setiap anak/remaja.
Remaja semacam itu yang oleh Kartini Kartono (1988:93) disebut sebagai anak cacat sosial atau cacat mental sebenarnya sudah mengalami demoralisasi atau kemerosotan gradasi moral. Selain karena kondisi sosial di atas, kondisi keluarga pun sangat menentukan, terutama proses pendidikan dari orang tua sebagai upaya pembentukan karakter (character building) anak.


SILOGISME, KATEGORIK, HIPOTETIK, DAN DISJUNGTIF


SILOGISME, KATEGORIK, HIPOTETIK, DAN DISJUNGTIF

Dalam Logika Matematika, Silogisme adalah metode untuk menarik kesimpulan dari sebuah pernyataan yang umum dan sebuah pernyataan spesifik (biasa juga disebut pernyataan mayor dan minor). Pernyataan mayor biasanya adalah sebuah implikasi (if..then..). Contoh:

Pernyataan 1: Semua burung memiliki bulu.
Pernyataan 2: Pinguin termasuk bangsa burung.
Kesimpulan: Pinguin memiliki bulu

atau:
P1: Jika hidup itu logis, maka manusia akan terbuat dari silikon
P2: Pamela Anderson terbuat dari silikon.
K : Pamela Anderson itu logis.
Bukan contoh yang terlalu baik..


Proposisi kategorik adalah proposisi yang mengandung pernyataan tanpa adanya syarat. Proposisi kategorik yang paling sederhana terdiri dari satu term subyek, satu term predikat, satu kopula dan satu quantifier. Subyek, sebagaimana kita ketahui, adalah term yang men¬jadi pokok pembicaraan. Predikat adalah term yang menerangkan subyek. Kopula adalah kata yang menyatakan hubungan antara term subyek dan term predikat. Quantifier adalah kata yang menun¬jukkan banyaknya satuan yang diikat oleh term subyek.

Perlu diketahui, meskipun dalam suatu proposisi tidak dinyatakan quantifier-nya tidak berarti subyek dari proposisi tersebut tidak mengandung pengertian banyaknya satuan yang diikatnya. Dalam keadaan apapun subyek selalu mengandung jumlah satuan yang diikat. Lalu bagaimana menentukan kuantitas dari proposisi yang tidak dinyatakan quantifier-nya. Kita dapat mengetahui lewat hubungan pengertian antara subyek dan predi¬katnya.
Dengan quantifier dapat kita ketahui kuantitas proposisi tertentu, apakah universal, partikular ataukah singular, dan de¬ngan kopula bisa kita ketahui kualitas proposisi itu apakah positif ataukah negatif. Dari kombinasi antara kuantitas dan kualitas proposisi maka kita kenal enam macam proposisi, yaitu: a. Universal positif, b. Partikular positif, c. Singular positif, d. Universal negatif, e. Partikular negatif, f. Singular negatif, Proposisi universal positif, kopulanya mengakui hubungan subyek dan predikat secara keseluruhan, dalarn Logika dilam¬bangkan dengan huruf A. Proposisi partikular positif kopula mengakui hubungan subyek dan predikat sebagian saja dilam¬hangkan dengan huruf I. Proposisi singular positif karena kopula¬nya mengakui hubungan subyek dan predikat secara keseluruhan maka juga dilambangkan dengan huruf A. Huruf Adan I masing masing sebagai lambang proposisi universal positif dan partikular positif diambil dari dua huruf hidup pertama kata Latin Affirmo yang berarti mengakui.


mohon ... klo udah baca posting kami, jangan lupaaaaaaaaaaaa kasi komentar yaaa .... n saran konstruktif ....................


thanks yaa atas komentar kaliaaannnnnnnnnnnnnnn !!!!!