"الله جميل يحبّ الجمال"

Allah Itu Indah, Mencintai Keindahan

Sabtu, 30 Mei 2009

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS PEMBELAJARAN


MAKALAH

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS PEMBELAJARAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Strategi Pembelajaran PAI Yang Dibina Oleh Bapak Buna’I, S.Ag. M.Pd



Oleh :

SYAMSUL HADI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI 
(STAIN) PAMEKASAN

OKTOBER 2008


KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Pembelajaran. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW serta kepada pengikutnya sampai akhir zaman.
Kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam penyusunan makalah ini, kami mengucapkan terima kasih wabil khusus kepada Bapak Buna’I,S.Ag. M.Pd selaku dosen pembina dari mata kuliah Strategi Pembelajaran PAI.
Dan kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya. Karena itu, saran dan kritik dari para pembaca sangat kami harapkan dan akan diterima dengan hati terbuka.
Akhirnya kepada-Nya jualah kami mohon taufik dan hidayah-Nya, semoga makalah ini bermanfaat. Amin Ya Rabbal Al-amiin.

Pamekasan, 21 Oktober 2008

Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran terkait dengan bagaimana (How To) membelajarkan siswsa atau bagaimana membuat siswa dapat belajar dengan mudah dan terdorong oleh kemauannya sendiri untuk mempelajari apa (What to) yang teraktualisasikan dalam kurikulum sebagai kebutuhan (Needs) peserta didik. Karena itu pembelajaran berupaya menjabarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam kurikulum dengan menganalisis tujuan pembelajaran dan karakteristik isi bidang studi pendidikan yang terkandung di dalam kurikulum atau kurikulum ideal/potensial. Selanjutnya, dilakukan kegiatan untuk memilih, menetapkan dan mengembangkan cara-cara (strategi) pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan sesuai kondisi yang ada, agar kurikulum dapat diaktualisasikan dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajar terwujud dalam diri peserta didik.
B. Rumusan Masalah
Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan peserta didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pembelajaran dilakukan.
Akan tetapi salah satu permasalah yang dihadapi di dunia pendidikan kita adalah rendahnya kualitas pembelajaran, faktor-faktor apa yang mempengaruhi hal tersebut?.

C. Tujuan Masalah
Tujuan kami membahas makalah ini yaitu untuk mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN


Jika ada seorang guru yang mengatakan bahwa dia tidak ingin berhasil dalam mengajar, adalah ungkapan seorang guru yang sudah putus asa dan jauh dari kepribadian seorang guru. Mustahil setiap guru tidak ingin berhasil dalam mengajar. Apalagi jika guru itu hadir ke dalam dunia pendidikan berdasarkan tuntutan hati nurani. Panggilan jiwanya pasti merintih atas kegagalan mendidik dan membina anak didiknya.
Betapa tingginya nilai suatu keberhasilan, sampai-sampai seorang guru berusaha sekuat tenaga dan pikiran mempersiapkan program pengajarannya dengan baik dan sistematik. Namun terkadang keberhasilan yang dicita-citakan, tetapi kegagalan yang ditemui, disebabkan oleh berbagai faktor sebagai penghambatnya. Sebaliknya, jika keberhasilan itu menjadi kenyataan, maka berbagai faktor itu juga sebagai pendukungnya.
Dalam pembelajaran terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran diantaranya yaitu :
1. Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar berpangkal tola dari jelas tidaknya perumusan tujuan pengajaran. Tercapainya tujuan sama halnya keberhasilan pengajaran.
Sedikit banyaknya perumusan tujuan akan mempengaruhi kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru, dan secara langsung guru mempengaruhi kegiatan belajar anak didik. Guru dengan sengaja menciptakan lingkungan belajar guna mencapai tujuan. Jika belajar anak didik dan kegiatan mengajar guru bertentangan, dengan sendirinya tujuan pengajaran pun gagal untuk dicapai.

2. Guru
Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Tanpa guru bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi tidak mungkin bisa diaplikasikan. Keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran akan tergantung pada kepiawaian guru dalam menggunakan metode, tekhnik dan taktik pembelajaran.
Guru dalam proses pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran. Dengan demikian efektivitas proses pembelajaran terletak dipundak guru. Oleh karenanya, keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas atau kemampuan guru. Guru sangat menentukan bagi keberhasilan anak mengingat guru adalah pengajar, pembimbing dan penuntun anak.
Menurut Dunkin (1974) ada sejumlah aspek yang dapat mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru diantaranya:
a. Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang sosial mereka. Yang termasuk aspek tersebut adalah tempat kelahiran guru termasuk suku, latar belakang budaya dan ada istiadat, keadaan kelularga dari mana guru itu berasal.
b. Teacher trining experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru misalnya pengalaman latihan profesional, tingkatan pendidikan, pengalaman jabatan.
c. Teacher properties, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru misalnya sikap guru terhadap siswa, kemampuan atau intelegensi guru, motivasi dan kemampuan dalam penguasaan materi pelajar.


3. Anak Didik (siswa)
Menurut Dunkin, faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari aspek siswa meliputi :
a. Latar belakang siswa (pupil formative experience) meliputi jenis kelamin siswa, tempat kelahiran, tingkat sosial ekonomi, dari keluarga bagaimana siswa berasal dll. Kepribadian mereka bermacam-macam ada yang pendiam, ada yang periang, ada yang suda bicara, ada yang kreatif, keras kepala, manja dan sebagainya.
b. Sifat yang dimiliki siswa (pupil properties) meliputi kemampuan, pengetahuan dan sikap. Tidak dapat disangkal bahwa setiap siswa memiliki kemampuan atau tingkat kecerdasan yang bervariasi. Perbedaan-perbedaan semacam itu menuntut perlakuan yang berbeda pula baik dalam penempatan atau pengelompokan siswa maupun dalam perlakuan guru dalam menyesuaikan gaya belajar. Karena itu perbedaan anak pada aspek biologis, intelektual dan psikologis tersebut dapat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.
Anak didik atau siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi jarak dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh perkembangan anak yang tidak sama, disamping karakteristik lain yang melekat pada diri anak.

4. Sarana dan Prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran misalnya media pembelajaran, alat-alat pelajaran, perlengkapan sekolah dan lain-lain. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil dan lain-lain. Kelengkapan saran dan prasarana akan membantu guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan demikian sarana dan prasarana merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran.
Terdapat beberapa keuntugan bagi sekolah yang memiliki kelengkapan sarana dan prasana. Pertama, kelengkapan sarana dan prasarana dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru mengajar. Mengajar dapat dilihat dari dua dimensi yaitu sebagai proses penyampaian materi pelajaran dan sebagai proses pengaturan lingkungan yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Jika mengajar dipandang sebagai proses penyampaian materi, maka dibutuhkan sarana pembelajaran berupa alat dan bahan yang dapat menyalurkan pesan secara efektif dan efisien, sedangkan manakala mengajar dipandang sebagai proses mengatur lingkungan agar siswa dapat belajar, maka dibutuhkan sarana yang berkaitan dengan berbagai sumber belajar yang dapat mendorong siswa untuk belajar. Kedua, kelengkapan saran dan prasarana dapat memberikan berbagai pilihan pada siswa untuk belajar. Setiap siswa pada dasarnya memiliki gaya belajar yang berbeda. Siswa yang auditif akan lebih mudah belajar melalui pendengar, sedangkan tipe siswa yang visual akan lebih mudah belajar melalui penglihatan.

5. Kegiatan Pembelajaran
Pola umum kegiatan pembelajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya. Guru yang mengajar, anak didik yang belajar. Maka guru adalah orang yang menciptakan lingkungan belajar bagi kepentingan belajar anak didik.
Dalam kegiatan belajar mengajar, pendekatan yang guru ambil akan menghasilkan kegiatan anak didik yang bermacam-macam. Guru yang menggunakan pendekatan individual, misalnya berusaha memahami anak didi sebagai makhluk individual dengan segala persamaan dan perbedaannya. Guru yang menggunakan pendekatan kelompok berusaha memahami anak didik sebagai makhluk sosial, dengan tingkat keberhasilan belajar mengajar yang tidak sama pula. Perpaduan dari kedua pendekatan itu malah akan menghasilkan hasil belajar mengajar yang lebih baik.
Strategi penggunaan metode mengajar amat menentukan kualitas hasil belajar mengajar. Hasil pembelajaran yang dihasilkan dari penggunaan metode ceramah tidak sama dengan hasil pembelajaran yang dihasilkan dari penggunaan metode tanya jawab atau metode diskusi.

6. Lingkungan
Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran yaitu :
a. Faktor organisasi kelas, yang di dalamnya meliputi jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kelompok belajar yang besar dalam satu kelas berkecenderungan :
1. Sumber daya kelompok akan bertambah luas sesuai dengan jumlah siswa, sehingga waktu yang tersedia akan semakin sempint.
2. Kelompok belajar akan kurang mampu memanfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada. Misalnya dalam penggunaan waktu diskusi. Jumlah siswa yang terlalu banyak akan memakan waktu yang banyak pula, sehingga sumbangan pikiran akan sulit didapatkan dari setiap siswa.
3. Kepuasan belajar setiap siswa akan kecenderungan menurun. Hal ini disebabkan kelompok belajar yang terlalu banyak akan mendapatkan pelayanan yang terbatas dari setiap guru, dengan kata lain perhatian guru akan semakin terpecah.
4. Perbedaan individu antara anggota akan semakin tampak, sehingga akan sukar mencapai kesepakatan. Kelompok yang terlalu besar cenderung akan terpecah ke dalam sub-sub kelompok yang saling bertentangan.
5. Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecenderungan akan semakin banyak siswa yang terpaksa menunggu untuk sama-sama maju mempelajari materi pelajaran baru.
6. Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecenderungan akan semakin banyak siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan kelompok.
b. Faktor iklim sosial – psikologis maksudnya, keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim sosial ini dapat terjadi secara internal dan eksternal.
Iklim sosial – psikologis secara internal adalah hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan sekolah misalnya iklim sosial antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara guru dengan guru bahkan antara guru dengan pimpinan sekolah.
Sekolah yang mempunyai hubungan yang baik secara internal, yang ditunjukkan oleh kerjasama antar guru, salaing menghargai dan saling membantu, maka memungkinkan iklim belajar menjadi sejut dan tenang sehingga akan berdampak pada motivasi belajar siswa. Sebaliknya, manakala hubungan tidak harmonis, iklim belajar akan penuh dengan ketegangan dan ketidaknyamanan sehingga akan mempengaruhi psikologis siswa dalam belajar.
Iklim sosial – psikologis eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat dan sebagainya.
Iklim sosial yang banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga dan demografi keluarga (letak rumah) semuanya dapat memberi dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.

7. Bahan dan Alat Evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat di dalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Biasanya bahan pelajaran itu sudah dikemas dalam bentuk buku paket untuk dikonsumsi oleh anak didi. Setiap anak didik dan guru wajib mempunyai buku paket tersebut guna kepentingan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Bila tiba masa ulangan, semua bahan yang telah diprogramkan dan harus selesai dalam jangka waktu tertentu dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan item-item soal evaluasi. Gurulah yang membuat dengan perencanaan yang sistematis dan dengan menggunakan alat evaluasi. Alat-alat evaluasi yang umumnya digunakan tidak hanya benar-salah (true – false) dan pilihan ganda (multiple choise) tapi juga menjodohkan (matching), melengkapi (completion) dan essay.
Masing-masing alat evaluasi mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Benar – salah ( B – S) dan pilihan ganda adalah bagian dari tes objetif. Maksdunya, objektive dalam hal pengoreksian, tapi belum tentu objektif dalam jawaban yang dilakukan oleh anak-anak didik. Karena sifat alat ini mengharuskan anak didik memilih jawaban yang sudah disediakan dan tidak ada alternatif lain diluar dari alternatif itu, maka bila anak didik tidak dapat menjawabnya, cenderung melakukan tindakan spekulasi pengambilan sikap untung-untungan ketimbang tidak bisa.
Alat test dalam bentuk essaya dapat mengurangi sikap dan tindakan spekulasi pada anak didik. Sebab test ini hanya dapat dijawab bila anak didik betul-betul menguasai bahan pelajaran dengan baik. Bila tidak, kemungkinan besar anak didik tidak dapat menjawabnya dengan baik dan benar. Kelemahan alat test ini adalah dari segi pembuatan item soal tidak semua bahan pelajaran dalam satu semester dapat tertampung untuk disuguhkan kepada anak didik pada waktu ulangan. Essay memang alat test yang tidak objektif, karena dalam penilaiannya, kalaupun ada standar penilaian, masih terpengaruh dengan selera guru. Apalagi bila tulisan anak didik tidak mudah terbaca, kejengkelan hati segera muncul dan pemberian nilai tanpa pemeriksaanpun dilakukan.
Berbagai permasalahan yang telah dikemukaan tersebut mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Validitas dan reliabilitas data dari hasil evaluasi itulah yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Bila alat tes itu tidak valid dan tidak reliable, maka tidak dapat dipercaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar mengajar.

8. Suasana Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas. Semua anak didik dibagi menurut kelas masing-masing dan tingkatan masing-masing. Besar kecilnya jumlah anak didik yang dikumpulkan di dalam kelas akan mempengaruhi suasa kelas. Sekaligus mempengaruhi suasana evaluasi yang dilaksanakan. Sistem silang adalah tekhnik lain dari kegiatan mengelompokkan anak didik dalam rangka evaluasi. Sistem ini dimaksudkan untuk mendapatkan data hasil evaluasi yang benar-benar objektif.
Karena sikap mental anak didik belum semuanya siap untuk berlaku jujur, maka dihadirkanlah satu atau dua orang pengawas atau guru yang ditugaskan untuk mengawasinyak. Selama pelaksanaan evaluasi, selama itu juga seorang pengawas mengamati semua sikap, gerak gerik yang dilakukan oleh anak didik.
Sikap yang merugikan pelaksanaan evaluasi dari seorang pengawas adalah membiarkan anak didik melakukan hubungan kerja sama diantara anak didik. Pengawas seolah-olah tidak mau tau apa yang dilakukan oleh anak didik selama ulangan. Lebih merugikan lagi adalah sikap pengawas yang sengaja menyuruh anak didik membuka buku atau catatan untuk mengatasi ketidakberdayaan anak didik dalam menjawab item-item soal. Dengan dalih, karena koreksinya sistem silang, malu kebodohan anak didik diketahui oleh sekolah lain.
Suasana evaluasi yang demikian tentu saja, disadari atau tidak, merugikan anak didik untuk bersikap jujur dengan sungguh-sungguh belajar di rumah dalam mempersiapkan diri menghadapi ulangan. Anak didik merasa diperlakukan secara tidak adil, mereka tentu kecewa, mereka sedih, mereka berontak dalam hati, mengapa harus terjadi suasana evaluasi yang kurang enak dipandang mata. Dimanakah penghargaan pengawas atas jerih payahnya belajar selama ini.
Dampak dikemudian hari dari sikap pengawas yang demikian, adalah mengakibatkan anak didik kemungkinan besar malas belajar dan kurang memperhatikan penjelasan ketika belajar mengajar berlangsung. Hal inilah yang seharusnya tidak boleh terjadi pada diri anak didik. Inilah dampak yang merugikan terhadap kualitas pembelajaran.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan-pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran adalah merupakan sistem. Dengan demikian, pencapaian standar proses untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dapat dimulai dari menganalisis setiap komponen yang dapat membentuk dan mempengaruhi proses pembelajaran. Begitu banyak komponen yang dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran. Namun demikian tidak mungkin upaya meningkatkan kualitas dilakukan dengan memperbaiki setiap komponen secara serempak.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Tujuan
2. Guru (pendidik)
3. Anak Didik (siswa)
4. Sarana dan Prasarana
5. Kegiatan Pembelajaran
6. Lingkungan
7. Bahan dan Alat Evaluasi
8. Suasana Evaluasi
Dari beberapa faktor diatas, komponen yang selama ini dianggap sangat mempengaruhi proses pendidikan adalah guru. Sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa sebagai subjek dan objek belajar. Bagaimanapun bagus dan idealnya kurikulum pendidikan, bagaimanapun lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran, tanpa diimbangi dengan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya, maka semuanya akan kurang bermakna.

B. Saran
Tak ada gading yang tak retak, tak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu juga dengan penyajian makalah ini, ternyata masih banyak kekurangan-kekurangan dengan kesalahan-kesalahan yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu kami mengharapkan masukan yang konstruktif guna perbaikan dalam penyajian makalah berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA


Sanjaya, Wina Dr, M.Pd. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2006
Syah, Muhibbin, M.Ed. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2002
Djamarah, Syaiful Bahri, Drs Dan Drs. Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Rineka Cipta, 2006
Sholihin, Muchlis M.Ag. Psikologi Belajar PAI. Pamekasan : Stain Pamekasan Press, 2006
Muhaimin, Drs. M. A. Et. Al. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2002



Oret - oretan

Oret - oretan

”Rumah Berkata Padaku” JanganTinggalkan Aku
di Sinilah Tersimpan Masa lalumu 
”Jalana Berkata Padaku” Ikutlah Dengan ku
Karena Akulah masa Depanmu.
(S. Hadi)

kita masih terlalu dini Untuk Mengatakan Menyerah
Kita Masih Terlalu Muda Dalam Peranan Hidup Ini
Jadi Tidak Ada Kata Akhir Dalam Mencari ilmu
(S. Hadi)

Bersemangatlah Putra Putri Bangsaku Dalam Mencari Ilmu Ingatlah Anak Adalah Harapan Orang Tua
Tidak Ada Yang Lebih Brharga Bagi Mereka Kecuali Senyuman Manismu Mendapatkan Gelar Sang Juara
(S. Hadi)

Pakaian Adalah Akhlak
Copotlah Pakaianmu
Maka Engkau Kehilangan Segala Macam Harkatmu
Sebagai Manusia Pakailah
Yang Membuat Manusia Bernama Manusia
Pakaian Adalah Pegangan Nilai Landasan Moral
Dan Sistem Nilai
(S. Hadi)

SAHABAT LAMAKU

Oh ... sahabat lamaku
Walau kita tidak berjumpa
Sekian lama
Janganlah kau melupakanku
Biar dunia menghalangi
Persahabatan kita takkan hilang

Oh ... sahabat lamaku
Kau menjadikan aku berdaya lagi
Di saat aku sedih
Kau datang menghiburku
Memberikan semangat dan sejuta harapan
Sehingga ku bersemangat menjalani hidup ini
Walau ku pernah sakiti hatimu
Kau slalu membukakan pintu maaf untukku
Dalam hati yang paling dalam aku mengucapkan
”Terima kasih shobat”
(S. Hadi)

TAUBAT 

Kucampakkan butiran-butiran kantuk
Yang mengganjal kelopak
Kuraih nirmala suci
Buah dari kebaktian hati tiada batas
Jauh di belakang matahari

Dengan tertatih
Aku gumam berharap
Di antara bibir-bibir yang kering
Di sela malam tasbih yang terus terangkai
Membakar kesombongan yang hitam

Di sini ...
Di kerapuhan hati yang kian hancur
Sujudku meneguk sunyi
Dalam keheningan malam yang bisu
Ku tinggalkan keangkuhan dunia yang dusta

(S. Hadi)

ILUSI HATI

Api tersulut dalam hati nurani yang membara 
batin terucap selalu dalam zkikir 
menari tiang-tiang diri yang lama kutinggalkan 
perasaan gundah tersiram lagu-lagu zkikir hati 
menebar dalam keyaqinan 
laksana pohon rindang yang terhempas udara sejuk di pagi hari 
hati lahir dari kalimat syahadataini di besarkan dalam sholat lima waktu dan aku puaskan hati demi kesucian hati.
(S. Hadi)

JIWAKU

Mengapa diriku….?
Kau tempuh jalan yang tak pasti
Tujuanmu tiada harapan
Kegelisahan-mu tiada sebab

Tanyalah pada alam
Yang setia menemanimu
Akankah engkau merasa tenang
Dalam kekacaun yang engkau hadapi

Carilah keinginanmu
Dalam setiap munajatmu
Ingatlah masa lalumu
Sebagai renungan hidupmu

Jiwaku.................!
Maafkan aku
Ku tak dapat membebaskanmu
Hanya dia-lah harapan sejatimu
Yang selalu membimbingmu

(S. Hadi)

RINDU MENANTI

Angin Malam Gersang
Debu-Debu Berterbangan
Laksana Buih-Buih Yang Berhembus
Diantara Padang Pasir Kerinduan
Kerinduan Akan Hadirmu.......
Kerinduan Akan Kedatanganmu.......
Sanggupkah Batu-Batu bisu Itu
Mendengar Tangis Akan Rinduku
Dapatkah Pohon-Pohon Kaktus Itu
Mencari Keberadaanmu 
Atau... Haruakah Aku Berbisik Pada Angin
Agar Dia Membawa Rinduku Berdir Dihdapanmu Ini

(S. Hadi)



BAHASA MENURUT KAJIAN LINGUISTIK

MAKALAH

BAHASA MENURUT KAJIAN 
LINGUISTIK



Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Linguistik
 YangDibina Oleh Ibu Iswah



Oleh : 

SYAMSUL HADI
NIM. 210 612 324



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PAMEKASAN
(STAIN)
2006/2007


KATA PENGANTAR


Kami ucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas segala limpahan rahmat, taufiq serta hidayahnya sehingga kita mampu melaksanakan segala aktivitas rutinitas dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. 
Selanjutkan makalah ini kami persembahkan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Linguistik yang membahas tentang ”Bahasa Menurut Kajian Linguistik” dan kami ucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing yang membina mata kuliah Linguistik.
Semoga makalah ini menjadi suatu ilmu yang bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi kami pribadi. Dan hanya kepada Allah kami akan kembali.




Penulis 



BAB I
PENDAHULUAN


A. Latang Belakang
Kajian mengenai suatu bahasa yang sering terasa agak sukar adalah pada langkah linguistik awal. Suatu pendekatan ilmiah terhadap bahasa maupun masalah-masalah kebahasaan kini telah terbukti merupakan alat yang ampuh dan sangat berguna. Linguistik sebagai ilmu bukan hanya merupakan pengetahuan semata, tetapi telah menempuh sejarah perkembangan yang cukup panjang. Linguistik dalam sejarah awalnya telah tumbuh dengan tujuan kemanfaatan praktis. 
Berdasarkan pernyataan di atas, kajian bahasa dalam linguistik merupakan kajian yang sangat penting. Maka dari itu penulis akan membahas tentang “Bahasa dalam kajian linguistik”. Semoga bermanfaat Amien

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian bahasa itu?
2. Apa hakikat bahasa itu?
3. Apa saja cabang-cabang kajian kebahasaan dalam linguistik?


BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengetian Bahasa
Banyak ulama dan ilmuwan mendefinisikan bahasa (اللغة) dengan beragam sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Bahkan di kalangan ulama ahli bahasa sendiri terdapat beragam definisi tentang bahasa. Diantara definisi-definisi tersebut adalah : 
. عرف علماء النفسى اللغة فرأوا أنها مجموعة اشارات تصلح للتعبير عن حالات الشعور
أو أنها الوسيلة التى يمكن بواسطتها تحليل أية صورة أو فكرة ذهنية الى أجزائها أو خصائها. 
Menurut Ibnujini (Hasanain, 1984 : 35) mendefinisikan bahasa adalah bunyi yang digunakan oleh setiap bangsa atau masyarakat untuk mengemukakan ide.
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh pada anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. 

B. Hakikat Bahasa
Bahasa memainkan peran yang sangat penting dan menentukan dalam kehidupan manusia. Oleh karena kaitannya yang erat, manusia hampir-hampir tidak menyadari peran dan kedudukan hakiki dari bahasa karena bahasa dirasakan hadir dan berfungsi seperti kaki, tangan, atau napas dalam tubuh manusia. Kenyataannya, untuk menarik garis umum tentang bentuk, unsur, maupun ciri yang terdapat pada satu atau beberapa bahasa bukanlah hal yang mudah dan sederhana. Bloomfield (1961: 20) menyatakan bahwa satu-satunya generalisasi bermanfaat yang dapat ditarik ialah generalisasi induktif.  
Kemampuan berbahasa pada diri manusia merupakan salah satu pembeda utama antara manusia dan binatang. Sehingga manusia disebut hayawanun nathiq ‘hewan yang berbicara’. Predikat tersebut sekaligus menunjukkan bahwa suatu masyarakat manusia selalu diikat oleh bahasa yang mereka gunakan. Setiap masyarakat terbentuk, hidup dan tumbuh dengan bahasa. 

C. Cabang-Cabang Kajian Kebahasaan Dalam Linguistik
Linguistik sebagai ilmu kajian kebahasaan memiliki berbagai cabang. Cabang-cabang itu di antaranya adalah : 
1. Fonologi
Fonologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk morfein dan penggabungannya untuk membentuk satuan lingual yang disebut kata polimorfemik.
2. Morfologi
3. Sintaksis
Sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa yang mengkaji penggabungan satuan-satuan lingual yang berupa kata itu untuk membentuk satuan kebahasaan yang lebih besar, seperti frase, klausa, kalimat, dan wacana.
4. Semantik
Semantik merupakan disiplin ilmu bahasa yang menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Makna leksikal adalah makna unit semantik yang terkecil yang disebut leksem, sedangkan makna gramatikal adalah makna yang terbentuk dari penggabungan satuan-satuan kebahasaan. 
5. Pragmatik
Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji penggunaan bahasa berintegrasi dengan tata bahasa yang terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik.


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
 Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh pada anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.
 Bahasa dirasakan hadir dan berfungsi seperti kaki, tangan, atau napas dalam tubuh manusia.
 Cabang-cabang kajian linguistik diantaranya : Fonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik, Pragmatik.

B. Saran 
Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, kami harapkan saran dan kritik dari bapak pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca. Amien


DAFTAR PUSTAKA


Kridalaksana, Harimurti, p. 1993. Penyelidikan Bahasa dan Perkembangan Wawasannya I, II. Jakarta: Masyarakat Linguistik Indonesia.
melayuonline.com/?a=RmlxL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D= - 103k


HAJI DAN UMRAH


MAKALAH

HAJI DAN UMRAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqh 
Muamalah Yang Dibimbing Oleh Dra. Siti Musawwmah, M.Si

Disusun oleh: 

SYAMSUL HADI
NIM: 210 612 243



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
PAMEKASAN
2006-2007



 
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kalah kita berbicara tentang haji dan umrah maka kita terlebih dahulu mengetahui tentang definisi, hukum dan landasan dari ibadah tersebut karena kita harus mengetahui apa ibadah yang kita laksanakan dengan jelas agar ibadah haji dan umrah yang dilakukan berjalan dengan lancar dan sempurna, oleh karena itu kita juga harus mengetahui tentang syarat dan rukun dari kedua ibadah tersebut.
Haji adalah mengunjungi ka’bah (baitullah) di makkah untuk melaksanakan ibadah kepada Allah. Sedangkan umrah adalah berziarah ke baitullah, dan kedua ibadah ini fardhu ain hukumnya bagi umat islam.

B. Rumusan Masalah
1. Definisi haji dan umrah
2. Hukum dan dalilnya
3. Syarat haji dan umrah
4. Rukun haji dan umrah
5. perbedaan dan persamaan haji dan umrah


BAB II
PEMBAHASAN


1. HAJI
A. Definisi haji 
Haji menurut etimologi adalah menyengaja atau menuju. Sedangkan menurut istilah syara’ adalah sengaja mengunjungi ka’bah (baitullah) di makkah untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan .

B. Hukum dan dalilnya
Ibadah haji adalah suatu kewajiban yang dalam seumur hidup cukup dilakukan sekali oleh setiap orang baik laki-laki maupun perempuan, dengan syarat-syarat tertentu, oleh karena ini kita sebagai orang islam wajib untuk menunaikan haji bagi yang sudah diberi kamampuan untuk melaksanakannya, karena haji merupakan salah satu rukun islam.
Firman Allah SWT.

Artinya : Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu bagi orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah (Q.S. Ali Imran : 97) 

C. Syarat haji 
1. Beragama islam
2. Baligh (dewasa)
3. Berakal (aqil)
4. merdeka (bukan budak)
5. Mampu (istita’ah)

D. Rukun haji 
1. Ihram ialah niat menunaikan ibadah haji bersamaan dengan memakai baju iharam.
2. Wukuf adalah berdiam diri di arafah pada waktu dzuhur tanggal 9-10 dzulhijjah menjelang fajar.
3. Tawaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali.
4. Sai adalah berlari-lari kecil antara bukit safa dan marwah.
5. Tahallul adalah mencukur rambut sekurang-kurangnya 3 helai.
6. Tertib adalah tidak menginggalkan salah satu rukun tersebut.

2. UMRAH
A. Definisi umrah
Umrah menurut etimologi adalah ziarah, sedangkan menurut istilah syara’ adalah berziarah ke baitullah dengan cara tertentu yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

B. Hukum dan dalilnya
Ibadah umrah adalah fardlu ain dalam seumur hidup satu kali, seperit haji. Misalnya kewajiban itu secara segera atau nanti-nanti. Dalil tentang kefardhluannya adalah firman Allah SWT.

Artinya : Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah (Q.S. Al Baqorah : 196)  
Maksud dar ayat di atas adalah perintah untuk menyempurnakan sesudah mulai mengerjakan mengingat kalau sudah mulai di kerjakan, maka wajib di selesaikan oleh kaum muslimin (orang islam).



C. Syarat umrah
Pada dasarnya syarat umrah sama halnya dengan syarat haji sebagaimana telah dibahas dalam bab haji.

D. Rukun umrah
1. Ihram dengan niat karena allah sambil mengatakan “labbaika umratan” artinya aku memenuhi panggilanmu untuk melakukan umrah.
2. Tawaf adalah mengelilingi ka’bah seperti dalam tawaf haji.
3. Sai adalah berlari-lari kecil antara bukit safa dan marwah.
4. Tahallul.
5. Tertib.

3. Perbedaan dan persamaan haji dan umrah
a) Perbedaan haji dan umrah
1. Niatnya yang berbeda
2. Rukun-rukunnya, yaitu haji ada enam, sedangkan rukun umrah hanya lima.
3. Waktu pelaksanaannya, ibadah haji dilaksanakan pada waktu tertentu mulai dai bulan syawal hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah, sedangkan umrah boleh dilakukan kapan saja.
4. Umrah disebut juga haji kecil, sedangkan haji tidak ada sebutan tersebut.
b) Persamaan haji dan umrah
1. Hukumnya keduanya sama-sama fardu ain.
2. Keduanya sama-sama mempunyai syarata-syarat wajib.’



BAB III
PENUTUP DAN KESIMPULAN


a. Haji adalah sengaja mengunjungi ka’bah (baitullah) di Makkah untuk melaksanakan ibadah kepada Allah. Sedangkan umrah adalah berziarah ke baitullah.
b. Hukum dari haji dan umrah adalah fardlu ain yang hanya wajib dilakukan satu kali seumur hidup oleh umat islam.
c. Syarat haji dan umrah
1. Beragama islam
2. Baligh (dewasa)
3. Berakal (aqil)
4. Merdeka (bukan budak)
5. Mampu
d. Rukun haji dan umrah
Haji Umrah 
Ihram
Wukuf
Tawaf
Sai
Tahallul
Tertib Ihram
Tawaf
Sai
Tahallul
Tertib
e. Perbedaan dan persamaan haji dan umrah
a. Perberdaan
1. Niatnya yang berbeda
2. Rukun-rukunnya, yaitu haji ada enam, sedangkan rukun umrah hanya lima.
3. Waktu pelaksanaannya, ibadah haji dilaksanakan pada waktu tertentu mulai dai bulan syawal hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah, sedangkan umrah boleh dilakukan kapan saja.
4. Umrah disebut juga haji kecil, sedangkan haji tidak ada sebutan tersebut.
b. Persamaan
1. Hukumnya keduanya sama-sama fardu ain.
2. Keduanya sama-sama mempunyai syarata-syarat wajib.’


DAFTAR PUSTAKA


 Rasyid, Sulaiman, Fiqh Islam, Sinar Baru Algensindo
 Ishomuddin. Intergrasi Budi Pekerti Dalam Pendidikan Agama Islam. Tiga Serangkai.
 Masyhuri Aziz, Fiqh Haji Menurut Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hambali, Surabaya-PT. Bungkul Indah. 1994


KESESATAN-KESESATAN DALAM PENALARAN

KESESATAN-KESESATAN
DALAM PENALARAN
By: Syamsul Hadi


Menalar adalah berpikir dengan tepat. Oleh karena hanya manusia saja yang mampu berpikir, maka menalar itu obyeknya juga manusia. Manusia itu didalam kegiatannya berusaha mengolah apa yang dapat diketahui dengan indera untuk sampai pada suatu kebenaran. Dengan demikian sasaran dari penyelidikan penalaran itu adalah manusia.
Untuk sampai pada suatu ketepatan bernalar, terdapat rambu-rambu yang sangat perlu diperhatikan, agar tidak terjadi kesesatan.
Kesesatan penalaran dapat terjadi pada siapa saja, bukan karena kesesatan dalam fakta-fakta, tetapi dari bentuk penarikan kesimpulan yang sesat, karena tidak dari premis-premis yang menjadi acuannya.

KEMUNGKINAN KESESATAN BERPIKIR DEDUKTIF

A. Kesesatan Yang Bersifat Semantik atau Ambiguitas (Ambiguity)
Kesesatan-kesesatn Ambiguitas
2. Kesesatan Ekuivoka
Suatu kesesatan karena anggapan bahwa kata-kata selalu dapat dipakai dalam pengertian yang sama sedangkan sebenarnya terdapat ambiguitas.
Kesesatan seperti ini dapat diatasi dengan cara menyusun definisi secara hati-hati.
3. Kesesatan Amfiboli
Amfiboli itu merupakan kesalahan dalam susunan kalimat atau proposisi. Seluruh argument terkena penafsiran ganda. Penafsiran ganda seperti itu menyebabkan ketidak jelasan karena susunan kalimatnya begitu sulit dipahami. Untuk keraguan, sering kali ditempuh jalan dengan membuat pertanyaan terhadap kalimat yang disusun itu.
4. Kesesatan Komposisi
Kesesatan itu mungkin sekali terjadi, bila kata atu sekumpulan kata yang disebut. Term di dalam satu bagian dipandang "secar distributive", dan pada bagian lain term sebagai akibatnya adalah bahwa uraian penjelas yang disusun itu berangkat dari pola piker "masing-masing" atau particular, dipergunakan secar distributive itu berfungsi sebagai proposisi individual. Proposisi individual adalah suatu proposisi yang menyatakan masing-masing anggota suatu golongan dan secara individual.
Sedangkan term "semua" itu dipergunakan secara kolektif apabila dipergunakan untuk menyatakan seluruh ataupun semua anggota golongan secara bersama-sama.
5. Kesesatan dalam Pembagian
Kesesatan ini berkebalikan dari kesesatan komposisi, yang telah dibicarakan di atas.
Hal ini bisa terjadi karena mempergunakan istilah atau pengertian dalam arti kolektif pada sebuah proposisi, dan tetap saja mempergunakannya secara distributive pada premis lain atau dalam suatu konskuens. Hal itu akan membawa akibat bahwa uraian dari "semua" akan menjadi masing-masing atau dari universal ke individual.
Kesesatan ini karena orang menganggap apa yang benar bagi keseluruhan, juga benar bagi setiap orang secara individual. Suatu kebenaran yang berlaku bagi keseluruhan terjadi juga akan benar bagi bagian-bagiannya. Sebaliknya terjadi pula apa yang tidak benar bagi keseluruhan juga dianggap tidak benar bagi bagian-bagiannya.
6. Kesesatan Aksentuasi
Semula berarti bahwa kata-kata yang ambiguitas yaitu pengertiannya akan berbeda, bila aksen ataupun tekanan dalam bicaranya berbeda pula. Sehingga aksen itu yang menyebabkan ambiguitas.
Anak-anak sering mengalami kesulitan dalam hal seperti ini.
Agar ambiguitas itu dapat dihindari, seharusnya diberikan porsi tekanan yang cukup pada waktu pengucapannya, sehingga tidak ada yang luput dari perhatian. Kesalahan terjadi pada pembicaraan verbal.

B. Kesesatan Yang Bersifat Materiil
1. Kesesatan Aksidensia
Aksidensia adalah hal-hal yang ditambahkan ke dalam hal ang substansial (hakikat). Aristoteles dengan teori 10 kategorialnya, mengajarkan tentang 1 substansi dan 9 aksidensia bagi semua yang "ada".
Kesesatan ini biasa terjadi karena orang mengira bahwa apa yagn dianggap benar dalam substansi itu, juga benar dalam aksidensinya atau sifat-sifastnya, maupun keadaan-keadaan yang eksistensinya secara kebetulan (aksidensi). Sedangkan setiap subyek tertenu itu mempunyai cirri-ciri khusus yang telah menjadi kodratnya sejak adanya eksistensi diri dan yang membedakannya dengan subyek lain.
2. Kesesatan sebaliknya tentang aksidensia
Ksesatan terjadi oleh karena kebenaran yang hanya kebetulan (aksidensia), dianggapnya sebagai hal yang kebenarannya substansial.
3. Kesesatan tentang Hal-hal yang Tidak Relevan
Kesesatan tentang hal-hal yang tidak relevan sering kali disengaja guna membangkitkan emosi atau mengalihkan perhatian seseorang ataupun sekelompok orang dari masalah yang dipersoalkan. Hal seperti ini sering dipergunakan untuk memperdayakan lawan bicara. Cara penyajiannya yang sering meyakinkan, tertapi faktanya justru sangat kabur ataupun bukan yang sedang dibahas. Keterpedayaan seseorang atau sekelompok orang itu karena memang sudah tidak tahu lagi bagaimana akan membantah suatu pernyataan.
Kesesatan itu dapat dibedakan atas : 
a. Argumentum Ad Hominem
(ditujukan kepada orangnya)
b. Argumentum Ad Populum
(ditujukan kepada masyarakat, guna mempengaruhi pendapat umum)
c. Argumentum Ad Mesericundiam
(belas kasihan)
d. Argumentum Ad Verecundiam
(menggunakan ketenaran seseorang untuk pembenaran argument)
e. Argumentum Ad Ignorantiam
(pembuktian tanpa dasar, tetapi lawan bicara juga tidak dapat membuktiakan sebaliknya).
f. Argumentum Ad Baculum
(berwujud suatu paksaan)
4. Kesesatan Berdasarkan Anggapan yang Tidak Benar
a. Kesesatan Karena Menganggap Bahwa Kebenarnnya telah terbukti
Sering pula disebut sebagi "petition principii" atau "fallacy of begging the question".
Ksesesatan ini terjadi oleh karena tidak memberi bukti yang seharusnya diterangkan dalam proses penalarannya. Pembicara hanya mengulang-ulangi pernyataannya itu dengan kata-kata lain yang sama artinya. Sangatlah disayangkan bahwa dengan demikian itu, ia yakin telah menciptakan kemajuan-kemajuan dalam penalaran.
b. Kesesatan karena sebab yang salah
Tidak jarang kesesatan ini sulit dibedakan dengan kesesatan dalam induksi, yang menyatakan "post hoc propter ohc". Post hoc propter artinya adalah sesuatu memang terjadi setelahnya, tetapi bukanlah sebagai akibatnya.
Kesesatan ini dapat terjadi, karena adanya anggapan, bahwa lebih dari satu peristiwa yang terjadi secara berturut-turut, lalau dianggap mempunyai hubungan sebab akibat.
c. Kesesatan atas dasar konsekuens ataupun atas dasar nonsequitur
Dalam pengertian yang luas, nonesequitur itu bisa diartikan suatu argumen non-selogisme. Suatu kesimpulan yang ditarik, tidak berdasarkan premis-premis, ataupun seandainya dari premis, namun premisnya tidak relevan. Meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa kesimpulan itu benar.
d. Kesesatan berdasarkan pertanyaan yang kompleks
Pengajuan pertanyaan yang kompleks dan bersifat pancingan, sehingga jawabnnya dapat mengandung salah satu pengakuan, atau juga mungkin dua-duanya sebagai pengakuan, yang sebenarnya hal itu tidak dikehendaki oleh yang ditanyai. Hal semacam itu sering kali dilakukan untuk merugikan dirinya dalam suatu pemeriksaan.
5. kegiatan Sologistik
a. Selogisme mensyaratkan bahwa hanya terdiri atas 3 term
b. Hukum ke-2 selogisme adalah bahwa Mid Term tidak masuk ke dalam konklusi
c. Term S dan P dalam konklusi, tidak boleh lebih luas wilayahnya daripada wilayah dalam premis
d. Term antara (Mid Term) itu sekurang-kurangnya 1 kali berwilayah Universal dalam kedua premis.
e. Dari premis afirmatif, tidak dapat begitu saja ditarik konklusi yang negative
f. Bila premis-premisnya sama-sama negative, maka tidak dapat ditarik konklusinya
g. Premisnya itu tidak dimungkinkan bila wilayahnya particular semua
 
KEMUNGKINAN KESESATAN PERPIKIR INDUKTIF

A. Kesesatan Dalam Pengamatan
1. Pengamatan yang tidak lengkap
Bahwa pengamatan yang telah dilakukan itu tidak lengkap memang besar sekali peluangnya, hal itu sering kali disebabkan karena terbatasnya waktu dan dana. Atau memang sengaja hanya memperhatikan hal-hal tertentu yang relevan saja.
2. Pengamatan yang tidak teliti
Sering kali para ilmuwan menghadapi jalan buntu dalam membenarkan cara kerja induktif yang akan diterapkan dalam ilmu pengetahuan itu.
Ketatnya logika deduktif dipakai oleh Popper untuk memperlihatkan cara kerja ilmu alam yang bentuk perjalanannya secara induktif. Dasarnya sederhana, yang dapat dicontohkan sebagai berikut :
Ada beberapa sebab mengapa pengamatan itu dapat disebut tidak teliti. Sebab-sebab ketidaktelitian itu diidentifikasi sebagai sebab kejiwaan, sebab indrawi, sebab alamiah sebagai obyek pengamatan, dan ditambah dengan pengotoran lapangan.

B. Kesesatan Dalam Penggolongan
1. Penggolongan yang tidak lengkap
2. Penggolongan yang tumpang tindih
3. Penggolongan yang campur aduk

C. Kesesatan Dalam Penentuan Hipotesis
1. Hipotesis yang meragukan 
Sebenarnya ada suatu keinginan bahwa di dalam menyusun hipotesis itu, kita memperoleh kebebasan sebesar-sebesarnya, namun bila tidak memperhatikan pedoman yang telah ditentukan, dapat mengakibatkan kekeliruan.
2. Hipotesis yang bertentangan dengan fakta
Hipotesis disusun sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi dan bukan spekulasi

D. Kesesatan-kesesatan Dalam Penentuan Sebab
1. Post Hoc Propter Hoc
Arti kalimat di atas itu adalah bahwa sesuatu itu memang terjadi setelahnya, tetapi tidak disebabkan olehnya. Hal itu menunjukkan bahwa tanpa ada panelitian yang cukup, kemudian dengan tergesa-gesa telah mengambil kesimpulan.
Sekalipun cara demikian itu banyak juga dilakukan, tetapi tetap merupakan kesesatan. Bila ada 2 peristiwa atau lebih terjadi secara berturut-turut maka tidak selamanya merupakan "sebab akibat" dan tidak selamanya mesti "memiliki hubungan".
2. Analisis yang tidak cukup Antedennya
Untuk mendukung suatu analisis agar mudah mendapat pengukuhan, haruslah dilakukan dengan menyebutkan anteseden-anteseden secara lengkap dan mereduksi factor-faktor yang tidak relevan. Bila tidak demikian maka kesimpulan yang diambil tidak akan merupakan akibat atau tidak ditarik dari antesedennya.
3. Analisis tanpa perbedaan-perbedaan
Bila membuat analisis tentan perbedaan-perbedaan tetapi justru tidak mengemukakan perbedaan-perbedaannya maka analisisnya tidak sah. Terutama bila menggunakan metode ataupun perbandingan.
4. Keseiringan untuk sementara yang kebetulan
Hal-hal yang terjadi secara seiring kali menimbulkan kesesatan dalam menafsirkan atau dalam usaha untuk memahaminya. Kesesatan ini oleh karena tergoda oleh metode berpikir sebab akibat.
5. Generalisasi yang tergesa-gesa
Kesesatan ini sebenarnya sederhana. Oleh karena hanya merupakan penyimpulan yang berkelebihan dari yang dapat dijamin oleh bukti yang diajukan. Mungkin catatan peristiwa atau faktanya belum tuntas tetapi telah menyusun kesimpulan secara final.

E. Kesesatan Analogi
Kesesatan dalam analogi itu banyak dilakukan oleh suku-suku primitive pada masa-masa silam. Mereka belum mampu membedakan secara tajam barang-barang yang satu dengan yang lainnya. Menurut logikanya, barang-barang yang serupa itu tidak ada satu sama lain.
Kesesatan itu akan tampak bila diterapkan penyusunan analogi tentang sifat-sifat manusia.

F. Kesesatan Dalam Statistik
1. Sampling yang tidak mewakili populasi
Bentuk generalisasi yang sangat tergesa-gesa dalam statistic adalah bentuk kesesatan utama. Kesesatan ini terjadi karena sampling yang diambil tidak mewakili populasi, sehingga generalisasinya juga tidak benar.
2. Penerapan gejala individual yang tidak bersifat umum
Kesesatan ini berwujud salah tafsir statistic yang lazimnya berlaku bagi oran awam.
3. Kepercayaan kepada statistic
Hasil perhitungan statistic merupakan suatu ketelitian dan kecermatan serta mengikuti metode analisis yang telah terbukti dan pasti. Stastik mempergunakan juga istilah-istilah tertentu seperti : mean, penyimpangan, korelasi yang dapat dipercaya dan pasti. Namun demikian statistic itu tidak dapat melepaskan diri dari probalitas dan kadar sebenarnya menunjukkan suatu derajat kemungkinan tertentu.
4. Kesesatan korelasi secara kebetulan
Kesesatan ini dapat terjadi, karena ada gejala korelasi sementara yang penyebabnya persamaan waktu ataupun persamaan kepentingan namun dipercaya sebagi sesuatu yang dianggap mempunyai korelasi riil.



MAKALAH AL-KINDI & IBNU SINA

MAKALAH AL-KINDI & IBNU SINA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Arti Penting Kedua Tokoh Untuk Dibahas Sebagai Materi Makalah.
Eksistensi tuhan dianggap sebagai syarat penting untuk mempercayai dan meyakini akan keesaan tuhan, seperti para filosof-filosof islam yang mencoba memberikan diskripsi ataupun pandangan terhadap eksistensi tuhan.
Eksistensi yang sebenarnya yang ada, tidak akan tidak ada untuk selamanya, bahkan ia selalu ada. Ia adalah pencipta yang maha kuasa, dan maha bijaksana. Para filosof islam mencoba mengkaitkan dengan keesaan akal dan keesaan tuhan. Seperti yang di angkat oleh Al-Kindi dan Ibnu Sina. Yang nantinya menjadi awal tersendiri bagi kemajemukan dan pemahaman para penganut agam di Indonesia khususnya islam di Indonesia. Hasil-hasil pemikiran tentang kemajuan tuhan yang di komparasikan dengan realita-realita yang ada, ”Esa adalah akal yang mengetahui dirinya”. Penting sekali kami menganut dua tokoh pemikir islam yang nantinya berguna untuk kita renungi bersama tentang pemikiran Al-Kindi dan Ibnu Sina untuk Indonesia sebagai benteng untuk memperkokoh keimanan akan eksistensi tuhan yang sebenarnya.

B. Biografi Kedua Tokoh Filsuf
a. Biografi Al-Kindi
Nama Al-Kindi adalah Nisbat pada suku yang menjadi asal cikal, yaitu Banu Kindah. Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah yang sejak dulu menempati daerah selatan Jazirah Arab yang tergolong memiliki apresiasi kebudayaan yang sukup tinggi.
Nama lengkap Abu Yusuf – Ya’Kub Ibnu Ishak Al-Sabbah, Ibnu Imron, Ibnu Al-Asha’ath, Ibnu Kays, Al-kindi. Beliau bisa disebut Ya’Kub, lahir pada tahun 185 H (801 M) di Kufah. orang tuanya bernama Ishaq As-shahbbah, Ishaq As-shahbbah adalah Gubernur di Kuffah pada masa Pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyid dari Bani Abbas. Ia seorang penganut M’tazilah dan kemudian belajar filsafat. Zaman dialah terjadi penerjemahan buku-buku Yunani kedalam Bahasa Arab dan diduga ia juga aktif menerjemahkan buku-buku tersebut, namun demikian, ia lebih banyak membuat kesimpulan dari terjemahan-terjemahan tersebut.

b. Biografi Ibnu Sina (Avicenna)
Nama lengkap (Avicenna) Ibnu Sina adalah Abu Ali Al-Hosain bin Abdullah Ibnu Sina, di Eropa dia lebih dikenal dengan nama Avicenna. Beliau lahir disebuah Desa, Desa Assyam, di daerah Bukhara pada tahun 340 H. yang bertepatan dengan tahun 980 M. Kelahiran beliau di tengah masa yang sedang kacau. Di mana kekuasaan Abbasyah mulai mundur dan negeri-negeri yang mula-mula berada dibawah kekuasaannya kini mulai melepaskan diri dan untuk berdiri sendiri. Avicenna adalah seorang filosof yang cerdas, jenius, pada umur 10 th sudah dapat menghafal Al-Qur’an. Dan dia pun juga sudah menguasai logika, matematika dan ilmu kedokteran.



BAB II
AJARAN KEDUA TOKOH

A. Ajaran Al-Kindi
Al-Kindi adalah filosof islam yang mempercayai kepada kemampuan akal unuk memperoleh pengetahuan yang benar, Al-Kindi berupaya mempertemukan ajaran-ajaran islam pada filsafat Yunani apalagi dalam masalah keesaan tuhan. Ia bependapat bahwa Allah Esa tak terbilang, sama sekali tidak menyamai lakhluknya, kekal tak akan fana. Ia adalah esa yang sebenarnya karena ia esa dengan sendirinya karena tidak mengambil keesaan-nya dari selain diri-nya. Dan esa karena bilangan yang tidak bisa menerima beberapa dan bagaimana, dan bersama-sama entitas-entitas (yang lain) tidak masuk kedalam klasifikasi Genus atau Spesies, ia adalah penggerak pertama yang tidak bergerak, sebab pertama yang tak bersebab dan eksistensi yang sebenarnya yang ada. Tidak akan tidak ada untuk selamanya, bahkan ia selalu ada. ia adalah pencipta yang maha kuasa dan maha bijak. Jadi Al-Kindi menetapakan bahwa Al-Ba’ri (tuhan) punya sifat-sifat zat, Af’al dan negasi, seperti yang si sebutkan di dalam asar dan apa yang di pegangi oleh Mu’tazilah tetapi ia mengembalikan semua itu kepada zat untuk menggemakan ide monoteisme. Karena sifat-sifat itu bukan sesuatu yang bisa dibedakan dan dipisahkan dari zat. Tuhan adalah wujud yang hak, ia ada dari semula dan ada pula untuk selama-lama-nya, tuhan adalah wujud yang sempurna, yang tidak didahului oleh wujud lain. Wujud-nya tidak berakhir dan tidak ada wujud selain dari pada-nya dan mustahil dia tidak ada. 
 Pembuktian ada-nya tuhan
1. Barunya alam
2. Keragaman dalam wujud
3. Kerapian alam
Tuhan dalam filsafat Al-Kindi tidaklah mempunyai hakikat dalam arti a’niyah maupun ma’hiyah, tuhan bukanlah benda, dan tidak temasuk benda yang ada dalam alam. Ia tidak tersusun dari materi dan bentuk, tuhan juga tidak mempunyai haikat dalam bentuk ma’hiyah. Karena tuhan tidak merupakan Genus atau Spesies. Tuhan tidak ada yang serupa dengan-nya, Ia adalah unik, ia adalah yang benar pertama.

a. Epistemologi
Al-Kindi menyebutkan adanya tiga macam pengethuan manusia. Yaitu: (a). Pengetahuan Inderawi, (b). Pengetahuan yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal yang disebut pengetahuan rasional dan (c). Pengetahuan yang di peroleh langsung dari tuhan yang di sebut pengetahuan Isyarat atau aluminatif.
1. Pengetahuan Inderawi
Pengetahuan Inderawi terjadi secara langsung ketika orang mengamati terhadap objek-objek material, kemudian dalam proses tenpa tenggang waktu dan tanpa berupaya berpindah ke imajinasi (musyawwirah), di teruskan ke tempat penampungannya yang di sebit hafizhah (pecollection). Pengetahuan yang di peroleh dengam jalan ini tidak tetap: Karena objek yang di amati pun tidak tetap. Selalu dalam keadaan menjadi, berubah setiap saat, bergerak, berlebih-berkurang kualitasnya dan berubah pula kualitasnya.
2. Pengetahuan Rasional
Pengetahuan tentang sesuatu yang di peroleh dari jalan mengunakan akal bersifat universal, tidak parsial, dan bersifat immaterial, objeck pengetahuan rasional bukan individu, tetapi Genus dan spesies, orang mengamati manusia sebagai yang berbadan tegak dengan dua kali, pendek, jengkung, semua ini akan menghasilkan pengetahuan inderawi. Tetapi orang yang mengamati manusia, menyelidiki hakekatnya sehingga sampai pada kesimpulanbahwa manusia adalah makhluk berfikir (rsional animal). Telah memperoleh pengetahuan rasional yang abstrak universal, mencakup semua individu manusia, manusia yang telah di tajrid (di pisahkan) dari yang inderawi tidak mempunyai gambar yang tertulis dalam perasaan.
Al-Kindi memperingatkan agar orang tidak metode yang di tempuh untuk memperoleh pengetahuan, karena setiap ilmu mempunyai metodenya sendiri yang sesuai dengan watakmya. Watak ilmulah yang menentukan metodenya sendiri. Adalah satu kesalahan jika menggunakan metode ilmu alam untuk matematiaka atau metafisika.
3. Pengetahuan Isyaraqi
Al-Kindi mengatakan bahwa pengetahuan inderawi saja tidak akan sampai pada pengetahuan rasional terbatas pada pengetahuan tenatng Genus dan Spesies. Banyak filosof yang membatasi jalan memperoleh pengetahuan pada dua macam jalan ini. Al-Kindi sebagaimana halnya banyak filosof Isyaraqi. Mengingatkan adanya jalan lain untuk memperoleh pengetahuan lewat jalan Isyaqi (Iluminasi). Yaitu pengetahuan yang langsung di peroleh dari pancaran nur Ilahi. Puncak dari jalan ini ialah yang di peroleh para Nabi untuk membawakan tentang ajaran-ajaran yang berasal dari wahyu kepada umatnya. Para Nabi memperoleh pengetahuan yang berasal dari wahyu tuhan tanpa upaya, tanpa pengetahuan mereka terjadi atas kehendak tuhan semata-mata, tuhan mensucikan mereka dan di terangkan-nya pula jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran memperoleh jalan wahyu. Pengetahuan dari jalan wahyu ini merupakan kekuasaan bagi para Nabi yang membedakan dengan manusia-manusia lainnya. Karena pengetahuan itu memang ada pada saat manusia biasa tidak mampu mengusahakannya. Karena hal itu memang di luar kemampuan manusia. Bagi manusia tidak ada jalan lain kecuali menerima dengan penuh ketaatan dan ketundukan terhadap kehendaknya. Membenarkan semua yang di bawa Nabi.
4. Metafisika
Sebagaimana telah di sebutkan di muka, Al-Kindi mengatakan bahwa filsafat yang tertinggi martabat-nya adalah filsafat pertama yang membicarakan tentang Causa Prima. Filsafat metafisika Al-Kindi di tulis dalam beberapa makalahnya. Khususnya dalam dua makalah yaitu tentang filsafat, pertama dan tentang ke esaan tuhan dan berakhirnya alam. Dalam dua makalah ini Al-Kindi membahas dengan panjang lebar tentang hakikat tuhan dan sifat-sifat tuhan.
Tentang hakikat tuhan, Al-Kindi mengatakan bahwa tuhan adalah wujud yang haq (sebenarnya) yang tidak pernah tiada sebelum-nya dan tidak akan pernah tiada selama-lama-nya, tuhan adalah wujud sempurna yang tidak pernah di dahului wujud lain. dan wujudnya tidak akan pernah berakhir serta tidak ada wujud lain melainkan perantaranya.
Untuk membuktikan tentang wujud tuhan, Al-Kindi berpijak pada adanya gerak, keanekaan, dan keteraturan alam sebagaimana argumentasi yang sering di kemukakan oleh filosof Yunani.
Sehubunga dengan dalil gerak, Al-Kindi mengajukan pertanyaan sekaligus memberikan jawaban-nya dalam ungkapan berikut:
”ungkinkah sesuatu menjadi sebab adanya adanya sendiri, ataukah hal itu tidak mungkin? Jawaban-nya: Yang demikian itu tidak mungkin, dengan demikian, alam ini adalah baru, ada permulaan dalam waktu, demikian pula alam ini ada akhirnya, oleh karena-nya alam ini harus ada yang menciptakannya. Dari segi filsafat, argument Al-Kindi itu sejalan dengan argument Aristoteles tentang Causa Prima dan penggerak pertama. Penggerak yang tidak bergerak. Dari segi agama, argument Al-Kindi itu sejalan dengan argument ilmu Kalam. Alam berubah-ubah, semua yang berubah-ubah adalah baru. Maka alam adalah ciptaan yang mengharuskan ada penciptaan-nya. Yang menciptakan dari tiada.
Tentang dalil kealam wujud, Al-Kindi mengatakan bahwa tidak mungkin keanekaan alam wujud ini tanpa ada kesatuan. Demikian pula sebaiknya tidak mungkin ada kesatuan tanpa keanekaan alam inderawi atau yang dapat di pandang sebagai inderawi, karena dalam wujud semuanya mempunyai kesamaan keanekaan dan kesatuan. Maka sudah pastilah hal ini terjadi karena ada sebab. Bukan karena kebetulan, dan sebab ini bukan alam wujuad yang mempunyai persamaan dan kebenaran dan keseragaman Itu sendiri. Jika tidak demikian akan terjadi hubungan sebab-akibat yang tidak berkesudahan, dan hal ini tidak mungkin terjadi, oleh karenya, sebab itu adalah di luar wujud itu sendiri. Eksistensinya lebih tinggi, lebih mulia. Dan lebih dulu adanya. Sebab ini tidak lain adalah tuhan. Mengenai dalil keteraturan alam wujud sebagai bukti adanya tuhan. Al-Kindi mengatakan bahwa keteraturan alam inderawi tidak mungkin terjadi kecuali dengan adanya dzat yang tidak terlihat, dan dzat yang tidak terlihat itu tidak mungkin di ketahui adanya kecuali dengan adanya keteraturan dan bekas-bekas yang menunjukkan adanya yang terdapat dalam alam ini. Argument demikian ini di sebut argument teologik yang pernah juga di gunakan Aristoteles, tetapi juga bisa diperoleh dari adanya ayat-ayat Al-Qu’an.
Tentang sifat-sifat tuhan, Al-Kindi berpendirian seperti golongan meu’tazilah, yang menonjolkan ke esaan sebagai satu-satu-nya sifat tuhan.
B. Etika 
Filsafat adalah upaya meneladani perbuatan-perbuatan tuhan sejauh dapat dijangkau oleh kemampuan manusia, yang dimaksud dengan definisi adalah agar manusia memiliki keutamaan yang sempurna. Filsafat di berikan definisi juga sebadai latihan untuk mati. Yang dimaksud ialah mematikan hawa nafsu, mematikan hawa adalah jalan untuk memperoleh keutamaan, kenikmata,. Hidup lahiriyah adalah keburukan. Bekerja untuk memperoleh kenikmatan lahiriyah berarti meninggalkan penggunaan akal.
Pertanyaan yang dapat di ajukan ialah bagaimana cara untuk memnjadi manusia yang memiliki keutamaan yang sempurna itu, bagaimana cara untuk mematikan hawa nafsu agar dapat mencapai keutamaan itu. Jawabanya ialah: ketahuilah keutamaan ada bertingkah lakulah sesuai tuntutan keutamaan itu. Al-Kindi berpendapat bahwa keutamaan manusiawi tidak lain adalah budi pekerti manusiawi yang terpuji, keutamaan ini kemudian di bagi menjadi tiga bagian. Pertama merupakan asas dalam jiwa. tetapi bukan asas yang negatif, yaitu pengetahuan dan perbuatan (ilmu dan amal). Bagian ini di bagi menjadi tiga pula. Yaitu kebijaksanaan (hikmah), keberanian (saja’ah), dan kesucian (iffah). Kebijaksanaan adalah keutamaan daya pikir, yang kebijaksaan teoritis ialah mengetahui segala sesuatu yang bersifat universal secara hakiki dan kebijaksanaan praksis ialah menggunakan kenyataan-kenyataan yang wajib dipergunakan keberanian merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa yang memandang ringan kepada kematian untuk mencapai dan menolak sesuatu yang memang harus di tolak, kesucian adalah memperolah sesuatu yang memang harus di perolah guna mendidik dan memelihara badan serta manahan diri dari yang tidak di perlukan untuk itu.

C. Ajaran Avicenna
Ibnu Sina tentang wujud, sebagaimana para filosof muslim terdahulu, dari tuhanlah kemaujudan yang mesti mengalir intelegensi pertama, sendirian karena dari yang tunggal. Yang mutlak, sesuatu dapat terwujud tetapi sifat intelegensi pertama itu tidak dapat selamanya mutlak satu. Karena ia bukan ada dengan sendirinya, ia hanya mungkin dan hanya kemungkinan-nya itu di wujudkan oleh tuhan. 
Ibnu Sina tidak banyak keluar dari gairis ini, karena baginya Allah adalah sesuatu yang harus ada dengan sendirinya (Al-Wajib Bizatin), tidak ada sesuatu apapun juga yang menyekutui-nya dalam substansinya, karena ia tidak memiliki tandingan maupun lawan. Genus Differensia maupun batasan, ia mengetahui segala sesuatu dari segi adanya sesutu itu di dalam rangkaian umum sistem alam. Sebab ia mengetahui hal-hal universal dan partikular. Mengerahui segala sesuatu karena segala sesuatu yang ada di alam ini bertumpu pada-nya.  
Hanya tuhan saja yang memiliki wujud tunggal secara mutlak, sedang segala sesuatu yang lain memiliki kuadrat mendua karena ketunggalan-nya. Maka apakah tuhan itu dan kenyataan bahwa ia ada, bukanlah dua unsur dalam satu wujud tetapi satu unsur atomik dalam wujud yang tunggal. Tentang apakah tuhan itu, hakikat dia adalah identik dengan eksistensi-nya. Hal ini bukan merupakan merupkan kejadian bagi wujud lainnya. Karena tidak ada kejadian lain yang eksistensi-nya identik dengan esensi-nya. Adanya tuhan adalah suatu keniscayaan, sedang adana sesuatu yang lain hanya mungkin dan diturunkan oleh adanya tuhan dan dugaan bahwa tuhan itu tidak ada mengandung kontradiksi, karena dengan demikian yang lainpun juga tidak akan ada.  
Argumentasi kosmologi yang di dasarkan pada doktrin Aristoteles tentang sebab ertama, akan sisa-sisa dalam pembuktian tuhan, meskipun demikian Ibnu Sina tidak memiliki untuk membangun argument ontologis.

Essensi dan wujud dapat mempunyai dua kombinasi.
1. Essensi yang tak dapat mempunyai dua kombinasi disebut oleh Ibnu Sina mumtani: Yaitu sesuatu yang mustahil berwujud (impossible being).
2. Essensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud, yang serupa itu disebut mumkin, yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud, contohnya adalah alam ini yang pada mulanya tidak ada kemudian ada dan akhirnya hancur menjadi tidak ada.
Essensi yang tak boleh tidak mesti mempunyai wujud, disini essensi tidak bisa di pisahkan dari wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu, disini essensi tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian berwujud. Sebagaimana halnya dengan essensi dalam kategori kedua, tetapi essensi mesti dan wajib mempunyai wujud selama-lamanya. Yang serupa ini di sebut mesti berwujud, yaitu tuhan, wajib Al-Wujud inilah yang mewujudkan Al-Wujud.
Ajaran Avicenna yang juga perlu dikupas lebih mendalam yaitu pendapat beliau mengenai jiwa manusia dan mengenai nabi dan kenabian
Jiwa Manusia
Jiwa itu diwujudkan ketika muncul tubuh yang siap dan sanggup menerimanya. Jiwa itulah yang menjadi sebab hidup, penggerak dan pengendali tubuh. Sebagai bukti adanya jiwa pada manusia Ibnu Sina berpendapat; “wahai anda yang berpikir, perhatikanlah bahwa anda yang sekarang berada dalam diri adalah dia yang telah ada sepanjang usia anda sehingga anda dapat mengingat banyak hal dari hal ihwal anda.
Nabi dan Kenabian
Ibnu Sina juga menjelaskan secara khusus mengenai kenabian dalam Risalah fi Isbat an-Nubuwwah bahwa terdapat perbedaan keutamaan pada seganap wujud. Ibnu Sina juga menegaskan bahwa pada nabi, yang akal teoritisnya beraktual sempurna secara langsung, lebih utama dari mereka (para filsuf) yang akal teoritisnya berkembang secara tidak langsung yaitu dengan jalan perantaraan seperti latihan dan belajar keras. 


BAB III
KELEBIHAN MASING-MASING TOKOH

A. Kelebihan Dan Kekurangan (Al-Kindi)
1. Kelebihan 
Karangan-karangan Al-Kindi mengenai filsafat menunjukkan ketelitian dan kecermatannya dalam memberikan batasan-batasan makna istilah-istilah yang dipergunakan dalam terminologi filsafat. Selain kemampuan-nya dalam menerjemahkan filsafat Yunani, Al-Kindi juga berani membantah filosof-filosof barat yang tidak sejalan dengan ajaran islam yang di peluknya, apalagi dalam masalah-masalah ketuhanan yang sering menimbulkan kontradiktif. Filsafat Al-Kindi mempunyai hal yang sangat penting selain filsafat bagus juga menjadi pijakan awal filosof sesudahnya.
2. Kekurangan
Karya-karya Al-Kindi kebanyakan hanya berupa makalah-makalah pendek yang di nilai kurang mendalam di bandingkan dengan tulisan Ibnu Sina. Al-Farabi, sehingga karya-karya Al-Kindi sangat sulit di pahami karena banyak keterputusan dari makalah yang satu dengan yang lain.



B. Kelebihan dan Kekurangan (Avicenna).
1. Kelebihan
Ibnu Sina meskipun di sebutkan oleh kegiatan politik namun, karena kecerdasan-nya menyebabkan ia mampu menulis beberapa buku. Karena ia pandai mengatur waktu dalam aktifitas, politik, mengajar dan mengarang. Ajaran-ajaran Avicenna sangat mengenak pada para-para pelajar di karenakan hasil pemikirannya mempunyai nilai plus apalagi dalam masalah ketuhanan semuanya tidak keluar dari real-real ajaran islam walaupun di komparasikan dengan logika. Yang akhirnya mempunyai komparasi yang sinergis dari filsafat logika dan ajaran islam.
2. Kelemahan
Dari filsafat Avicenna yang note beni membicarakan masalah ketuhanan ternyata banyak di pengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Aristoteles, khususnya Maqa’lah Al-Lam dari buku metafisika-nya. Beliau mengambil banyak pendapat Aristoteles dan menulang –ulang sebagian dari pernyataan-nya. Seperti yang Esa adalah akal yang mengetahui diri-nya padahal dalam hal ini Aristoteles lebih mendahului mereka.


BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari beberapa uraian diatas, kami dapat menyimpulkan tetang eksistensi tuhan yang di deskripsikan oleh kedua tokoh filsafat islam diatas, bahwa Allah Esa tak terbilang sama sekali tidak menyamai makhluknya, kekal dan tak akan fana’, ia adalah esa dengan sendirinya karena tidak mengambil ke esaan-nya dari selain diri-nya. Dan esa karena bilangan yang tidak bisa menerima selain beberapa dan bagaimana, dan bersama-sama entitas lain, tidak masuk ke dalam klasifikasi Genur atau Spesies. Dengan adanya ke esaan tuhan, semoga menjadi pandangan yang lebih spesifik tentang eksistensi Allah dan lebih memantapkan keyakinan kita bersama amien.

B. RELEFANSINYA BAGI BANGSA INDONESIA
Dalam keanekaragaman serta kemajemukan yang ada di Indonesia menjadi kendala tersendiri tentang keyakianan adanya tuhan yang menjadikan banyak perbedaan dalam menafsirkan-nya. Namun, dengan hadirnya filosof-filosof islam yang memberikan sumbangsih tersendiri bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi masyarakat pemeluk agama islam. Pemikiran-pemikiran Al-Kindi dan Ibnu Sina mempunyai relefansi tersendiri bagi bangsa Indonesia, selain lebih menunjang kepada fokus masalah ketuhanan yang bisa menjadi pegangan dan sanggahan-sanggahan langsung yang mencoba memantapkan pemahaman islam terhadap eksistensi tuhan yang diyakini oleh umat islam di Indonesia. Islam yang sangat mempercayai ke tunggalan tuhan adalah senada dengan ajaran-ajaran para filosof di atas yang mencoba mengkomparasikan dengan akal dan bukti-bukti yang menunjukkan realita yang nyata. Yakni dengan adanya alam dan lain sebagai-nya, semoga pemikiran-pemikiran filosof di atas memberikan sesuatu yang lebih bermakna dan berguna bagi bangsa Indonesia pada umumnya dan bagi umat islam pada khusus-nya yang ada di Indonesi amien.


DAFTAR PUSTAKA

  Dr. Juhaya, S Praja. Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Bandung, Penerbit Yayasan Piara. 1997
  Jujun, S Suria Sumantri, Ilmu dan Perspektif, Jakarta, Yaasan Obor Indonesia, 1997.
  Dr. P Hardono, Hadi, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, Bandung, Kanesius. 1994.
  Drs. H.A. Mustofa, Filsafat Islam, Bandung, Penerbit Pustaka Setia, 1997.
  Dr. Ibrahim Madkur, Aliran dan Teori Filsafat Islam. Sinar Grafika Offset,
  Al-Farabi, Al-Samrah, Leiden: 1895.


HERMENEUTIKA SEBUAH PENGANTAR

HERMENEUTIKA 
SEBUAH PENGANTAR
By: Syamsul Hadi


Kata Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermenuein, harmenus yang berarti penafsiran, ungkapan, pemeberitahuan, terjemah. Ia diambil dari kata hermes, utusan para dewa dalam mitologi Yunani. Meskipun ia sendiri adalah dewa yang mempunyai peran sebagaimana dewa Mesir kuno Theth (dewa kata). Kalau dicermati lebih dalam, sebetulnya kedua dewa ini mempunyai peran yang berbeda. Dewa Theth kata-katanya bersifat naratif sedangkan Hermes bersifat formatif ilustraif. Agaknya perpaduan ini merupakan keharusan, karena makna suatu mitos terbentuk dari narasi dan forma. 
Theth disebut juga juru tulis para dewa, dewa tulisan, pencipta pena dan tinta, penutur agung, penguasa tulisan dari Mesir. Ia juga kata pemula yang menyebabkan alam ini ada. Di samping itu ia berperan sebagai jaksa di pengadilan akhir hayat. Secara singkat bisa dikatakan bahwa Theth adalah symbol dari kata, kata pencipta, pengatur, pemusnah alam ini sekaligus juga yang berperan mengadili. Dan karakteristik kata ini adalah samar, tidak akan pernah jelas. Sebab dengan kesamaran itu kehidupan bisa dinamis dan abadi. 
Adapun Hermes adalah dewa kata yang fasih. Ia putra Zeus dan Maya. Ia adalah kata-kata yang menjadi penghubung (komunikasi) antar manusia dan manusia dengan suatu tempat. Perkataan gaya Hermes adalah perkataan yng berputar-putar antara kebenaran dan kebohongan. Hermes memang bersumpah untuk tidak berdusta meskipun ada catatan iapun tidak berjanji bisa mengungkapkan kebenaran secara sempurna. 
Dengan demikian, hermeneutika ala mitologi Yunani adalah upaya mendapatkan kebenaran hakiki melalui ucapan-ucapan Hermes yang sifatnya sangat terbatas (tidak mutlak kebenarannya). 
Berikut ini penulis akan memaparkan secara singkat perjalanan hermeneutika. 

Abad Pertengahan 
Pada masa ini terjadi perpindahan lapangan penafsiran teks dari humeira (injil Yunani) ke penafsiran injil-injil Romawi. Para penafsir juga mulai meletakkan pedoman-pedoman, kaidah-kidah unuk memahami kitab suci, yaitu berpegang pada tekstualitas, tujuan moral dan kandungan arti spiritual. Augustin membagi arti-arti yang dicari oleh para penafsir dari kitab suci menjadi 4 yaitu ari tekstual, tujuan moral, arti simbolik dan penafsiran yang tersembunyi. Dan ketika Martin Luther menampilakn corak penafsiran barunya dalam gerakan reformasi agama bermuncullah karya-karya seputar kaidah-kaidah penfsiran. Pada tahun 1654 mulai muncul karya yang menyebut kata hermeneutika yaitu Hermeneutika sacra sive Methodus exponent darum sacarum literum (penafsiran kitab suci atau metode penjelasan teks-teks kitab suci) karya Dannhauuer. Dan pada abad XVIII corak penafsiran kitab suci bertumpu pada filologi. 

Schleler Marcher ( w 1843 ) 
Oleh Schleler Marcher, hermeneutika dibawa dari obyek wilayah ketuhanan (kitab suci) ke wilayah ilmu-ilmu pengetahuan (teks secara umum). Hal ini karena pada masanya terjadi reaksi keras terhadap faham Hegel yang menfsirkan teks sebagai penjelmaan yang Maha Kuasa di satu sisi dan faham Feurbagh yang berpandangan bahwa teks keagamaan tidak lain adalah bentuk alianasi manusia di sisi lain. Bagi marcher, yang penting bukan Hegel atau Feurbagh, tapi bagaimana memahami teks keagamaan tersebut. Sebagaimana teks-teks yang lain. Dalam menafsiri teks ia tidak mencukupkan pada pendekatan filologi saja, tapi dilengkapi dengan pendekatan psikologi dan sejarah. Secara garis besar ada 2 dasar yang ditawarkan Marcher dalam menafsiri teks : 
- Langkah-langkah penafsiran (hermeneutika) terhadap teks. Dan langkah ini ada dua cara, pertama intuitif struktural yang mendasarkan pada arti keseluruhan teks. Kedua adalah gramatikal historis, analitis, komparatif yang digunakan untuk mengkaji lebih dalam komponen-komponen teks 
- Landasan pemahaman bahwa teks adalah sarana komunikasi antara penulis (pembuat teks) dan pembaca (penafsir teks) di satu sisi, dan di sisi lain adalah karakteristik dari pembuat teks itu sendiri. Dengan demikian, penafsiran hermeneutik adalah upaya untuk berpadu, menyatu rasa dengan pembuat teks dan mengira-ngira maksud dan tujuannya di satu sisi. Dan di sisi lain adalah analisa mendalam terhadap teks itu dari segi gramatika, sejarah yang dengan demikian pembaca (penafsiran) mempunyai otoritas luas untuk menafsirkan teks tersebut. 

Dilthey (1833 – 1911) 
Kalau Schleler Marcher tantangannya adalah Hegelisme dan Feurbaghisme, maka Dilthey adalah ilmu Fisika di satu sisi dan filsafat idealisme di sisi lain. Masa Dilthey disebut sebagai masa filsafat positivisme, yang mendasarkan kebenaran pada eksperimen dan rumus-rumus fisika. Para pengusung positivisme mencela ilmu-ilmu humaniora, karena tidak adanya kepastian rumus-rumus dan kaidah-kaidah. Dan Dilthey menjawab bahwa ilmu fisika dan humaniora mempunyai perbedaan obyek, tujuan dan penggarapan. Obyek ilmu fisika adalah alam, sesuatu yang ada di luar manusia. Sementara humaniora obyeknya adalah manusia itu sendiri. Dan oleh karena itu, manusia adalah pengkaji dan obyek sekaligus. Sedangkan tujuan dari ilmu fisika adalah menguasai alam sementara humaniora adalah upaya memahami manusia. Dengan demikian, hermeneutika lebih dekat dengat humaniora. Dan hermeneutika ala Dilthey adalah penafsiran yang mendalam terhadap teks dan bukan sekedar eksperimen atau pencarian sebab-sebab kemunculan teks. 
Heidegger (1889 – 1976) 
Bersama Heidegger, hermeneutika mengalami lompatan besar sebab ia mengaitkannya dengan filsafat yang dalam hal ini adalah fenomenologi. Keterkaitan ni tidak berarti obyek kajian hermeneutika adalah hal-hal yang lahiriah atau kulit kalimat. Tapi konsentrasinya justru pada perspektif kesadaran individu terhadap fenomena itu. Dan ketika obyek kajian hermeneutika adalah bahasa, sedangkan fenomenologi adalah alam maka dengan cerdas Heidegger menjelaskan bahwa bahasa adalah ekspresi dari alam. Dan oleh karena itu, penafsiran teks adalah penafsiran terhadap alam. Fungsi penafsiran teks adalah (ber)fungsinya kesadaran- kesadaran terhadap alam. Dan penafsiran teks adalah membaca bahasa alam, mendengar suaranya seakan-akan ia menjelma di hadapan penafsir. 
Heidegger menegaskan bahwa penafsiran dengan cara ini (dengan hermeneutika) memang memunculkan beragamnya penafsiran, sebab : 
- Penafsiran hermeneutik adalah pengalaman ontologis (upaya pencarian wujud dan hakikat sesuatu). Padahal keberadaan hakikat tersebut adalah antara ada dan tiada, kesamaran dan kejelasan. Dan oleh karena itu, penafsiran hermeneutik –dengan tujuan seperti ini- harus dilakukan terus-menerus. Artinya tidak bisa diklaim bahwa suatu bentuk atau tahapan penafsiran telah menemukan hakikatnya. 
- Penafsiran hermeneutik adalah penafsiran historis. Artinya pertama ia muncul pada satu titik dari rangkaian kesejarahan dan terpengaruh oleh kejadian sejarah itu. Kedua pemahaman-pemahaman yang kita daptkan dari sejarah (kejadian) senantiasa mempengaruhi pemahaman kita terhadap teks. 
- Hakikat sesuatu jauh melampaui kesadaran kita, lebih panjang dari pada usia dunia, lebih komplek dari pada potongan sejarah di mana kita hidup. Dan oleh karena itu kesadaran akan sejarah (realitas) harus dilakukan terus menerus. 

Gadammer (1900 - ) 
Teori Gadammer tentang hermeneutika melalui pendekatan seni. Ia mengatakan :" Ketika kita menemukan karya seni dengan ciri khas keindahannya bukan wujud lahirnya . Kita akan merasa bertambah asing. Sebab karya seni berkaitan dengan kenyataan (wujud karya seni tersebut) dan persepsi banyak orang sementara itu kita sendiri secara prbadi sulit untuk menerimanya ". Menanggapi kepelikan semacam ini, Gadammer menawarkan teori dekomparasi keindahan yang artinya kelangsungan nilai seni. Suatu pemahaman bahwa karya seni (yang dibuat di masa lalu) mempunyai sifat berkembang, aktual sampai pada masa kini. Dan dengan hermeneutika hal tersebut bisa diatasi melaui pemahaman, penafsiran dan dialog. Penafsir dengan cara ini melakukan pengembaraan untuk menemukan keserasian antara si penafsir tersebut dengan obyek (teks). Keserasian ini tidak berarti penafsir tergantung pada teks tapi maksudnya si penafsir membuka diri untuk berdialog dengan yang lain. Meskipun Gadammer menekankan pada hakikat dan kandungan nilai karya seni, ia tidak menafikan bentuk lahir. Sebab bentuk lahir merupakan media yang memungkinkan penafsir (dalam hal ini pengamat seni) melalui eksperimen-eksperimennnya yang terus menerus- bisa mendapatkan suatu makna yang pasti. Demikian juga dengan adanya bentuk lahir, generasi mendatang bisa turut memberikan apresiasi terhadap karya seni tersebut. Dengan kata lain, keberadaan wujud luar mempunyai kekuatan yang dinamis, dalam arti karya seni tidak hanya dilihat dari sisi keindahan belaka, tapi juga makna terdalam yang terkandung. Juga beragamnya apresiasi, pemahaman menjadi lestari tidak akan berhenti pada satu tahapan atau orang penafsir tertentu. 
Secara garis besar bisa dikatakan bahwa Gadammer –dalam hermeneutika- menawarkan tiga poros yaitu penulis (pencipta teks/sejarah/seni), penafsir dan teks dalam pengertian umum. Si penafsir bergerak merambah dari pemahaman yang ada menjelang kemunculan teks, beragamnya arti sepanjang sejarah sampai pada arti di mana penafsir hidup, dan dari penafsir mencoba menyatu rasa dengan penulis (pembuat teks). Dengan demikian, penafsiran hermeneutik adalah penafsiran yang terus menerus dan berputar-putar antara penafsir, teks dan pembuat teks. 

Jauss 
Jauss sebagaimana Gadammer juga menawarkan teori dialog. Ia mempunyai 3 macam bentuk dialog pertama dialog dengan para pembaca (penafsir) teks. Kedua dialog antar teks, yaitu teks yang sedang dikaji penafsir dengan teks-teks yang lain. Ketiga dialog antara teks puitis dan teks biasa (prosa). Bagi Jauss kemunculan bahasa bukan dari interaksi individu dengan obyek, tapi interaksi antara individu dengan individu yang lain. Dan pengertian "faham" bukan monologis ( bagaimana kita memahami suatu obyek) tapi dialogis (sharing pengertian antara individu dengan individu lain terhadap suatu obyek). Dan dengan demikian, di hadapan teks kita tidak dalam posisi tersandera tapi justru sebagai tuan yang mempunyai otoritas untuk menguasai teks. 

Paul Ricoeur 
Sebagaimana Michael Faucoult dan Jack Derrida, pengaruh ricoeur tidak hanya pada bidang sastra dan filsafat saja. Tapi merambah ke sejarah, agama, politik, mitologi, ideology dan lain-lain. Demikian juga ia juga berdialog, berinteraksi dengan disiplin-disipli ilmu lain seperti faham-faham filsafat, psikologi, sosial. Bagi Ricoeur hermeneutika bukanlah metode yang bertentangan dengan disiplin ilmu lain tapi justru sebagai penyerap, pengkritik dan bisa membuat ilmu-ilmu lain menjadi jaya. Bersama analisa psikologik misalnya kita dalam menafsirkan suatu teks berangkat dari pemahaman awal, keadaan alam bawah sadar kita yang tersembunyi di balik fenomena. Suatu keadaan di mana kita belum terpengaruh oleh fenomena di luar kita. Dan dengan analisa fenomenologik penafsir hermeneutik menunjukkan bagaimana super ego kita memahami fenomena (teks) di hadapan kita. Hermenutika dalam menafsiri fenomena melalui 2 media, yaitu simbol dan kesadaran. Kesadaran dalam Hermeneutika bukan hal yang mutlak tapi penting. Sebab hermeneutika memandang kesadaran adalah palsu pada mulanya. Dan oleh karena itu harus dilanjutkan dengan memikirkan, memahami simbol-simbol dan dilakukan terus-menerus supaya teruji dan kepalsuan itu relatif berkurang. Puncak kesadaran yang dicapai hermeneutic bukan pengetahuan (kebenaran) yang mutlak tapi upaya yang terus menerus dan terus menyisakan pemahaman yang baru lagi. 
Berbeda dengan fenomenologi Herschell dan Cogito Decart, Riceour memandang bahwa hakikat sesuatu tidak diperoleh dengan bagaimana fenomena itu menampakkan pada kita, atau hanya dengan sekedar memikirkannya, tapi bagaimana kita membaca, memahami symbol-simbol dari sesuatu tersebut. Dengan demikian, dalam hermenutika (penafsiran teks) Ricouer tidak mengesampingkan symbol dan struktur teks tersebut. Meskipun demikian, struktur menurutya hanya satu tahapan dari tahapan hermeneutika. Struktur hanya pembuka dari upaya penafsiran hermeneutic. Teks tidak bisa dipahami secara sempurna dengan teori strukturalisme sebagus apapun teori itu. Dengan demikian, struktur bukan puncak dari penafsiran hermeneutic tapi hanya tahapan awal. 
Berkait dengan semiotika, Ricouer menganggap bahwa penafsiran teks harus bergerak dari keasadaran penuh akan tahapan semiotic (simbol) suatu teks menuju tahapan bahwa teks tersebut mempunyai arti dan kandungan makna. Kalau semiotika bercirikan teks yang formil dan sederhana, maka hermeneutika lebih jauh dan lebih dalam dari pada itu, yaitu kedalaman makna. 
Dan kalau dekonstruksi Michel Foucoult memporak porandakan makna suatu teks, maka hermenutika justru mencari nilai terdalam yang terkandung dalam teks. Relativitas teks bukan pada factor yang menyebabkan berbedanya arti dalam suatu teks, tapi pada upaya unifikasi makna mengingat perbedaan pengalaman dan faktor-faktor lain. 

Karakteristik Metode Hermeneutika 
Dari uraian singkat di atas penulis mencoba meringkas beberapa karakteristik dari metode panafsiran yang sekarang lagi marak : 
1. Metode hermeneutika adalah metode penafsiran teks atau penafsiran kalimat sebagai symbol. Materi pembahasannya meliputi dua sector yaitu pertama perenungan filsofis tentang dasar-dasar dan syarat-syarat konstruksi pemahaman. Kedua pemahaman dan penafsiran teks itu sndiri melalui media bahasa. 
2. Metode hermeneutika adalah metode yang mendasarkan pada pengkompromian filsafat dan kritik sastra. Memahami teks sastra, seni, agama atau sejarah adalah paya memahami realitas melalui bahasa atau bentuk keindahan. Keberadaan bentuk ini menjadikan proses pemahaman menjadi mungkin, fleksibel dan lestari. 
3. Kalau boleh dikatakan bahwa kritik sastra bersifat normatif dan deskriptif maka metode hermeneutik adalah metode pamungkas. Sebab yang di capai oleh hermeneutic adalah makna terdalam atau nilai dari suatu teks. Dan nilai ini tidak berada di belakang teks tapi melanglang ke depan teks. Dengan demikian arti suatu teks menurut metode ini adalah berkelanjutan dan senantiasa baru. 
4. Metode hermeneutika adalah metode penafsiran individual tapi melebur dengan yang lain. Sebab metode ini mengkompromikan antara historis dan ahistoris, antara individu satu dengan individu yang lain, antara makna lahir dan makna yang tersembunyi. 
5. Metode hermeneutika mempunyai 2 ciri utama, yaitu optimis dan liberal. Maksudnya penafsir teks -dalam hermeneutika- tidak menganggap teks sebagai guru yang memenjarakan penafsir, tapi penafsir mempunyai otoritas untuk memperlakukan teks. Sementara itu, keoptimisan pe¬naf¬sir adalah karena ia prcaya ada nilai tersembunyi dalam kandungan teks. 
6. Metode hermeneutika bisa pula dikompromikan dengan ilmu fisika, sebab hermenutika mendasarkan pada : 
- Eksperimen terus menerus yang menjauhkan dari generalisasi sebagaimana pada teori standar¬i¬sa¬si –yang menerapkan pedoman-pedoman yang menyebabkan suatu teks bisa atau tidak bisa diterima ; atau pada strukturalisme – yang mengembalikan semua teks pada bingkai kaidah yang baku, atau pada dekonstruksisme –yang mengatakan bahwa semua teks tidak mempunyai makna atau nilai yang bisa diterima. 
- Intuisi pada hermeneutika bukan emosional bukan pula generalis. Tapi intuisi di sini adalah pertanyaan kritis terus menerus tentang kebenaran suatu teks. Atau dengan kata lain bahwa intuisi pada hermeneutika berawal dari dugaan-dugaan kasar menuju suatu keyakinan. 
- Kalau metode ilmiah mengungkap sesuatu dari ketidak tahuan, dan memperoleh kebenaran dari eksperimen. Maka metode hermeneutika tidak berangkat dari satu standar yang paten dan mempeoleh kebenaran dari eksperimen. Makna yang ingin dicapai oleh hermeneutic dari suatu teks bukan makna final. Setiap analisa Hermeneutic pada akhirnya selalu menyisakan pertanyaan-pertanyaan baru. Garapan Hermenutika jauh lebih luas dari pada si penafsir itu, tapi justru ini memacu penafsir untuk berlomba-lomba, bersungguh-sungguh untuk menemukan makna terdalam dari teks.


mohon ... klo udah baca posting kami, jangan lupaaaaaaaaaaaa kasi komentar yaaa .... n saran konstruktif ....................


thanks yaa atas komentar kaliaaannnnnnnnnnnnnnn !!!!!